Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan terakhir sebelum libur panjang lebaran di zona positif.
IHSG ditutup naik 84,55 poin atau 1,2% ke level 7.106,84. Sebanyak 226 saham turun, 481 naik, dan 251 tidak bergerak.
Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak di zona hijau dengan rentang 7.059,89-7.148,25. Nilai transaksi hari ini mencapai Rp 23,73 triliun, melibatkan 28,68 miliar saham dalam 1,52 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar naik menjadi Rp 12.547 triliun.
Transaksi di pasar reguler hari ini terbilang sepi. Tanpa transaksi AMRT di pasar negosiasi, total nilai transaksi hari ini hanya akan sekitar Rp 16 triliun.
Berbeda dengan perdagangan kemarin, hingga siang ini mayoritas sektor berada di zona hijau. Mengutip Refintiv, teknologi memimpin penguatan dengan kenaikan 3,65%.
Hal tersebut seiring dengan emiten konglomerat Toto Sugiri, DCI Indonesia (DCII) yang menjadi penopang utama IHSG. DCII yang naik 5,8% ke level 208.975 berkontribusi 11,39 indeks poin.
Kemudian pada sesi 2, sejumlah emiten Prajogo Pangestu melesat. Akan tetapi hanya Petrindo Jaya Kreasi (CUAN) dan Barito Pacific (BRPT) yang bertahan di zona hijau. Dalam daftar top movers, BRPT menyumbang 6,02 indeks poin.
Sementara itu, hari ini akan menjadi perdaganganterakhirIHSG selama Ramadan 1447 H atau 2026.
Dalam catatan CNBC Indonesia, selama Ramadan atau sejak 19 Februari 2026 hingga Senin kemarin (16/3/2026), IHSG sudah ambruk 15%. Catatan ini sangat buruk mengingat dalam lima tahun terakhir, IHSG kerap menguat selama Ramadan. Pada Ramadan 2025, misalnya, IHSG terbang 3,8%.
Catatan buruk lainnya adalah besarnya penutupan di zona merah selama Ramadan. Selama 18 hari perdagangan di Ramadan tahun ini, IHSG hanya menguat lima kali sementara sisanya atau 72% berakhir di zona merah.
Tekanan IHSG pada Ramadan kali ini diawali oleh gejolak yang disebabkan keputusan MSCI membekukan indeks untuk pasar saham di Indonesia. Hal ini kemudian disikapi oleh Otoritas Jasa Keuangan hingga Bursa Efek Indonesia dengan melakukan reformasi pasar.
Setelah tekanan MSCI mereda, eskalasi geopolitik memanas dipicu perang Amerika Serikat dan Israel dengan Iran. Dalam perkembangan terbaru, beberapa sekutu Amerika Serikat menolak seruan Donald Trump pada Senin untuk mengirim kapal perang guna mengawal kapal tanker melalui Selat Hormuz.
Penolakan itu memicu kritik dari presiden AS tersebut, yang menuduh para mitra Barat tidak tahu berterima kasih setelah puluhan tahun mendapat dukungan dari Washington.
Perang AS-Israel melawan Iran kini memasuki minggu ketiga tanpa tanda-tanda akan segera berakhir. Selat Hormuz yang sangat penting-jalur yang dilalui sekitar 20% aliran minyak dan gas alam cair dunia-masih sebagian besar tertutup, sehingga memicu kenaikan harga energi dan kekhawatiran akan inflasi.
(mkh/mkh)
Addsource on Google

3 hours ago
6

















































