Saham Maskapai Dunia Terbakar Perang Iran, Tak Ada yang Selamat

2 hours ago 1

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia

06 March 2026 12:20

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan geopolitik yang kembali memanas di kawasan Timur Tengah telah memberikan tekanan yang signifikan terhadap pasar modal global.

Sektor penerbangan menjadi salah satu industri yang paling responsif dan terdampak langsung oleh memburuknya situasi keamanan di wilayah tersebut yang belum kunjung membaik.

Peningkatan intensitas konflik militer yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel di kawasan Teluk telah memaksa pelaku pasar untuk melakukan kalkulasi ulang terhadap proyeksi bisnis maskapai penerbangan internasional.

Fokus utama para investor saat ini tertuju pada risiko disrupsi operasional penerbangan lintas benua serta potensi lonjakan beban biaya operasional akibat situasi geopolitik yang belum menentu.

Rapor Merah Sepekan Secara Mingguan

Sejak akhir Februari lalu, tekanan jual pada saham-saham maskapai penerbangan dunia mulai terlihat jelas dan berlanjut hingga pekan pertama bulan pada tanggal Kamis (5/3/2026).

Berdasarkan data perdagangan yang ditarik sejak 27 Februari 2026 hingga 5 Maret 2026, saham-saham emiten maskapai utama dunia secara merata masuk ke zona pelemahan.

Secara rata-rata, 20 saham maskapai penerbangan global yang diamati mengalami depresiasi sebesar 9,36% hanya dalam kurun waktu kurang dari satu minggu perdagangan.

Berikut adalah ringkasan pergerakan harga saham dari 20 maskapai penerbangan global. Data di bawah ini mencakup harga penutupan per 5 Maret 2026, kinerja mingguan (sejak 27 Februari 2026), kinerja tahunan sebagai perbandingan, serta kapitalisasi pasar sebagai acuan skala perusahaan:

Dari urutan tersebut, terlihat jelas bahwa ukuran kapitalisasi pasar yang sangat besar tidak memberikan kekebalan yang kuat terhadap kepanikan pasar. Delta Air Lines, maskapai dengan valuasi terbesar mencapai US$ 40,04 miliar, tetap tergelincir 6,68%.

United Airlines yang berada di posisi ketiga terbesar bahkan anjlok hingga 10,23%. Sementara itu, IAG (ICAG.L) sebagai induk British Airways yang memiliki valuasi sangat tinggi di US$ 24,47 miliar, mencatatkan salah satu koreksi paling tajam di jajaran atas dengan pelemahan 12,15%.

Penurunan terdalam secara persentase tetap dialami oleh Japan Airlines (9201.T) yang merosot hingga 15,41% menjadi salah satu penurunan signifikan akibat cadangan energi di Jepang yang semakin sedikit.

Ancaman Disrupsi Ruang Udara dan Volatilitas Harga Avtur

Penurunan harga saham yang terjadi secara masif ini didorong oleh realitas operasional di lapangan. Kawasan Timur Tengah tidak hanya berperan sebagai produsen energi terbesar di dunia, tetapi juga berfungsi sebagai hub transit strategis yang vital untuk menghubungkan mobilitas udara dari benua Asia menuju Eropa dan sebaliknya.

Eskalasi militer yang kian memanas membawa ancaman nyata berupa potensi penutupan ruang udara di zona konflik. Kondisi ini memaksa banyak maskapai melakukan pengalihan rute yang lebih jauh, yang secara otomatis akan menambah waktu tempuh operasional armada.

Efek domino dari kebijakan pengalihan rute ini adalah peningkatan drastis pada konsumsi bahan bakar pesawat (avtur), di mana harga minyak mentah itu sendiri amat sangat rentan melonjak tajam saat terjadi krisis geopolitik di Teluk. Kombinasi faktor-faktor ini diproyeksikan dapat secara signifikan menggerus margin keuntungan kuartalan emiten aviasi.

Fundamental Jangka Panjang Masih Mencatatkan Kinerja Relatif Terjaga

Kendati pergerakan pasar saham dalam seminggu terakhir merespons dengan tekanan jual yang sangat kuat, perspektif kinerja maskapai dalam rentang waktu yang lebih panjang memberikan gambaran yang relatif lebih menjanjikan.

Jika dianalisis secara tahunan, fundamental makro industri ini pada dasarnya masih ditopang oleh momentum pasca pandemi yang positif. Rata-rata dari 20 maskapai global tersebut masih mampu membukukan apresiasi harga saham sebesar 9,20%.

Beberapa maskapai bahkan terpantau masih mempertahankan performa tahunan yang sangat solid. Saham LATAM Airlines (LTM.SN), Southwest Airlines (LUV), dan China Eastern Airlines (600115.SS) masih mencatatkan pertumbuhan apresiasi yang masif dan persisten, masing-masing sebesar 52,81%, 46,58%, dan 30,18%. Ryanair (RYAAY.O) yang ada di peringkat dua market cap terbesar juga masih kokoh tumbuh 23,50% secara tahunan.

Fakta ini mempertegas bahwa tren koreksi yang terjadi sejak akhir Februari ini murni didorong oleh event-driven, dan bukan merupakan indikasi dari kemunduran struktural daya beli penumpang atau minat terbang global sebelum kejadian perang di Timur Tengah.

Ke depannya, pergerakan bursa saham di sektor aviasi diperkirakan akan sangat ditentukan oleh seberapa lincah dan efisien manajemen tiap maskapai mampu menyesuaikan strategi operasional mereka dalam meredam guncangan pembengkakan biaya jangka pendek serta seberapa cepat eskalasi geopolitik di Timur Tengah ini bisa mereda.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |