Jakarta, CNBC Indonesia - Singapura tengah menghadapi krisis tenaga psikolog di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mental. Kondisi ini terjadi seiring lonjakan jumlah warga yang mencari bantuan profesional dalam beberapa tahun terakhir.
Hanya saja, ketersediaan tenaga psikolog belum mampu mengimbangi permintaan yang terus meningkat. Di sisi lain, pengamat melihat, melatih psikolog baru harus melalui jalan kualifikasi yang panjang. Terbatasnya fasilitas pelatihan lokal juga yang menjadi tantangan utama.
Mahasiswa Psikologi Muroch University Jerein Sandrasageran juga mengakui bahwa untuk menjadi psikologi profesional itu merupakan jalan yang berat.
"Kita tahu bahwa kita membutuhkan pendidikan pascasarjana untuk bisa diterima atau benar-benar menjalankan pekerjaan ini, dan kita juga membutuhkan pengalaman," kata Jerein, mengutip Channel News Asia, Kamis (19/3/2026).
"Jadi kami seperti terjebak di tengah, belum punya pengalaman, tapi juga belum punya pendidikan lanjutan. Dan jika tidak ada kesempatan untuk mendapatkan pengalaman secara efektif, kami akan terus terjebak."
Secara umum dibutuhkan 7 tahun untuk menjadi psikolog berkualifikasi, dimulai dari gelar sarjana. Setelah lulus mereka harus menjalani praktik klinis untuk mendapatkan pengalaman di bawah supervisi sebelum mendaftar ke program pascasarjana.
Setelah lulus, mereka harus menjalani praktik klinis untuk mendapatkan pengalaman di bawah supervisi sebelum mendaftar ke program pascasarjana.
Biaya juga menjadi hambatan, terutama jika calon psikolog harus menempuh pendidikan di luar negeri akibat terbatasnya program lokal.
Wakil Presiden Singapore Psychological Society Pearlene Ng mengatakan bahwa keputusan menjadi psikolog profesional itu membutuhkan banyak pengorbanan, tidak hanya bagi diri sendiri tapi juga keluarga.
Dia juga menyoroti keterbatasan tempat praktik dan kekurangan supervisor yang berkualifikasi membuat banyak psikolog kesulitan untuk melanjutkan. Bahkan ketika mahasiswa mendapatkan tempat praktiknya, mereka tetap harus menangani klien yang bersedia bekerja sama agar bisa memenuhi jam pelatihan yang disyaratkan.
Namun, masyarakat kerap enggan berkonsultasi dengan mahasiswa magang atau psikolog dalam pelatihan, sehingga mengurangi peluang mereka memperoleh pengalaman praktis.
Meskipun, Asosiasi itu kini juga menjajaki kerja dengan institusi pendidikan tinggi untuk memperluas lokasi praktik dan mempersiapkan mahasiswa lebih baik menghadapi dunia kerja.
Percepatan Pelatihan
National University of Singapore (NUS) baru-baru ini meluncurkan jalur percepatan yang memungkinkan mahasiswa menyelesaikan pelatihan dalam lima tahun, lebih cepat dari biasanya tujuh tahun.
Lohsnah Jeevanandam, Direktur Program Psikologi Klinis di Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora NUS, menjelaskan bahwa struktur baru ini menggunakan format tiga tambah dua-tiga tahun sarjana diikuti dua tahun program magister.
Bagian sarjana dibuat lebih padat, dengan pilihan mata kuliah yang lebih terbatas. Selain itu, mahasiswa kini tidak lagi diwajibkan memiliki pengalaman kerja satu tahun sebelum melanjutkan ke program magister.
Namun, mereka harus menyelesaikan sejumlah mata kuliah tertentu, berbeda dengan sebelumnya yang lebih fleksibel.
Dr Lohsnah menambahkan bahwa kurikulum juga telah didesain ulang agar lebih praktis dan tidak hanya berfokus pada teori.
Sebagai langkah lain untuk meningkatkan sektor ini, psikolog di bidang tertentu nantinya diwajibkan untuk terdaftar sebelum dapat berpraktik di Singapura. Kebijakan ini bertujuan meningkatkan standar profesional, menjamin keselamatan pasien, serta memperluas akses layanan kesehatan mental.
Menurut Dr Ng, langkah tersebut akan melindungi kepentingan publik dengan memastikan bahwa para praktisi bekerja secara etis, memenuhi persyaratan yang diperlukan, serta memiliki pelatihan yang memadai untuk memberikan layanan sesuai standar.
(emy/haa)
Addsource on Google

8 hours ago
5

















































