Sudah Ada Sejak 1951, Kenapa THR Identik dengan Uang Baru?

2 hours ago 3

Kanthi Malikhah,  CNBC Indonesia

19 March 2026 16:15

Jakarta, CNBC Indonesia - Tunjangan Hari Raya (THR) sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Idul Fitri di Indonesia.

Selain identik dengan pemberian uang kepada keluarga dan kerabat, tradisi ini juga lekat dengan kebiasaan menukarkan uang lama menjadi uang baru sebelum dibagikan dalam amplop Lebaran.

Namun, seiring perkembangan teknologi, cara masyarakat membagikan THR kini mulai mengalami perubahan, termasuk melalui transfer digital dan dompet elektronik.

Kapan Tradisi THR ada di Indonesia?

Tradisi THR di Indonesia memiliki akar sejarah sejak awal masa kemerdekaan. Pada 1951, kabinet Perdana Menteri Soekiman Wirjosandjojo memberikan tunjangan menjelang Idul Fitri kepada pegawai negeri untuk membantu kebutuhan perayaan Lebaran.

Kebijakan tersebut kemudian memicu protes dari kalangan buruh swasta yang menuntut perlakuan serupa. Tekanan datang dari organisasi buruh seperti Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI) yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia.

Menanggapi tuntutan tersebut, pada 1954 pemerintah mulai mendorong perusahaan memberikan "Hadiah Lebaran" kepada pekerja.

Kebijakan itu kemudian berkembang dan pada akhirnya menjadi kewajiban bagi perusahaan untuk memberikan tunjangan hari raya kepada pekerja, yang hingga kini dikenal luas sebagai THR.

Kenapa THR Identik dengan Uang Baru?

Selain sebagai tunjangan bagi pekerja, di tingkat masyarakat THR berkembang menjadi tradisi berbagi uang kepada keluarga, terutama anak-anak. Banyak keluarga menganggap apresiasi kecil ini dapat memotivasi anak-anak untuk semangat beribadah selama bulan ramadan seperti puasa, membaca Al-Quran, dan shalat tarawih.

Uniknya, masyarakat sering menukarkan uang lama dengan pecahan uang baru untuk dibagikan saat Lebaran.

Fenomena ini bahkan memunculkan berbagai jasa penukaran uang baru menjelang hari raya. Banyak orang rela mengantre demi mendapatkan uang pecahan baru yang akan dimasukkan ke dalam amplop THR.

Menurut Pakar Antropologi Universitas Airlangga, Djoko Adi Prasetyo, kebiasaan tersebut tidak terlepas dari akar budaya yang lebih panjang.

Ia menjelaskan bahwa tradisi memberi uang saat Idul Fitri diyakini berasal dari praktik serupa di Timur Tengah yang kemudian diadopsi masyarakat Indonesia dan mengalami akulturasi dengan budaya lokal.

"Beberapa catatan sejarah Kerajaan Mataram Islam menunjukkan bahwa budaya ini sudah terjadi pada abad ke-16 hingga ke-18. Para raja dan bangsawan biasa memberikan uang baru kepada anak-anak para pengikutnya saat Idul Fitri sebagai bentuk rasa syukur setelah menjalani ibadah puasa," ujarnya seperti dikutip dari UNAIR News.

Ilustrasi Tunjangan Hari Raya. (CNBC Indonesia/Tias Budiarto)Foto: Ilustrasi Tunjangan Hari Raya. (CNBC Indonesia/Tias Budiarto)
Ilustrasi Tunjangan Hari Raya. (CNBC Indonesia/Tias Budiarto)

Menurutnya, pemberian uang baru juga memiliki makna simbolis, yakni melambangkan kesucian, kebersihan, serta ungkapan rasa syukur setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh.

Mulai Bergeser ke THR Digital

Seiring perkembangan teknologi keuangan, cara masyarakat membagikan THR kini mulai berubah.

Jika sebelumnya uang baru dalam amplop menjadi simbol utama Lebaran, kini sebagian orang mulai memberikan THR melalui transfer bank atau dompet digital. Bahkan, banyak anak muda yang secara bercanda menawarkan kode QR rekening mereka untuk dipindai oleh orang tua atau kerabat saat momen silaturahmi Lebaran.

Meski bentuknya berubah, Djoko menilai makna sosial dari tradisi tersebut tetap sama.

Menurutnya, THR tetap mencerminkan nilai kasih sayang, rasa hormat, kebanggaan karena dapat berbagi, serta ungkapan syukur kepada keluarga dan kerabat.

Ia juga menilai perubahan bentuk tradisi merupakan hal yang wajar dalam dinamika budaya.

"Kita juga harus paham bahwa budaya itu tidak abadi. Selama budaya itu masih ada masyarakat pendukungnya, maka budaya itu akan tetap lestari. Sebaliknya, jika masyarakat tidak lagi mendukungnya, maka budaya tersebut bisa terkikis bahkan menghilang," ujarnya.

Meski demikian, bagi banyak masyarakat Indonesia, sensasi menerima amplop berisi uang baru saat Lebaran tetap menjadi pengalaman khas yang sulit tergantikan, sekalipun era pembayaran digital semakin berkembang.

(mae/mae)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |