Jakarta, CNBC Indonesia - Tetangga RI, Thailand, kini disebut sebagai "sick man of Asia" alias orang sakit dari Asia. Hal ini setidaknya dilaporkan Financial Times, Selasa (3/1/2026).
Julukan itu merujuk ke stagnasi perekonomian ekonomi terbesar kedua di Asia Tenggara itu. Ekonomi dilaporkan hanya tumbuh sekitar 2%, selama lima tahun terakhir.
Dikatakan bagaimana pendorong utama seperti konsumsi, manufaktur, dan pariwisata, semuanya mengalami penurunan. Disebut bagaimana pertumbuhan setinggi 13% pada tahun 1988, ketika Thailand dipuji sebagai "macan Asia", kini hanya tinggal kenangan.
Populasi kini menua dan menyusut dengan cepat. Belum lagi utang rumah tangga yang tinggi dan penurunan daya saing yang berkelanjutan.
"Dalam 10 tahun, Thailand telah berubah dari negara yang dipuji sebagai Thailand yang kebal kritik menjadi negara yang sakit di Asia," kata Kepala Ekonom Kasikornbank, Burin Adulwattana.
"Itu cukup mengkhawatirkan," tambahnya.
Bukan hanya itu, disebut pula bagaimana keadaan makin memburuk dengan ketidakstabilan politik yang berkepanjangan. Ini seiring seringnya pergantian kepemimpinan.
Partai-partai reformis yang telah memenangkan dua pemilihan terakhir dihalangi untuk berkuasa. Thailand telah memiliki tiga perdana menteri dalam tiga tahun terakhir.
"Proyek dan anggaran pariwisata telah terpukul oleh gejolak politik," kata Presiden Asosiasi Pemasaran Pariwisata Thailand, Kitti Pornsiwakit.
"Semuanya berantakan. Kita tidak memiliki mesin pertumbuhan baru. Ini bukan cerita permintaan siklikal. Sekarang ini adalah masalah serius yang membutuhkan perubahan struktural nyata dan reformasi," kata Kepala ekonom di Kiatnakin Phatra Securities., Pipat Luengnaruemitchai.
Lebih lanjut, laman itu menyebut tanda-tanda kemerosotan ekonomi di Thailand kini semakin meningkat. Bank-bank yang khawatir akan gagal bayar mengurangi pemberian pinjaman, pasar properti mengalami penurunan terburuk dalam tiga dekade, dan inflasi utama berubah negatif tahun lalu, menandakan lemahnya permintaan.
Dilaporkan bagaimana pasar saham Thailand telah menjadi pasar saham dengan kinerja terburuk di Asia selama 12 bulan terakhir, turun 10% pada tahun 2025 dalam mata uang lokal. Meski pemerintah memproyeksikan pertumbuhan 2% tahun ini, IMF memperkirakan ekonomi hanya 1,6%, yang paling lambat di antara ekonomi-ekonomi utama Asia Tenggara.
"Kami khawatir akan resesi ekonomi," kata Ketua Federasi Industri Thailand Kriengkrai Thiennukul.
Sejak 2025?
Sebenarnya julukan ini sudah cukup lama diberikan ke Thailand. Bahkan seorang ekonom lokal menyebutnya terang-terangan dalam rubrik opininya di Bangkok Post.
Kala itu, ia sudah memperingatkan proyeksi pertumbuhan Thailand yang memble. Ia mengatakan pertumbuhan PDB Thailand 2026 akan berada di peringkat terendah di antara 10 negara anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) dan terendah kedua (1,6%) di Asia setelah Jepang (0,6%).
"Kita tahu keadaan di Thailand tidak berjalan baik, tetapi menyatakan bahwa pertumbuhan PDB akan tertinggal dari Myanmar (3,0%), Laos (2,5%), dan Kamboja (4,0%) -- terutama dengan selisih yang begitu besar -- tidak hanya mungkin tidak akurat tetapi juga menghina," ujar Chartchai Parasuk.
"IMF memproyeksikan kerajaan akan mengalami pertumbuhan PDB sebesar 2,0% tahun ini," tambahnya.
Meski begitu, ia masih tak yakin dengan julukan itu. Tapi ia setuju keadaan Thailand sedang buruk.
"... Ekonomi sedang dalam keadaan koma dan membutuhkan pemulihan yang mendesak," ujarnya.
(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]

2 hours ago
2

















































