Begini Cara Korsel atasi Panas Tanpa AC di Jaman Dulu

6 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Korea Selatan tengah dilanda gelombang panas hingga lebih dari 30 derajat Celcius baru-baru ini, menambah daftar negara yang tengah dilanda musim panas ekstrem akibat pemanasan global.

Presiden Korea Selatan (Korsel) Lee Jae-myung memerintahkan seluruh kementerian dan pemerintah daerah mengerahkan personel serta sumber daya secara maksimal. Perintah itu dikeluarkan sebagai respons terhadap gelombang panas ekstrem yang melanda Korea Selatan.

Instruksi itu berlaku hingga cuaca panas mereda. Perlu diketahui saat ini di Seoul, suhu diperkirakan mencapai puncaknya dengan kisaran 39 derajat Celcius Kamis ini (6/8/2026).

"Panas ekstrem dalam skala yang belum pernah kita alami terus terjadi dari hari ke hari," kata Lee Jae-myung dalam rapat penanganan gelombang panas, Kamis, seperti dikutip Channel News Asia (CNA).

Kondisi gelombang panas yang dulunya hanya kita lihat dalam berita luar negeri kini telah menjadi kenyataan kita," ujarnya.

Gelombang panas yang melanda Korea Selatan telah menewaskan lebih dari 20 orang. Jika prakiraan suhu 39 derajat Celcius di Seoul terwujud, kondisi tersebut akan mendekati rekor suhu tertinggi ibu kota sebesar 39,6 derajat Celcius yang tercatat pada Agustus 2018 saat negara itu mengalami gelombang panas bersejarah.

Badan Meteorologi Korea (KMA) melaporkan sejumlah wilayah mengalami malam tropis, dengan suhu hampir tidak turun di bawah 30 derajat Celcius sepanjang malam. Kondisi itu membuat banyak warga mencari perlindungan dari panas di sungai, pusat perbelanjaan, serta berbagai fasilitas berpendingin udara.

Panasnya suhu di Korea Selatan pun membuat penjualan pendingin udara (air conditioners/AC) meningkat tajam karena permintaan yang meninggi.

Samsung Electronics melaporkan penjualan AC domestiknya naik 50% pada kuartal I/2025 dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, LG Electronics mencatat kenaikan penjualan domestik hingga 60% dalam periode yang sama, seiring dengan musim panas yang lebih panas dari perkiraan.

Kenaikan penjualan AC ini terjadi meskipun pemerintah memperkirakan sekitar 98% rumah tangga dari total populasi 51 juta jiwa di Korea Selatan sudah memiliki AC.

Cara masyarakat Korsel atasi panas tanpa AC

Jauh sebelum penggunaan AC yang makin masif, masyarakat Korea di era pra-modern menghindari panasnya musim panas dengan hari libur terjadwal, sesi membaca maraton, dan festival desa di mana para petani mencuci cangkul mereka dan menghentikan pekerjaan sejenak, menurut catatan sejarah.

Institut Studi Korea merilis catatan pada Kamis untuk menggambarkan bagaimana orang-orang di era Silla (57 SM-935 SM), Goryeo (918-1392 SM), dan Joseon (1392-1910) mengambil langkah-langkah untuk mengistirahatkan tubuh dan pikiran mereka selama bulan-bulan terpanas dalam setahun.

Meskipun tidak ada konsep cuti berbayar tahunan, para pejabat menikmati hari libur institusional, para cendekiawan beralih ke buku dan pergaulan, dan para petani merayakan hari libur bersama.

Menurut lembaga tersebut, para pejabat Goryeo diberikan "chilga", istilah hari libur yang jatuh pada tanggal 1, 8, 15, dan 23 setiap bulan lunar atau kira-kira setiap tujuh hari. Mereka juga dapat mengambil cuti untuk memulihkan diri dari sakit, merawat orang tua, atau mengunjungi makam keluarga.

Pada masa Dinasti Joseon, masyarakat diberikan cuti untuk pernikahan, pemakaman, upacara penghormatan leluhur, dan tugas keluarga. Sementara Raja Sejong (1397-1450) memperkenalkan "sagadokseo", sebuah program cuti panjang yang memungkinkan pejabat sipil untuk meninggalkan pekerjaan kantor dan mengabdikan diri pada membaca dan menulis.

Bagi para pelajar, musim panas bukan hanya tentang bersantai, tetapi juga tentang belajar.

Jurnal-jurnal seperti "Haeju Ilnok" karya Nam Bun menggambarkan kebiasaan bangun subuh untuk melafalkan teks-teks Konfusianisme dan membaca puisi bahkan di hari-hari terpanas, menganggap membaca sebagai cara untuk menenangkan pikiran dan menahan cuaca.

Namun, mereka tidak hanya berdiam diri di meja kerja. Catatan menunjukkan para cendekiawan bergabung dengan para tetua desa dalam pesta "homissisi," atau "cuci cangkul", di mana para petani mencuci cangkul mereka di sungai setempat. Perayaan tersebut melibatkan berbagi makanan dan minuman untuk merayakan penyiangan terakhir musim ini, yang terkadang berlangsung selama beberapa hari.

Setelah penyiangan terakhir, penduduk desa membersihkan lumpur dari cangkul mereka dan menggantungnya untuk melambangkan jeda atau akhir dari kerja keras musim itu.

Untuk bersantai setelah kerja keras yang terlibat dalam memelihara sawah, penduduk desa menghabiskan hari itu atau beberapa hari untuk beristirahat bersama di tepi sungai atau di bawah naungan pohon, berbagi makanan dan minuman beralkohol, bermain musik, dan menari.

Perayaan ini, yang juga dikenal sebagai "putgut" di beberapa wilayah Gyeongsang bagian tenggara, memberi para petani kesempatan untuk saling menghargai kerja keras dan beristirahat bersama sambil menunggu panen musim gugur.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(chd/chd)

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |