Amerika Pecah, Keputusan Trump Bisa Dikudeta

2 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Keputusan Presiden AS Donald Trump untuk membuka akses ekspor chip AI canggih H200 buatan Nvidia ke China memicu kontroversi. Perpecahan makin terlihat di internal pemangku kebijakan. Bahkan, ada kemungkinan perintah Trump 'dikudeta'.

Komite Luar Negeri DPR AS pada Rabu (21/1) waktu setempat mengusulkan aturan (RUU) yang akan memberikan kekuasaan bagi Kongres terkait lisensi ekspor chip AI buatan AS. Lembaga legislatif tersebut tak gentar, meski mendapat perlawanan dari Kepala AI Gedung Putih, David Sacks.

Rep. Brian Mast dari Florida yang mengepalai Komite Luar Negeri DPR AS sudah memperkenalkan RUU 'AI Overwatch Act' pada Desember 2025, setelah Trump memberikan lampu hijau untuk pengiriman chip H200 Nvidia ke China.

Sebagai informasi, chip H200 merupakan prosesor kedua tercanggih buatan Nvidia yang beredar di pasaran. Sebelumnya, H200 'diharamkan' beredar di China, tetapi Trump akhirnya melunak di akhir 2025.

Adapun RUU baru ini akan memberikan wewenang bagi Komite Luar Negeri DPR AS dan Komite Perbankan Senat AS untuk mengaji selama 30 hari sebelum chip buatan AS bisa diekspor ke China. RUU ini berpotensi memblokir lisensi ekspor chip AI dari AS ke China, meskipun sudah direstui Trump.

Namun, RUU dalam tahap pengajuan ini masih membutuhkan persetujuan dari DPR secara keseluruhan dan Senat.

Sebanyak 42 anggota komite telah memberikan voting untuk meneruskan aturan tersebut, dua anggota memberikan voting penolakan, sementara satu anggota bersikap netral.

"Jika kita berbicara terkait perang game di Xbox, Jensen Huang [CEO Nvidia] bisa menjual sebanyak apapun chip yang dia mau ke siapa saja," kata Mast sebelum voting digelar.

"Namun, ini bukan tentang anak-anak bermain Halo di televisi mereka. Ini tentang masa depan perang militer," ujarnya.

Nvidia tidak merespons permintaan untuk komentar, begitu pula juru bicara untuk Gedung Putih.

Pekan lalu, Sacks memposting ulang unggahan dari akun X bernama 'Wall Street Mav yang mengklaim bahwa RUU tersebut sedang diatur oleh kelompok 'Never Trumpers' dan mantan staf Presiden Barack Obama dan Joe Biden untuk melemahkan otoritas Trump dan strategi America First-nya.

Unggahan tersebut secara khusus menyebut CEO perusahaan AI Anthropic, Dario Amodei, dan mengklaim bahwa ia mempekerjakan mantan staf Biden untuk mendorong isu tersebut.

Juru bicara Anthropic menolak berkomentar terkait RUU tersebut. Namun, Amodei memang blak-blakan mengungkapkan penolakannya terhadap ekspor chip canggih seperti H200 ke China.

"Menjual chip ke China akan menjadi kesalahan besar," kata Amodei pada Selasa (20/1) di World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss.

"Menurut saya ini gila. Ini seperti menjual senjata nuklik ke Korea Utara," ia menambahkan.

Aktivis konservatif Laura Loomer, bersama beberapa orang lainnya, juga mencuitkan kritik terhadap RUU tersebut pekan lalu. Ia menyebutnya sebagai sabotase pro-China yang disamarkan sebagai pengawasan.

Sebelum pemungutan suara, Mast dan anggota komite lainnya menolak serangan online tersebut dan mengatakan bahwa RUU itu diperlukan untuk melindungi keamanan nasional AS.

"Ada kelompok kepentingan khusus di luar sana saat ini dengan jutaan dolar yang didanai oleh orang-orang yang akan mendapat keuntungan dari penjualan chip ini. Mereka sedang melancarkan perang kampanye media sosial melawan RUU ini," kata Perwakilan Partai Republik Michael McCaul dari Texas.

(fab/fab)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |