Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
30 April 2026 16:05
Jakarta, CNBC Indonesia - Kevin Warsh semakin dekat untuk menjadi Ketua bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve/The Fed. Warsh akan menggantikan Jerome Powell.
Posisi sebagai chairman The Fed membuat The Fed akan selalu disorot. Dengan status sebagai pengendali dolar di seluruh dunia serta pemangku kebijakan moneter negara superpower AS, apapun ucapan hingga kebijakannya akan sangat menentukan AS dan dunia.
Sosok pilihan Presiden AS Donald Trump itu baru saja melewati satu tahapan penting setelah pencalonannya disetujui oleh Komite Perbankan Senat AS.
Dalam pemungutan suara pada Rabu (29/4/2026) waktu setempat, pencalonan Warsh disetujui dengan hasil yang terbelah berdasarkan garis partai. Sebanyak 13 senator dari Partai Republik mendukung Warsh, sementara 11 senator dari Partai Demokrat menolak.
Namun, Warsh belum resmi menjadi Ketua The Fed. Pencalonannya masih harus dibawa ke sidang penuh Senat AS untuk mendapat persetujuan akhir. Pemungutan suara tersebut paling cepat bisa digelar pada 11 Mei.
Jika akhirnya disetujui Senat, Warsh akan menggantikan Jerome Powell. Masa jabatan Powell sebagai Ketua The Fed sendiri dijadwalkan berakhir pada 15 Mei.
Kevin Warsh Bukan Pilihan Sempurna
Warsh sebenarnya bukan sosok tanpa catatan. Dalam pandangan The Economist, dia bukan kandidat ideal untuk memimpin The Fed.
Salah satu kritik utama terhadap Warsh adalah perubahan sikapnya. Dia selama ini dikenal sebagai sosok yang cenderung hawkish, atau lebih keras terhadap inflasi. Namun, dalam upayanya mengejar kursi Ketua The Fed, sikapnya berubah menjadi lebih dovish, yakni lebih condong mendukung pemangkasan suku bunga.
Warsh juga dinilai tidak sekuat Chris Waller dalam hal teknis kebijakan moneter. Waller sebelumnya juga sempat disebut sebagai kandidat Ketua The Fed. Selain itu, Warsh tidak memiliki latar belakang ekonomi yang terlalu mendalam dan selama lebih dari satu dekade kerap melontarkan kritik terhadap The Fed yang dianggap terlalu berlebihan dan kurang tajam secara analisis.
Dalam sidang konfirmasi pada 21 April, Warsh juga menjadi sorotan karena tidak secara tegas membantah klaim bahwa pemilu presiden AS 2020 dicuri dari Donald Trump.
Namun, semua catatan itu belum tentu menjadi penentu utama bagaimana Warsh akan dikenang dalam sejarah The Fed.
Ujian Terbesar Warsh Adalah Trump
Tantangan terbesar Warsh bukan sekadar soal kemampuan teknis mengelola suku bunga, melainkan bagaimana dia menghadapi tekanan politik dari Presiden Donald Trump.
Trump selama ini terus menekan The Fed agar menurunkan suku bunga. Padahal, inflasi AS sudah bertahan di atas target selama lima tahun terakhir. Kondisi ini membuat The Fed menghadapi salah satu krisis kredibilitas terbesar dalam 50 tahun terakhir.
Warsh pernah menyampaikan pidato berjudul "An Ode to Independence", yang menekankan pentingnya independensi bank sentral. Dalam sidang konfirmasi, dia juga menegaskan pentingnya kredibilitas The Fed.
Karena itu, ujian sesungguhnya bagi Warsh adalah apakah dia mampu menahan tekanan dari Trump. Jika dia bisa menjaga independensi The Fed dan membawa bank sentral AS ke arah yang lebih stabil, Warsh bisa saja dikenang sebagai salah satu Ketua The Fed yang besar.
Suku Bunga Jadi Ujian Pertama
Ujian pertama Warsh akan datang sangat cepat, yakni soal arah suku bunga. Sebagai catatan, The Fed baru saja kembali memutuskan untuk menahan suku bunga acuannya di level 3,50%-3,75%.
Keputusan tersebut menunjukkan bahwa The Fed masih berhati-hati dalam melonggarkan kebijakan moneter.
Pada awal tahun, alasan untuk menurunkan suku bunga sebenarnya masih bisa dibangun. Namun, situasinya kini berubah. Lonjakan harga minyak dan pasar tenaga kerja AS yang masih kuat membuat ruang pemangkasan suku bunga menjadi semakin sempit.
Dengan kondisi tersebut, Warsh tidak akan mudah meyakinkan para pejabat The Fed lainnya untuk memangkas suku bunga. Meski Ketua The Fed biasanya sangat berpengaruh, Warsh tetap hanya memiliki satu suara dari total 12 suara dalam pengambilan keputusan kebijakan moneter.
Dia mungkin bisa menggunakan posisi koleganya sebagai alasan ketika menjelaskan kepada Trump mengapa suku bunga belum juga turun. Namun, Warsh juga harus berhati-hati agar tidak membuka ruang bagi Trump untuk semakin menekan atau bahkan mencoba menyingkirkan pejabat The Fed lainnya.
Dalam hal ini, Warsh dinilai sudah mengambil jarak dari rencana kelompok MAGA yang ingin membersihkan para presiden bank sentral regional The Fed. Padahal, lima dari mereka memiliki hak suara dalam kebijakan moneter pada waktu tertentu.
Agenda Reformasi Warsh
Di sisi lain, Warsh juga membawa agenda reformasi untuk The Fed. Dia ingin bank sentral AS mengecilkan neraca keuangannya, mengurangi komunikasi publik soal arah suku bunga di masa depan, dan melihat rentang data yang lebih luas dalam mengambil keputusan.
Warsh menyebut gagasan itu sebagai "perubahan rezim". Namun, ide tersebut sebenarnya tidak terlalu radikal.
Bank of England, misalnya, juga sedang meninjau ulang strategi neraca keuangannya. Di kalangan bank sentral, Warsh tidak sepenuhnya dipandang sebagai sosok revolusioner. Para bankir sentral masih bisa membedakan antara pernyataan politik Warsh dan preferensi kebijakan moneternya.
Dengan kata lain, Warsh masih punya ruang untuk menahan tekanan Trump soal suku bunga, sambil menjalankan reformasi yang relatif masuk akal di internal The Fed.
Peluang Warsh untuk berhasil akan lebih besar jika dia dikelilingi oleh pejabat The Fed yang teknokratis dan kuat secara institusional.
Salah satu faktor penting adalah perkara di Mahkamah Agung terkait upaya Trump memecat Lisa Cook, salah satu gubernur The Fed, atas dugaan pelanggaran dalam dokumen hipotek lama.
Selain itu, Powell juga membuat keputusan penting. Pada Rabu kemarin, dia menyatakan akan tetap bertahan sebagai anggota Dewan Gubernur The Fed. Masa jabatan Powell sebagai gubernur sebenarnya baru berakhir pada 2028.
Keputusan Powell ini berbeda dari tradisi yang biasanya berlaku, karena mantan Ketua The Fed umumnya mundur setelah tidak lagi memimpin bank sentral. Namun, keberadaan Powell di dewan bisa menjadi perlindungan institusional yang berguna bagi Warsh.
Ironisnya, situasi saat ini justru sangat cocok bagi sosok Kevin Warsh yang dulu, sebelum dia harus meyakinkan Trump untuk menunjuknya.
Warsh yang lama adalah sosok yang keras terhadap inflasi di tengah era inflasi tinggi. Dia juga dikenal sebagai pendukung independensi bank sentral ketika lembaga itu diserang oleh kekuasaan eksekutif. Selain itu, dia skeptis terhadap neraca besar bank sentral setelah era uang murah yang panjang.
Pertanyaannya sekarang, Kevin Warsh yang mana yang akan muncul ketika dia masuk ke markas The Fed pada Mei?
Jika Warsh kembali pada prinsip lamanya, dia bisa menjadi sosok yang menyelamatkan kredibilitas The Fed. Namun, jika dia tunduk pada tekanan politik, bank sentral AS justru bisa menghadapi krisis independensi yang lebih dalam.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Addsource on Google

4 hours ago
6
















































