Jakarta, CNBC Indonesia - Fenomena ekuinoks tahun ini berpotensi terjadi pas saat Lebaran. Artinya, matahari bakal ada tepat di atas kepala saat warga beraktivitas beribadah dan merayakan Idulfitri.
Ekuinoks berasal dari bahasa Latin yang diterjemahkan menjadi "malam yang sama." Pada saat ekuinoks, Bumi tegak lurus terhadap Matahari. Dampaknya, semua lokasi di Bumi bakal mengalami 12 jam sinar matahari dan 12 jam kegelapan.
Fenomena ini terjadi dua kali setiap tahun pada Maret dan September. Ekuinoks pada Maret juga dikenal sebagai ekuinoks vernal (musim semi) bagi belahan Bumi utara dan ekuinoks autumnal (musim gugur) bagi belahan Bumi selatan. Menurut laman Time and Date, ekuinoks Maret pada 2026 terjadi tepat pada 20 Maret.
Lebaran tahun ini diprediksi jatuh pada hari berikutnya yaitu 21 Maret. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyampaikan waktu Matahari terbenam paling awal pukul 17.48.13 WIT di Waris, Papua dan waktu Matahari terbenam paling akhir pukul 18.49.39 WIB di Banda Aceh, Aceh.
Dari data BMKG pada ketinggian hilal maupun elongasi Matahari terbenam 19 Maret 2026 belum memenuhi kriteria yang ditetapkan MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura). Kriteria MABIMS menetapkan imkanur rukyat yang memenuhi syarat jika posisi hilal mencapai ketinggian 3 derajat dengan sudut elongasi 6,4 derajat.
Sementara ketinggian hilal di Indonesia saat Matahari terbenam pada 19 Maret 2026 berkisar antara 0,91 derajat di Merauke, Papua sampai 3,31 derajat di Sabang, Aceh. Sementara, elongasi geosentris di Indonesia saat Matahari terbenam pada 19 MAret 2026 berkisar 4,54 derajat di Waris, Papua sampai dengan 6,1 derajat di Banda Aceh, Aceh.
Berdasarkan data di atas maka bulan Ramadan akan genap menjadi 30 hari dan Idulfitri berpotensi jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.
Di sisi lain, Muhammadiyah telah mengumumkan Lebaran jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.
Ketika fenomena ekuinoks berlangsung, matahari dengan bumi memiliki jarak paling dekat konsekuensinya wilayah tropis sekitar ekuator akan mendapatkan penyinaran matahari maksimum.
Mengutip keterangan BMKG di blognya, fenomena ini tidak selalu mengakibatkan peningkatan suhu udara secara drastis maupun ekstrem. Secara umum, diketahui rata-rata suhu maksimum di wilayah Indonesia berada dalam kisaran 32-36 derajat Celcius.
Ekuinoks merupakan fenomena astronomi yang terjadi secara alamiah. BMKG menyebut, ekuinoks bukan merupakan fenomena seperti gelombang panas yang dapat mengakibatkan peningkatan suhu udara secara besar dan bertahan lama.
Oleh karena itu, masyarakat tidak perlu mengkhawatirkan dampak dari ekuinoks yang tidaklah berbahaya. Sehingga masyarakat tidak perlu panik dan resah tentang kenaikan suhu yang drastis akibat ekuinoks, sebab ini tidak berdampak pada kesehatan serta lingkungan.
(dem/dem)
Addsource on Google

2 hours ago
1

















































