Ini Daftar Emiten Free Float Kecil Favorit Investor RI

1 hour ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Isu mengenai porsi kepemilikan saham publik atau free float terus menjadi topik hangat di lantai bursa. Sorotan ini muncul seiring dengan perubahan regulasi free float dari 7,5% ke 15%. Ketatnya standar indeks global MSCI serta langkah agresif Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang terus memperbaiki dinamika pasar yang sedang terjadi pada saat ini.

Kendati pengawasan regulator semakin ketat, saham-saham dengan free float terbatas justru memiliki daya tarik tersendiri bagi pelaku pasar terutama investor ritel. Fenomena ini menciptakan dinamika harga yang menarik untuk dicermati, khususnya bagi investor ritel yang mencari volatilitas tinggi.

Daya Tarik di Balik Likuiditas Ketat

OJK terus mendorong emiten untuk mematuhi aturan free float minimal 7,5% guna menjaga kewajaran pembentukan harga. Namun, di pasar reguler, saham dengan porsi publik yang belum mengikuti standar (di bawah 15%) sering kali menjadi primadona spekulasi.

Alasannya sederhana yaitu karena jumlah lembar saham yang beredar di masyarakat sangat sedikit, harga saham-saham ini menjadi lebih "ringan" untuk digerakkan. Volatilitas inilah yang kerap dimanfaatkan para trader untuk mencari keuntungan jangka pendek, meskipun bayang-bayang risiko likuiditas selalu mengintai.

Apa Saja Emitennya?

Berikut adalah rekapitulasi kinerja 10 saham dengan free float tipis yang paling ramai diperdagangkan. Dalam periode enam bulan terakhir (akhir Juli 2025 hingga penutupan 3 Februari 2026), tercatat pergerakan harga yang sangat variatif.

Kontras Kinerja Lapis Kedua vs Big Cap

Data di atas menunjukkan anomali yang cukup mencolok. Saham-saham lapis kedua dan ketiga seperti ESTI dan PGUN berhasil mencetak keuntungan fantastis hingga ratusan persen (multibagger). Kenaikan ini didorong oleh aksi spekulatif ritel yang memanfaatkan momentum likuiditas ketat untuk mengerek harga.

Sebaliknya, emiten grup konglomerasi besar seperti TPIA dan CDIA milik konglomerat Prajogo Pangestu justru mengalami tekanan koreksi yang paling tajam imbas dari perubahan kebijakan pasar modal di Indonesia secara keseluruhan.

Saham-saham berkapitalisasi besar ini cenderung lebih sensitif terhadap sentimen institusi dan risiko rebalancing indeks akibat isu free float tersebut sehingga aksi sell-off terjadi di bursa terhadap emiten ini hingga ARB beberapa kali dalam beberapa hari ini.

Waspada Risiko Pembalikan Arah

Para analis pasar modal kembali mengingatkan bahwa strategi berinvestasi pada saham free float rendah ibarat pedang bermata dua. Potensi keuntungan jumbo selalu beriringan dengan risiko likuiditas yang nyata.

Ketika sentimen pasar berbalik negatif, antrean beli (bid) bisa mendadak hilang, membuat investor terjebak dan sulit mencairkan asetnya. Maupun sebaliknya terkadang ketika emiten sedang ARB, offer dari emiten tersebut bisa langsung hilang.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |