Jakarta, CNBC Indonesia - Seorang anggota parlemen Israel buka suara soal ancaman nuklir Iran. Ini sebelumnya menjadi dasar mengapa Amerika Serikat (AS) dan Irsrael menyerang Iran sejak 28 Februari.
Dałam wawancara dengan laman Rusią RT, Ofer Cassif, mengatakan keamanan bukanlah pendorong perang. Melainkan "perhitungan politik".
Perlu diketahui Ofer Cassif adalah satu-satunya anggota Yahudi dari partai Hadash yang mayoritas Arab. Ia telah muncul sebagai salah satu dari sedikit anggota parlemen yang secara terbuka menentang perang tersebut.
Ia memberikan penilaian yang sangat kritis terhadap motif, waktu, dan kemungkinan arah perang tersebut. "Alasan sebenarnya di balik agresi tersebut adalah kepentingan politik dan ekonomi pemerintah Israel dan pemerintahan Amerika Serikat, pemerintahan (Donald) Trump," ujarnya dikutip Jumat (6/3/2025).
Ia menggaitkan ini dengkan pernyataan Perdana Menteri (PM) Israell Netanyahu di Juni, setelah serangan pertama ke Iran, yang juga dibantu AS. Netanyahu, kata dia, berbicara bahwa "Kita telah meraih kemenangan bersejarah... melenyapkan proyek nuklir Iran dan industri rudalnya".
"Ini tidak ada hubungannya dengan ancaman, seperti yang baru saja saya sebutkan," ujarnya mengklaim bahwa ia tak memiliki simpati apapun ke rezim Iran bahkan menentangnya.
"Ini sepenuhnya berkaitan dengan kepentingan ekonomi dan politik, termasuk kepentingan pribadi Netanyahu, yang ingin mendeklarasikan pemilihan umum dini dan menampilkan dirinya sebagai penyelamat Israel di hadapan rakyat Iran dan seluruh kawasan," katanya.
Menurutnya, Netanyahu takut dipenjara, menyinggung sejumlah skandal hukum sang PM di Israel beserta keluarganya.
"Dia takut dipenjara. Dia tahu bahwa begitu dia kehilangan kekuasaan politik, dia mungkin akan segera berada di balik jeruji besi karena persidangan yang sedang berlangsung terhadapnya," tambahnya.
"Itulah alasan sebenarnya di balik retorikanya. Dia tidak menyelamatkan dunia dari Islam radikal. Lagipula, saya tidak percaya Islam radikal adalah masalah utama yang dihadapi dunia saat ini. Tentu saja, Islam fanatik adalah masalah, seperti fanatisme lainnya. Tetapi saya tidak berpikir itu lebih buruk daripada kaum evangelis fanatik di Amerika Serikat atau apa yang disebut fanatisme Zionis religius di Israel," jelasnya.
Khusus Trump ia juga menyinggung keinginan sang Presiden menunda pemilu sela AS yang seharusnya dilakukan Oktober. Karena perang pemilu bisa diundur ke Juni 2026.
"Waktu agresi tersebut melayani kepentingan Netanyahu dan Trump, terutama kepentingan pribadi mereka," ujarnya.
"Seperti yang saya sebutkan, ada pemilihan paruh waktu di Amerika Serikat, dan pemilihan di sini seharusnya diadakan pada bulan Oktober tetapi tampaknya mungkin akan diundur ke bulan Juni. Sayangnya, kedua pemimpin ini dan pemerintahan di sekitarnya percaya bahwa agresi semacam itu akan menguntungkan mereka secara elektoral, " tegasnya.
Siapa yang Bisa Menghentikan Perang
Ia pun mengatakan pihak yang paling mungkin menghentikan perang adalah warga Amerika sendiri. Jika publik AS yang menurut jajak pendapat menentang perang, turun ke jalan, perang mungkin berakhir.
"Terutama jika di dalam basis Partai Republik, ada indikasi publik yang sangat jelas menentang agresi tersebut. Trump, terutama menjelang pemilihan paruh waktu, mungkin akan menghentikan perang demi kepentingannya sendiri. Sama seperti Netanyahu, dia juga hanya peduli pada dirinya sendiri," tegasnya.
"Jadi kuncinya ada di tangan publik Amerika. Jika mereka turun ke jalan atau memberikan tekanan yang cukup pada Trump dan pemerintahannya, saya pikir agresi ini bisa dihentikan," katanya lagi.
(sef/sef)
Addsource on Google

3 hours ago
1
















































