Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah volatilitas pasar, saham-saham perbankan dinilai masih memiliki prospek positif. Hal ini didukung pertumbuhan kredit yang solid dan potensi profitabilitas yang tinggi.
Pengamat Pasar Modal atau Stock Enthusiast Rita Effendy menjelaskan, sektor perbankan tetap menarik bagi para investor. Namun, pertumbuhan di sektor tersebut bakal lebih selektif. Dalam hal ini, ada saham bank yang unggul dari sisi yield dan potensi re-rating. Ada juga saham bank yang menawarkan daya tarik berupa stabilitas.
Kendati demikian, investor tetap perlu berhati-hati dalam waktu dekat sambil menunggu keputusan dari Morgan Stanley Capital International (MSCI). Dalam hal ini, MSCI berpotensi menggunakan data keterbukaan informasi mengenai daftar pemegang saham di atas 1% untuk menyesuaikan estimasi free float.
"Namun, MSCI belum akan langsung memasukkan data itu ke penilaian free float atau perhitungan indeks sampai review selesai dan masukan pelaku pasar dievaluasi. Tapi, jika data kepemilikan >1% dipakai, maka bisa terjadi penurunan Foreign Inclusion Factor (FIF)," ungkap Rita saat dihubungi CNBC Indonesia, Senin (27/4/2026).
Dirinya bilang, beberapa saham perbankan pun berpotensi terdampak jika MSCI jadi menerapkan kebijakan free float seperti itu. Pelemahan harga saham-saham perbankan dalam beberapa waktu terakhir juga diduga akibat adanya investor asing yang keluar usai keputusan MSCI. Namun, perlu diingat bahwa penurunan saham akibat outflow asing sebenarnya bisa dilihat sebagai peluang bagi investor berorientasi jangka panjang untuk melakukan buy on weakness secara bertahap.
Di sini, Rita memandang saham BBRI masih menarik lantaran adanya peluang rebound. Katalis utama bagi saham BBRI berasal dari perbaikan kualitas aset, termasuk pelepasan PT Permodalan Nasional Madani (PNM), penurunan biaya kredit, dan stabilisasi Net Interest Margin (NIM). Terlepas dari itu, momentum kenaikan saham BBRI tetap bergantung pada arah suku bunga acuan dan aliran dana asing.
Saham BBRI juga memiliki fundamental solid berkat dominasi di segmen mikro, profitabilitas tinggi, dan pendapatan berulang (recurring income) yang kuat. Di samping itu, BBRI juga menawarkan dividen yang tergolong atraktif dengan yield dobel digit dan dividend payout ratio (DPR) sekitar 90%, sehingga saham ini cocok untuk investor jangka panjang yang mengincar pertumbuhan dan keuntungan dividen.
"Valuasi (saham BBRI) saat ini di bawah historis atau cenderung terdiskon. Dengan perbaikan kualitas aset dan potensi pemulihan laba di 2026, ini lebih mengarah ke opportunity re-rating, dan bukan value trap," tandas Rita.
(dpu/dpu)
Addsource on Google

6 hours ago
2
















































