Jakarta, CNBC Indonesia - Konflik di Timur Tengah antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran mulai berdampak luas ke sektor energi global. Lonjakan harga energi akibat gangguan pasokan ikut mendorong permintaan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di berbagai negara.
Kenaikan harga bensin dan solar membuat biaya operasional kendaraan konvensional melonjak, sehingga konsumen beralih ke EV yang dinilai lebih hemat. Dampaknya terlihat dari peningkatan penjualan hingga kenaikan harga EV bekas di sejumlah pasar.
Rosco Jewell, pengusaha asal Sydney yang menjalankan platform Amazing EV, mengaku terjadi perubahan drastis dalam beberapa pekan terakhir. Jika sebelumnya ia hanya menjual satu EV bekas setiap dua bulan, kini penjualan meningkat menjadi satu unit setiap dua minggu.
"Sekarang sangat sulit menemukan EV bekas di kisaran harga US$20.000 hingga US$50.000 (Rp340 juta-Rp850 juta). Kami juga melihat harga naik 10% hingga 15%, bahkan dalam beberapa kasus mencapai 20%," kata Jewell, seperti dikutip Al Jazeera, Senin (27/4/2026).
Lonjakan permintaan ini tidak hanya terjadi di Australia. Di dua negara ekonomi terbesar dunia, yakni Amerika Serikat (AS) dan China, penjualan EV juga menunjukkan pemulihan setelah sempat melemah pada 2025.
Di China, penjualan bulanan melonjak 82,6% pada Maret, menurut Asosiasi Dealer Otomotif China. Sementara di AS, penjualan EV menembus 82.000 unit bulan lalu, naik lebih dari 20% dibanding Februari meski masih lebih rendah secara tahunan, menurut Cox Automotive.
Di Asia Tenggara, Vietnam mencatat pertumbuhan signifikan. Produsen lokal VinFast melaporkan lonjakan penjualan tahunan hingga 127% pada Maret.
Analis dari lembaga think tank energi Ember, Euan Graham, menilai perang di Iran mempercepat tren adopsi EV, terutama di negara berkembang yang rentan terhadap gejolak harga energi.
"Kita sekarang berada di periode 2020-an di mana telah terjadi dua guncangan bahan bakar fosil secara beruntun," kata Graham, merujuk juga pada krisis energi akibat perang Rusia-Ukraina.
"Apa yang biasanya terjadi adalah negara-negara mencari solusi alternatif, dan kini EV menjadi salah satu opsi yang semakin kompetitif," ujarnya, menambahkan bahwa kondisi ini berpotensi menciptakan perubahan permanen dalam adopsi kendaraan listrik di berbagai negara.
Lonjakan serupa juga terjadi di Jepang, Korea Selatan, hingga Eropa. Jepang mencatat penjualan EV hampir tiga kali lipat secara tahunan, sementara Korea Selatan melonjak 172%. Di Eropa, Prancis hingga negara-negara Nordik seperti Norwegia, Swedia, dan Denmark juga mengalami peningkatan signifikan, terutama untuk merek Tesla.
Di Australia, kendaraan listrik berbasis baterai menyumbang 14,6% dari total penjualan kendaraan pada Maret, hampir dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Lonjakan ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran atas pasokan energi. Meski dikenal sebagai eksportir besar energi, Australia masih mengimpor sekitar 80% kebutuhan bahan bakarnya dan hanya memiliki cadangan untuk sekitar satu bulan.
Di sisi lain, pemerintah New South Wales merespons situasi ini dengan menggelontorkan investasi senilai US$71 juta (Rp1,2 triliun) guna memperluas infrastruktur pengisian daya kendaraan listrik di wilayah regional. Dengan tekanan harga energi global yang belum mereda, peralihan ke kendaraan listrik diperkirakan akan terus menguat dalam waktu dekat.
(tfa/luc)
Addsource on Google

6 hours ago
2
















































