Jakarta, CNBC Indonesia - Hubungan diplomatik antara Benua Biru dan Washington berada di titik nadir setelah sebuah survei terbaru menunjukkan mayoritas warga Eropa ingin melepaskan diri dari pengaruh Amerika Serikat (AS). Berdasarkan jajak pendapat dari lembaga riset asal Jerman, Bertelsmann Stiftung, sekitar 70% penduduk yang tinggal di Uni Eropa (UE) dan Inggris percaya bahwa sudah waktunya bagi Eropa untuk "berjalan sendiri".
Mengutip laporan Russia Today pada Kamis (07/05/2026), hasil studi tersebut mengindikasikan bahwa sekitar 73% responden di seluruh Uni Eropa meyakini benua tersebut harus menjauh dari pengaruh Washington. Sentimen serupa juga menyebar kuat di Inggris, di mana sebanyak 67% responden menyatakan keinginan mereka untuk bebas dari cengkeraman AS.
Sentimen ini dilaporkan terus tumbuh secara stabil di seluruh blok tersebut selama beberapa tahun terakhir, dari yang sebelumnya berada di angka 63% pada tahun 2024. Tingkat ketidakpercayaan terhadap AS juga melonjak tajam, dengan hanya 42% warga yang masih menganggap Washington sebagai mitra yang dapat dipercaya, turun dibandingkan angka 46% pada tahun lalu.
Survei yang dirilis pada hari Kamis ini didasarkan pada pengambilan sampel opini dari sekitar 18.000 responden di seluruh 27 negara anggota Uni Eropa dan sekitar 2.000 responden di Inggris.
Jajak pendapat yang dilakukan pada Maret tahun ini menyasar penduduk berusia antara 18 hingga 69 tahun untuk mencerminkan distribusi populasi saat ini dari segi usia, jenis kelamin, dan kepadatan penduduk.
Selama beberapa tahun terakhir, para politisi Uni Eropa telah berulang kali menyerukan kemandirian yang lebih besar dari Washington, terutama dalam hal kebijakan luar negeri dan keamanan. Retorika tersebut semakin memanas setelah Presiden AS Donald Trump menjabat untuk kedua kalinya pada awal tahun lalu.
Dalam setahun terakhir, AS berulang kali terlibat perselisihan dengan sekutu-sekutu Eropanya, mulai dari perang dagang singkat hingga perdebatan mengenai perbedaan pendekatan dalam konflik Ukraina.
Selain itu, ancaman Washington untuk merebut Greenland dari Denmark serta isu-isu lainnya turut memperkeruh suasana.
Situasi dilaporkan semakin memburuk setelah terjadinya serangan AS-Israel terhadap Iran yang tidak didukung oleh sekutu-sekutu Eropa Washington. Terlebih lagi, permusuhan di Timur Tengah tersebut telah menyebabkan gangguan pasokan minyak dan gas di seluruh dunia, sebuah isu yang sangat berdampak buruk bagi banyak negara di Eropa.
(tps/luc)
Addsource on Google

3 hours ago
2

















































