Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
10 March 2026 20:20
Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah dunia yang masih dibayangi perang dan ketegangan geopolitik, Indonesia tercatat tetap aktif memperkuat belanja pertahanannya.
Melansir laporan terbaru Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), Indonesia menempati posisi ke-18 sebagai importir senjata terbesar di dunia pada periode 2021-2025, dengan pangsa 1,5% dari total impor senjata global. Pangsa tersebut sedikit turun dibandingkan periode 2016-2020 yang sebesar 1,7%, dengan penurunan volume sekitar 4,1%.
Selain itu, Indonesia juga tercatat sebagai importir senjata terbesar di Asia Tenggara pada periode 2021-2025. Posisi ini menempatkan Indonesia di atas sejumlah negara lain di kawasan seperti Filipina, Singapura, dan Thailand yang masing-masing memiliki pangsa impor senjata sebesar 1,2%, 1,1%, dan 0,5%.
Meski laju impornya tidak seagresif beberapa negara lain yang belanjanya melonjak lebih tajam di tengah dinamika konflik global dan regional.
Jika dilihat lebih rinci, ada tiga negara yang menjadi pemasok utama senjata ke Indonesia sepanjang 2021-2025. Mulai dari Italia, Amerika Serikat, hingga Prancis.
Italia Jadi Pemasok Utama Senjata ke Indonesia
SIPRI mencatat, dalam periode 2021-2025, Italia menjadi sumber impor senjata terbesar Indonesia dengan porsi 40% dari total impor senjata RI. Komposisi ini menunjukkan bahwa pengadaan alutsista Indonesia dalam beberapa tahun terakhir sangat bertumpu pada tiga negara Barat tersebut.
Dari Italia, fokus utama pengadaan Indonesia terlihat kuat di sektor kapal perang. Fincantieri pada 2024, Fincantieri menandatangani kontrak pengadaan 2 kapal PPA (Multipurpose Combat Ship) untuk Indonesia. Yakni KRI Brawijaya yang sudah resmi diterima oleh Indonesia dan satu lagi KRI Prabu Siliwangi yang tengah dalam perjalanan dari Italia menuju Tanah Air.
Foto: Kementerian Pertahanan
KRI-Brawijaya 320
AS Jadi Pemasok Penting Alutsista RI
Amerika Serikat juga menjadi salah satu pemasok utama senjata bagi Indonesia. SIPRI mencatat porsi impor senjata Indonesia dari AS mencapai sekitar 16% dari total impor senjata RI pada periode 2021-2025.
Salah satu pengadaan utama Indonesia dari AS dalam periode tersebut adalah pesawat angkut taktis C-130J buatan Lockheed Martin. Berdasarkan sejumlah sumber, Indonesia membeli 5 unit C-130J, dan unit pertamanya telah dikirim pada 2023. Pengadaan ini untuk meningkatkan kemampuan TNI AU dalam memperkuat kemampuan angkut udara militer.
Foto: Pesawat C-130 J Super Hercules disambut dengan water salute di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma di Jakarta. (NurPhoto via Getty Images)
Pesawat C-130 J Super Hercules disambut dengan water salute di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma di Jakarta. (NurPhoto via Getty Images)
Selain pesawat angkut, kerja sama pertahanan Indonesia dengan AS juga mengarah pada pengadaan helikopter multiguna Black Hawk. Pada 2023, Sikorsky dan PT Dirgantara Indonesia menandatangani kerja sama strategis untuk mendorong pengadaan hingga 24 unit helikopter S-70M Black Hawk bagi Indonesia.
Jet Tempur dan Kapal Selam Jadi Andalan Impor dari Prancis
Prancis menjadi pemasok senjata terbesar ketiga bagi Indonesia, dengan porsi 14% dari total impor senjata RI pada periode 2021-2025.
Salah satu pengadaan alutsista Indonesia dari Prancis yang paling besar adalah pesawat jet tempur Rafale. Dassault Aviation menyatakan kontrak pembelian 42 unit Rafale oleh Indonesia ditandatangani pada Februari 2022.
Seluruh tahap kontrak tersebut kemudian resmi efektif penuh pada Januari 2024. Dengan demikian, dalam periode 2021-2025, Rafale menjadi salah satu pembelian pertahanan terbesar Indonesia dari Prancis.
Adapun, tiga unit pertama Rafale sudah tiba di Indonesia pada akhir Januari 2026 dan kini ditempatkan di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru.
Selain Rafale, Indonesia juga mengontrak 2 kapal selam Scorpene Evolved dari Naval Group bersama PT PAL. Kontrak ini diumumkan pada April 2024 dan mulai berlaku efektif pada Juli 2025. Kapal selam tersebut nantinya akan dibangun di Indonesia melalui skema transfer teknologi (transfer of technology/tot).
Foto: Anggota Militer Prancis berdiri di dekat pesawat jet tempur Dassault Rafale A330 MRTT yang terparkir di Apron Selatan, Lanud Halim, Jakarta, Rabu (26/7/2023). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Anggota Militer Prancis berdiri di dekat pesawat jet tempur Dassault Rafale A330 MRTT yang terparkir di Apron Selatan, Lanud Halim, Jakarta, Rabu (26/7/2023). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Ditengah kondisi dinamika geopolitik dunia yang sedang memanas, posisi Indonesia sebagai importir terbesar senjata di Asia Tenggara menunjukkan modernisasi alutsista masih menjadi fokus yang sangat penting.
Meski pangsa impor senjata Indonesia secara global sedikit menurun, hal ini belum tentu berarti belanja pertahanan melemah. Sebaliknya, kondisi tersebut bisa menjadi tanda bahwa industri pertahanan dalam negeri mulai mampu memenuhi lebih banyak kebutuhan alutsista nasional.
Artinya, penguatan pertahanan Indonesia ke depan tidak hanya bergantung pada impor, tetapi juga semakin ditopang oleh kemampuan produksi di dalam negeri.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Addsource on Google

4 hours ago
4

















































