Sentimen Pasar Pekan Depan
Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
09 August 2026 19:00
Jakarta, CNBC Indonesia - Pelaku pasar keuangan di Indonesia tampaknya harus bersiap-siap pada pekan depan, yakni 10-14 Agustus 2026, di mana perhatian pasar dalam negeri akan tertuju pada Pidato Kenegaraan dan Nota Keuangan RI Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027.
Sementara dari luar negeri, pelaku pasar akan memantau rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) dan data pertumbuhan ekonomi Inggris.
Pidato Kenegaraan dan Nota Keuangan RAPBN 2027
Perhatian masyarakat, pelaku usaha, hingga investor akan tertuju pada Sidang Bersama DPR, MPR, dan DPD RI yang akan digelar pada Jumat (14/8/2026). Momen ini menjadi penting karena Presiden Prabowo Subianto akan menyampaikan Pidato Kenegaraan sekaligus memaparkan arah kebijakan fiskal pemerintah untuk tahun anggaran 2027.
Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang digelar pada 16 Agustus, Sidang Bersama tahun ini dimajukan dua hari karena 16 Agustus 2026 jatuh pada Minggu.
Prabowo dijadwalkan menyampaikan Pidato Kenegaraan pada pagi hari. Pada siang harinya, Presiden akan menyampaikan Pidato Pengantar/Keterangan Pemerintah atas Rancangan Undang-Undang (RUU) APBN 2027 sekaligus Nota Keuangan.
Dua pidato tersebut akan menjadi sinyal penting bagi pasar.
Melalui Pidato Kenegaraan, Prabowo akan menyampaikan pencapaian 2026 dan prioritas pemerintah ke depan. Publik menunggu program prioritas apa saja yang akan menjadi tulang punggung 2027.
Program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) juga menjadi salah satu hal yang dinanti. Pasalnya, program tersebut bukan hanya menyangkut belanja negara, tetapi juga berkaitan dengan daya beli masyarakat, penyerapan produk dalam negeri, hingga aktivitas ekonomi di daerah.
Namun, perhatian terbesar pelaku pasar akan tertuju pada RAPBN 2027.
Lewat Nota Keuangan, pemerintah akan menunjukkan seberapa besar negara akan membelanjakan uang, dari mana pendapatan akan diperoleh, serta bagaimana pemerintah membiayai berbagai program prioritasnya.
Sejumlah indikator makro juga akan menjadi sorotan, mulai dari target pertumbuhan ekonomi, inflasi, nilai tukar rupiah, lifting minyak dan gas, hingga asumsi harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Oil Price/ICP).
Angka-angka tersebut bukan sekadar target di atas kertas. Bagi investor, angka tersebut menjadi gambaran mengenai arah kebijakan fiskal pemerintah. Bagi dunia usaha, angka tersebut menjadi petunjuk mengenai prospek permintaan, investasi, biaya usaha, hingga peluang bisnis pada 2027.
Sebelumnya dalam Rapat Paripurna DPR RI ke-23 Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025-2026, DPR menyampaikan dalam rapat pembahasan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) 2027, Badan Anggaran DPR (Banggar) dan pemerintah menyepakati RAPBN 2027, di mana pihaknya menargetkan pertumbuhan ekonomi di 2027 mencapai sekitar 5,8% hingga 6,5%.
"Dengan sasaran dan indikator pembangunan tahun 2027, telah disepakati, sasaran pembangunan untuk pertumbuhan ekonomi target tahun 2027 mencapai 5,8% sampai 6,5%," kata Wihadi dalam Rapat Paripurna, dikutip Jumat (3/7/2026).
Setelah adanya kesepakatan ini, pemerintah nantinya akan menjadikan rentang ukuran rancangan awal RAPBN 2027 sebagai bahan untuk menetapkan angka usulan awal Rancangan Undang-Undang (RUU) Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) beserta Nota Keuangannya pada 16 Agustus 2026.
RUU APBN 2027 itu nantinya akan dibahas lebih detail lagi bersama dengan Komisi XI DPR sebelum akhirnya ditetapkan sebagai UU pada akhir Oktober 2026.
Dalam kesepakatan awal, pemerintah dan Banggar DPR menyepakati sejumlah acuan awal dalam penyusunan RAPBN 2027, mulai dari asumsi ekonomi makro, target pembangunan, hingga postur makro fiskal.
Inflasi AS
Dari global, pelaku pasar juga akan memfokuskan perhatiannya pada data inflasi Amerika Serikat (AS) periode Juli 2026.
Pada rilis terakhir, AS mencatatkan deflasi bulanan (month-to-month/mtm) pada Juni 2026 yang mencapai 0,4%. Namun secara tahunan (year-to-year/yoy), Negeri Paman Sam masih mencatatkan inflasi sebesar 3,5% pada Juni 2026.
Sementara itu, inflasi inti atau core CPI tercatat turun menjadi 0% secara bulanan, namun naik menjadi 2,6% secara tahunan.
Pada periode Juli 2026, inflasi AS diperkirakan naik 0,1% secara bulanan dan sedikit turun menjadi 3,4% secara tahunan.
Inflasi AS kemungkinan akan menunjukkan meredanya tekanan harga yang berkaitan dengan energi, yang sebelumnya meningkat dalam beberapa bulan setelah AS memulai perang dengan Iran pada akhir Februari.
Harga bensin eceran turun pada awal Juli ke level terendah dalam hampir empat bulan, sebelum kembali naik hingga di atas US$4 per galon pada akhir bulan.
Data pertumbuhan ekonomi Inggris
Ekonomi Inggris diperkirakan akan mencatat pertumbuhan lagi pada kuartal ini karena bisnis-bisnis menemukan cara untuk mengatasi dampak perang Iran , tetapi beberapa industri diperkirakan akan mengalami tekanan yang semakin meningkat, menurut para ekonom.
Data dari Office for National Statistics yang diterbitkan pada Kamis lalu menunjukkan tingkat ketahanan ekonomi dalam menghadapi masalah rantai pasokan dan tekanan harga yang terkait dengan konflik, serta periode ketidakpastian politik.
Konsensus pasar memperkirakan produk domestik bruto (PDB) akan meningkat sebesar 0,4% pada kuartal II-2026.
Hal ini terjadi seiring dengan menguatnya sektor jasa - sektor yang paling dominan dalam perekonomian Inggris - pada bulan Mei, yang sebagian besar berasal dari jasa profesional dan penelitian serta pengembangan ilmiah.
Selain itu, data terbaru menunjukkan bahwa pabrik dan perusahaan manufaktur melakukan penimbunan stok sebagai antisipasi kekurangan pasokan dan kenaikan harga, yang telah membantu menjaga pertumbuhan tetap tinggi.
Namun, gambaran yang lebih lemah mungkin muncul mulai Juni karena gelombang panas membawa hasil yang beragam bagi bisnis dan beberapa industri berada di bawah tekanan yang meningkat, kata para ekonom.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(chd/chd)

4 hours ago
4

















































