Perusahaan Garmen China Ramai-ramai Serbu dan Bangun Pabrik di Jabar

1 hour ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) di Jawa Barat dalam beberapa tahun terakhir menghadapi tekanan berat. Sejumlah pabrik dilaporkan tutup, sementara sebagian lainnya memilih merelokasi produksi ke Jawa Tengah demi menekan biaya operasional.

Namun di tengah kondisi tersebut, kawasan industri di Jawa Barat justru mulai kedatangan investor baru dari China, khususnya di sektor garmen. Fenomena ini menunjukkan dinamika baru dalam peta industri tekstil nasional.

General Manager Sales & Tenant Relations Suryacipta Binawati Dewi mengatakan perusahaan-perusahaan garmen asal China mulai membangun pabrik di kawasan industri yang mereka kelola.

"Kalau dari paparan saya tadi ada beberapa pabrik garmen dari China seperti datang ke kami," kata Dewi.

Sektor garmen bahkan menjadi salah satu sektor yang paling banyak masuk ke kawasan industri tersebut jika dilihat dari jumlah perusahaan.

"Mungkin sekitar 35% tenant dari China yang masuk itu bergerak di sektor garmen," ujarnya.

Masuknya investasi baru ini cukup menarik perhatian karena terjadi di saat industri tekstil domestik sedang menghadapi berbagai tantangan. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah pabrik tekstil di Jawa Barat dikabarkan menutup operasi atau memindahkan produksinya ke daerah lain, terutama Jawa Tengah.

Relokasi tersebut umumnya dipicu oleh faktor biaya produksi, termasuk upah tenaga kerja serta efisiensi operasional. Jawa Tengah dinilai menawarkan biaya produksi yang lebih kompetitif bagi industri padat karya.

Meski demikian, Dewi menilai Jawa Barat masih memiliki daya tarik tersendiri bagi investor asing, terutama yang ingin memanfaatkan ekosistem industri yang sudah terbentuk.

"Kalau garmen biasanya satu pabrik itu lahannya sekitar 5 sampai 6 hektar," katanya.

Ukuran pabrik yang relatif kecil membuat sektor ini bisa tumbuh lebih cepat dari sisi jumlah tenant dibandingkan industri besar seperti otomotif.

"Kalau dari sisi jumlah memang garmen cukup banyak. Tapi kalau dari sisi ukuran lahan, otomotif tetap paling besar," ujar Dewi.

Ia menambahkan bahwa satu fasilitas otomotif bisa membutuhkan lahan hingga lebih dari 100 hektar, berbeda jauh dengan pabrik garmen yang skalanya lebih kecil.

Meski begitu, keberadaan beberapa pabrik garmen baru dari China dinilai bisa menjadi sinyal bahwa Jawa Barat masih menjadi tujuan investasi industri manufaktur.

"Sekarang ada beberapa pabrik garmen dari China yang sudah masuk dan mulai membangun fasilitas produksinya," katanya.

Tren masuknya investor garmen asing ini menunjukkan bahwa kawasan industri di Jawa Barat tetap memiliki daya saing di tengah tekanan yang dialami industri tekstil domestik.

"Kalau dilihat dari jumlah tenant, sektor garmen dari China memang cukup dominan di antara investor baru yang masuk," kata Dewi.

(fys/wur)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |