Jakarta, CNBC Indonesia - Imbas perang yang dimulai Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran, bukan cuma memicu kekhawatiran terkait harga minyak yang membludak. Kondisi hampir lumpuh di Selat Hormuz juga menimbulkan kecemasan terkait lonjakan harga komoditas yang digunakan dalam berbagai sektor, mulai dari pertanian hingga manufaktur semikonduktor.
Awal bulan ini, Qatar menutup salah satu pusat energi terbesar di dunia karena serangan drone. Hal itu menghentikan produksi gas alam cair dan helium. Gangguan tersebut berdampak pada sekitar sepertiga dari pasokan helium global, menurut perkiraan Bloomberg.
Helium memiliki kegunaan penting, termasuk dalam pencitraan resonansi magnetik (MRI) dan pengelasan, serta manufaktur elektronik dan semikonduktor, yang mengonsumsi sebagian besar pasokan dunia. Helium sangat penting untuk mendinginkan chip dengan cepat selama proses fabrikasi guna mencegah panas berlebih dan kerusakan.
Kurangnya pasokan helium global akan menambah krisis chip yang sudah melanda dunia sejak akhir 2025 lalu. Selain itu, hal ini akan menghambat industri 'harta karun' AS dan dunia, yakni pengembangan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Meskipun AS memproduksi sebagian besar helium yang dikonsumsinya, negara-negara Asia mengimpor sebagian besar helium mereka. Taiwan memproduksi lebih dari 60% chip dunia, termasuk 90% chip tercanggih, dengan Jepang dan Korea Selatan juga menjadi pusat semikonduktor utama.
"Kita tahu bahwa TSMC dan Hynix sangat bergantung dengan aliran helium dari Qatar (kemungkinan sekitar 40%-50%, atau lebih), artinya mereka harus mengandalkan cadangan dalam beberapa bulan mendatang," tulis ekonom Andreas Steno Larsen, pendiri Steno Research, dikutip dari Yahoo Finance, Senin (16/3/2026).
"Ini berpotensi menjadi hambatan bagi keseluruhan perkembangan AI," tambahnya.
Beberapa pelaku pasar mencatat harga spot helium telah naik hingga 50%. Namun, kenaikan tersebut tidak berlaku untuk kontrak yang sudah ada, yang mendominasi industri ini.
"Terlambat karena rantai pasokannya cukup panjang," kata Phil Kornbluth, presiden Kornbluth Helium Consulting, kepada Yahoo Finance.
Sebuah kapal kargo dikatakan membutuhkan waktu beberapa minggu untuk sampai ke tujuannya, sehingga tidak ada defisit langsung sampai kapal tersebut tidak sampai di tempat yang seharusnya.
"Jika kondisi ini berlanjut dan Selat Hormuz tetap tutup hingga 6 bulan atau 1 tahun, ini akan benar-benar menjadi tantangan besar," kata dia.
(fab/fab)
Addsource on Google

5 hours ago
2

















































