Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah menempatkan subsektor keramik sebagai salah satu tulang punggung industri manufaktur berbasis sektor riil. Selain memiliki keterkaitan langsung dengan pembangunan properti dan konstruksi, industri ini dinilai punya daya tahan karena ditopang bahan baku domestik serta pasar yang terus berkembang mengikuti siklus ekonomi.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menjelaskan, karakter industri keramik sangat dipengaruhi pergerakan ekonomi makro. Ketika aktivitas pembangunan meningkat, permintaan produk ikut terdongkrak signifikan.
"Subsektor keramik ini tentu memiliki peran yang sangat strategis dalam mendukung pembangunan sektor riil, khususnya dalam mendukung sektor properti dan konstruksi. Industri keramik bersifat siklikal yang kinerjanya sangat dipengaruhi oleh dinamika pertumbuhan ekonomi makro. Ketika aktivitas pembangunan meningkat, terutama pada sektor properti dan konstruksi, permintaan terhadap produk keramik pasti juga akan tumbuh secara signifikan," ujar Agus saat pelantikan Dewan Pengurus Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) di Kemenperin, Jakarta, Selasa (3/2/2026).
Ia menyebut struktur industri nasional saat ini tergolong kuat karena berbasis sumber daya alam lokal. Kapasitas produksi terpasang telah mencapai ratusan juta meter persegi per tahun dengan serapan tenaga kerja yang besar. Karenanya pemerintah pun memiliki target untuk menggeser Vietnam produsen keramik terbesar di Asean.
"Saat ini kapasitas produksi terpasang industri keramik nasional mencapai sekitar 650 juta meter persegi per tahun dengan tingkat utilisasi produksi, catatan kami masih 73 persen, serta menyerap sekitar 150 ribu tenaga kerja. Kami juga optimis bahwa dengan kinerja yang terus-menerus meningkat dan baik, ini misi kita untuk menjadikan sektor keramik naik tingkat ke posisi keempat dunia, ini bisa segera tercapai," kata Agus.
Untuk menopang arah pengembangan jangka panjang, Kementerian Perindustrian menyiapkan kerangka kebijakan strategis melalui konsep Strategi Baru Industrialisasi Nasional (SBIN). Skema ini disusun sebagai peta jalan penguatan industri manufaktur lintas sektor.
"Dengan karakter siklikal, padat modal, serta memiliki keterkaitan erat dengan sektor riil dan rantai pasok nasional, maka pengembangan industri keramik memerlukan arah kebijakan industri yang terstruktur, konsisten, dan berjangka panjang. Kami telah menyelesaikan konsep SBIN. Prinsipnya perlindungan pasar domestik, ekspansi ekspor dan orientasi global, investasi bernilai tambah, penguasaan teknologi dan pengembangan SDM, reformasi regulasi lintas sektor, pengembangan industri halal, serta penguatan backward dan forward linkage," jelas Agus.
Mengutip dokumen paparan Menperin Agus, tercatat pada tahun 2025, Indonesia berada di posisi kelima produsen terbesar keramik dunia. Posisi ini ditopang oleh 36 perusahaan dengan kapasitas terpasang sebanyak 650 juta m2, sedangkan utilisasi pada 2025 sebanyak 73% dengan menyerap sebanyak 150.000 tenaga kerja.
Posisi keempat ditempati oleh Vietnam, di atasnya ada Brasil, sedangkan India berada di posisi kedua dan China menempati posisi pertama produsen keramik terbesar dunia 2025.
Foto: Pelantikan Dewan Pengurus Asosiasi Keramik Indonesia (Asaki) di Kemenperin Selasa (3/2/2026). (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)
Pelantikan Dewan Pengurus Asosiasi Keramik Indonesia (Asaki) di Kemenperin Selasa (3/2/2026). (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)
(dce)
[Gambas:Video CNBC]

2 hours ago
2

















































