Jakarta, CNBC Indonesia - Stabilitas harga kebutuhan pokok menjadi perhatian utama dunia usaha menjelang Ramadan dan Idul Fitri tahun ini. Pelaku usaha menilai pemerintah perlu menjaga pasokan dan harga pangan di tengah ketidakpastian global.
Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia Sarman Simanjorang mengatakan potensi gejolak harga energi dunia berisiko mempengaruhi biaya logistik dan harga barang di dalam negeri.
"Kalau terjadi kenaikan BBM, maka dampaknya pasti ke seluruh harga-harga di pasaran," kata Sarman kepada CNBC Indonesia, Selasa (17/3/2026).
Stabilitas harga pangan menjadi prioritas yang harus dijaga pemerintah, terutama karena momentum konsumsi masyarakat sudah meningkat seiring berjalannya bulan Ramadhan.
"Yang paling urgen sebenarnya bagaimana memastikan kebutuhan pokok pangan kita tetap tersedia dengan harga yang terjangkau," ujarnya.
Apalagi, dalam beberapa hari ke depan masyarakat akan mulai meningkatkan konsumsi untuk menyambut Idul Fitri. Hal ini biasanya didorong oleh pencairan tunjangan hari raya atau THR.
"Sebentar lagi masyarakat akan mulai berbelanja kebutuhan Lebaran, apalagi THR sudah cair. Konsumsi pasti meningkat," kata Sarman.
Foto: Pantauan harga komoditas pangan di Pasar Rumput, Jakarta Selatan, Senin (2/2/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)
Pantauan harga komoditas pangan di Pasar Rumput, Jakarta Selatan, Senin (2/2/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)
Ia juga menyoroti kemungkinan gangguan distribusi bahan pangan impor apabila jalur logistik global terganggu akibat konflik geopolitik.
"Kita juga belum tahu apakah ada bahan pangan impor yang masih dalam perjalanan atau bahkan tertahan dalam proses distribusi," ujarnya.
Karena itu, pemerintah perlu memastikan stok pangan nasional dalam kondisi aman agar lonjakan permintaan tidak memicu lonjakan harga.
"Yang menjadi PR besar adalah memastikan harga-harga pokok tetap stabil ketika permintaan meningkat menjelang Lebaran," kata Sarman.
Sarman menambahkan momentum konsumsi Ramadan dan Idul Fitri memiliki peran penting bagi pertumbuhan ekonomi nasional pada awal tahun.
"Momentum Lebaran biasanya menjadi puncak perputaran uang terbesar di Indonesia," ujarnya.
Ia berharap stabilitas harga dapat menjaga daya beli masyarakat sehingga konsumsi tetap kuat dan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama.
"Dengan harga yang tetap terjangkau, kita harapkan konsumsi masyarakat tetap kuat dan pertumbuhan ekonomi di kuartal pertama bisa sesuai target," kata Sarman.
(fys/wur)
Addsource on Google

4 hours ago
1

















































