Jakarta, CNBC Indonesia - Perdana Menteri (PM) Jepang Sanae Takaichi diperkirakan akan mengumumkan partisipasi resmi Tokyo dalam sistem pertahanan rudal Amerika Serikat (AS) yang dikenal sebagai "Golden Dome" saat bertemu dengan Presiden Donald Trump pekan depan. Langkah besar ini menandai babak baru dalam aliansi pertahanan kedua negara di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Asia Timur.
Sistem yang dipromosikan sebagai perisai pertahanan rudal generasi masa depan tersebut dirancang untuk melindungi wilayah dari ancaman udara yang semakin canggih. Kepala Pentagon Pete Hegseth tahun lalu menyatakan bahwa Golden Dome untuk Amerika secara progresif akan melindungi bangsa kita dari serangan udara dari musuh manapun, termasuk melalui pencegat dan sensor berbasis ruang angkasa.
Berdasarkan laporan harian Jepang, Yomiuri, yang mengutip beberapa sumber pemerintah yang tidak disebutkan namanya pada Jumat (13/03/2026), Takaichi dijadwalkan akan membahas inisiatif tersebut dengan Trump dalam pertemuan mereka yang direncanakan pada 19 Maret mendatang di Washington.
"Dalam pertemuan itu, Takaichi akan menyampaikan secara langsung niat Jepang untuk bergabung dalam proyek prestisius tersebut," ujar sumber itu sebagaimana dikutip juga oleh AFP.
Kerja sama ini memiliki tujuan strategis bagi kedua negara untuk menghadapi ancaman teknologi militer terbaru dari rival global mereka. Yomiuri menyebutkan bahwa tujuannya adalah agar kedua sekutu tersebut dapat secara bersama-sama mengembangkan pencegat dan jaringan satelit sebagai kekuatan lawan terhadap kendaraan luncur hipersonik atau hypersonic glide vehicles (HGV) yang tengah dikembangkan oleh China dan Rusia.
Ancaman dari senjata hipersonik ini memang menjadi perhatian serius bagi otoritas pertahanan global karena kecepatannya yang luar biasa. Kendaraan luncur hipersonik atau HGV tersebut dikatakan mampu terbang dengan kecepatan setidaknya Mach 5 atau lima kali kecepatan suara, sehingga sulit dideteksi oleh sistem pertahanan konvensional.
Melalui keikutsertaan dalam inisiatif Golden Dome, Tokyo berharap dapat memperkuat benteng pertahanannya sendiri secara signifikan. Yomiuri melaporkan bahwa dengan berpartisipasi dalam inisiatif Golden Dome, Jepang ingin meningkatkan kemampuan pertahanan dirinya sendiri guna merespons dinamika keamanan yang kian tidak menentu.
Langkah ini juga sejalan dengan kebijakan luar negeri Jepang yang belakangan ini mulai meninggalkan prinsip pasifis ketat yang dianutnya selama puluhan tahun pasca-Perang Dunia II. Jepang tercatat terus bergerak untuk memperoleh kemampuan "serangan balik" dan berkomitmen melipatgandakan pengeluaran militer menjadi dua persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Keseriusan Takaichi dalam memperkuat militer terlihat dari alokasi dana yang sangat besar dalam anggaran negara terbaru. Pada bulan Desember lalu, pemerintah menyetujui rekor anggaran untuk tahun fiskal mendatang yang dimulai bulan depan, termasuk rekor 9 triliun yen (Rp 950,4 triliun) untuk pengeluaran pertahanan.
(tps/sef)
Addsource on Google

2 hours ago
3

















































