Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara ambruk dan gagal memanfaatkan momentum kenaikan harga minyak mentah dunia. Kabar buruk dari Asia lebih berdampak terhadap pergerakan batu bara.
Merujuk Refinitiv, harga batu bara ditutup di US$ 134,75 per ton atau melemah 0,19% pada perdagangan Rabu (17/3/2026).
Pelemahan ini memperpanjang derita batu bara yang melemah 2,9% dalam tiga hari beruntun.
Harga batu bara tetap melemah meskipun harga minyak melonjak 2% pada perdagangan Rabu kemarin. Hal ini berbanding terbalik dengan historisnya di mana harga batu bara biasanya ikut naik jika harga minyak menguat mengingat keduanya adalah sumber energi substitusi.
Harga batu bara melemah di tengah laporan melemahnya impor batu bara termal laut (seaborne) Asia pada Februari 2026. Impor turun ke level terendah dalam empat tahun, seiring melemahnya permintaan dari negara pembeli utama seperti China.
Menurut Signal Ocean, China mengimpor 25 juta ton (mt) batu bara melalui jalur laut pada Februari 2026, turun 10% dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini turut mendorong arus perdagangan batu bara laut global turun sekitar 1%.
Penurunan impor China terutama dipicu oleh meningkatnya produksi batu bara domestik di kedua negara, yang mengurangi kebutuhan impor. China, sebagai importir batu bara terbesar dunia, dalam beberapa tahun terakhir mencatat produksi domestik pada level rekor, sehingga pembangkit listrik lebih memilih pasokan lokal dibanding batu bara impor.
Selain itu, pertumbuhan energi terbarukan dan pembangkit listrik tenaga air di beberapa negara Asia juga ikut menekan konsumsi batu bara untuk pembangkit listrik. Kondisi ini membuat permintaan batu bara impor melemah di tengah stok domestik yang relatif tinggi.
Data analis komoditas menunjukkan bahwa perdagangan batu bara lewat laut di Asia memang mulai melambat, meskipun konsumsi batu bara secara keseluruhan masih tinggi. Pada 2025 misalnya, impor batu bara laut Asia turun sekitar 4,4% menjadi 1,09 miliar ton, sementara impor batu bara termal turun sekitar 4,6% menjadi 860,5 juta ton.
Tren ini menandakan adanya pergeseran struktur pasar batu bara, di mana konsumsi tetap besar tetapi semakin dipenuhi oleh produksi domestik, terutama di China.
Bagi eksportir utama seperti Indonesia dan Australia, pelemahan impor Asia ini berpotensi menekan harga batu bara dan volume ekspor, terutama jika produksi domestik negara pembeli tetap tinggi.
Namun, kabar baik datang dari India karena permintaan masih tinggi. India meningkatkan impor batu bara laut hampir 9% menjadi 19 juta ton pada Februari 2026.
Peningkatan arus batu bara ke India didorong oleh permintaan industri yang lebih kuat, terutama dari sektor baja. India diperkirakan akan meningkatkan produksi baja mentah sekitar 9% pada 2026, sehingga negara tersebut membutuhkan lebih banyak batu bara untuk proses metalurgi sekaligus pembangkit listrik.
Faktor musiman juga berperan. India biasanya mengalami puncak permintaan listrik pada musim panas antara April hingga Juni, sehingga impor batu bara cenderung meningkat pada tiga hingga empat bulan pertama setiap tahun.
Dengan permintaan listrik yang diperkirakan lebih tinggi tahun ini, impor batu bara pun ikut meningkat, dan impor pada Maret serta April diperkirakan akan mengikuti tren tersebut.
Prospek perdagangan batu bara laut (seaborne coal) pada 2026 awalnya dipandang negatif. China, yang menyumbang hampir 30% dari volume perdagangan batu bara laut global, diperkirakan akan terus mengurangi impor karena energi terbarukan semakin besar porsinya dalam pembangkit listrik domestik.
Namun, perang di Teluk Arab berpotensi mengubah arah tersebut. Gangguan di Selat Hormuz telah memperketat pasar LNG dan minyak global sehingga mendorong kenaikan biaya bahan bakar. Di Asia, negara-negara yang sensitif terhadap harga kemungkinan akan meningkatkan konsumsi batu bara sebagai respons.
India menjadi contoh penting. LNG biasanya menyumbang sekitar 6-10% pembangkit listrik di India, dengan puncak penggunaan terjadi antara April hingga Juni. Dengan harga LNG yang melonjak menjelang musim permintaan listrik musim panas, impor batu bara diperkirakan meningkat untuk menutup kekurangan gas dan memenuhi kebutuhan listrik yang terus bertambah.
Di Eropa, permintaan batu bara masih terbatas secara struktural, meskipun kenaikan sementara tidak dapat dikesampingkan jika harga gas tetap tinggi.
Secara keseluruhan, gangguan geopolitik di Teluk Arab berpotensi mengubah arus perdagangan batu bara laut global pada 2026, dengan meningkatkan impor ke Asia, sementara Eropa relatif tidak terlalu terdampak namun tetap memiliki potensi kenaikan permintaan.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]
(mae/mae)
Addsource on Google

3 hours ago
2















































