Pengusaha Sawit Resah Pupuk Tiba-Tiba Langka dan Harga Naik, Ada Apa?

5 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Kenaikan biaya produksi perkebunan mulai dirasakan pelaku industri sawit. Tidak hanya pestisida yang diproyeksikan melonjak 20%-30%, harga pupuk juga sudah mulai naik bahkan disebut mulai sulit ditemukan di pasar.

President Director PT Saraswanti Anugerah Makmur (Spesialis Pupuk) H. Yahya Taufik mengatakan, lonjakan harga pupuk sudah terjadi sejak tensi geopolitik memanas.

"Sudah mulai naik (harga pupuk). Sudah dia naik, hilang pula (barangnya)," kata Yahya kepada CNBC Indonesia saat ditemui di Jakarta, Kamis (12/3/2026).

Ia menjelaskan, salah satu yang terdampak paling keras adalah pupuk urea karena biaya bahan baku gas ikut melonjak.

"Ya semenjak yang perang ini (kenaikannya). Pupuk urea saja sudah dari Rp420 naik ke Rp720 per kg. Pupuk yang kena pukul keras itu urea, karena gasnya naik mahal," jelasnya.

Menurut Yahya, lonjakan harga pupuk dipicu oleh dua faktor utama, yakni konflik geopolitik serta kenaikan biaya energi dan logistik global.

"Itu terpukul dua hal. Di samping perang, yakni kenaikan BBM. Kemudian kapal juga menghindari Middle East (Timur Tengah). Mereka harus memutar ke Afrika," terang dia.

Gangguan logistik, katanya, juga terjadi di kawasan Laut Baltik yang menjadi jalur penting perdagangan dunia.

"Kemudian di Laut Baltik itu beku. Laut Baltik sekarang ada 100 kapal lebih. Tidak bisa keluar dari Laut Baltik. Dari St. Petersburg itu dan mostly potas nggak bisa keluar," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono mengatakan, kondisi tersebut membuat kenaikan harga input perkebunan sulit dihindari. Ia menilai bukan hanya pupuk yang akan naik, tetapi juga pestisida.

"Memang semuanya akan terjadi kenaikan. Bukan hanya pupuk, pestisida juga demikian. Nah yang pasti, nanti pemakaiannya akan kita tekan, untuk yang memang penting-penting sekali," kata Eddy dalam kesempatan yang sama.

Petani Sawit. (Dok. POPSI)Foto: Petani Sawit. (Dok. POPSI)
Petani Sawit. (Dok. POPSI)

Menurutnya, dalam kondisi biaya produksi yang meningkat, perusahaan maupun petani kemungkinan akan menahan penggunaan pupuk maupun pestisida, agar arus kas tetap terjaga.

"Semua akan naik. Naik saja, nanti tinggal pengaturan masing-masing pemakaiannya saja," ujarnya.

"Contoh, nanti pupuknya naik. Bisa jadi kayak di tingkat perusahaan maupun petani, pupuknya ditahan dulu. Tidak mereka langsung melakukan pemupukan seperti ini. Pasti begitu. Supaya cashflow mereka tetap masih bisa terjaga," lanjut dia.

Eddy menilai kondisi ini sulit dihindari karena dipicu faktor global yang berada di luar kendali pelaku usaha.

"Nggak bisa keberatan (dengan kondisi ini), mau keberatan bagaimana? Kondisi internasional. Jadi kita nggak bisa apa-apa," ujarnya.

Di sisi lain, Gapki juga memperkirakan tensi geopolitik global berpotensi memengaruhi permintaan pasar sawit dunia. Eddy mengatakan, kenaikan biaya logistik dapat membuat importir menahan pembelian.

"Kalau dampak ke pasar global.. kalau perang ini tidak selesai-selesai, sudah pasti permintaan juga akan turun. Kenapa begitu? Karena importir juga akan berpikir kalau biaya yang naik, biaya itu total sekarang transport," jelasnya.

Ia mengatakan, biaya pengiriman ekspor sawit saat ini sudah meningkat tajam. Dipengaruhi oleh kenaikan harga pengiriman yang harus ambil jalan memutar, hingga asuransi pengiriman.

"Untuk di sawit itu, kita ekspor kan rata-rata kenaikannya 50%. Biaya untuk freight dan insurance. Ada bahkan sebenarnya biaya tambahan lain, tapi nggak usah saya sebutin lah. Malah lebih dari itu. Kalau harus memutar tadi," kata Eddy.

"Ini mereka akhirnya bisa mengurangi pembelian," sambungnya.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Gapki Hadi Sugeng Wahyudiono mengatakan, pelaku industri saat ini hanya bisa melakukan efisiensi sambil memantau perkembangan situasi global.

"Apa yang dilakukan oleh Gapki terkait dengan adanya perang ini, ya kita lebih mengefisiensikan diri lah. Tetap kita membuat skenario di masing-masing internal perusahaan. Apa yang bisa diefisiensikan ya kita efisiensikan," kata Sugeng.

Ia mengatakan, pelaku industri sawit saat ini hanya bisa beradaptasi dengan berbagai dampak global yang terjadi.

"Karena kita tidak bisa menolak kalau ada dampak global yang terjadi, ya kita mesti given kan. Jadi pada prinsipnya ya kita berbenah di internal lah. Sambil juga ya kita terus wait and see melihat perkembangan yang ada. itu saja," pungkasnya.

(wur)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |