Doyan Ngutang, Amerika Harus Bayar Bunga Rp 16.800 Triliun

3 hours ago 5

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

11 March 2026 16:15

Jakarta, CNBC Indonesia - Kondisi fiskal Amerika Serikat (AS) kembali jadi perhatian karena laju penambahan utang masih tinggi di tengah belanja pemerintah yang terus membengkak.

Dalam lima bulan pertama tahun fiskal 2026 AS atau hingga Februari 2026, pemerintah AS diperkirakan mencatat defisit sekitar US$1 triliun atau setara dengan Rp16.865 triliun (asumsi kurs Rp16.865/US$1).Perlu diketahui, tahun fiskal di Amerika Serikat tidak mengikuti tahun kalender. Tahun fiskal 2026 di AS dimulai pada 1 Oktober 2025 dan akan berakhir pada 30 September 2026.

Kondisi tersebut dilansir dari laporan bulanan Congressional Budget Office (CBO) yang diperbarui hingga Februari 2026. Selain itu, pemerintah AS juga diperkirakan membukukan tambahan pinjaman atau utang sebesar US$308 miliar hanya dalam satu bulan terakhir.

Bunga Utang Tembus Ratusan Miliar Dolar

Meningkatnya utang otomatis mendorong naik beban bunga yang harus dibayar pemerintah. Dari Oktober 2025 hingga Februari 2026, Kementerian Keuangan AS mengeluarkan tambahan US$31 miliar atau sekitar Rp 522,82 triliun untuk membayar bunga bersih utang publik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dengan kenaikan itu, total pembayaran bunga utang publik AS dalam lima bulan pertama tahun fiskal 2026 sudah mencapai US$433 miliar atau sekitar Rp 7.302,55 triliun untuk membayar kewajiban bunga utang.

CBO menjelaskan kenaikan beban bunga ini terjadi karena total utang pemerintah kini lebih besar dibandingkan tahun lalu, sementara suku bunga jangka panjang juga masih berada di level lebih tinggi.

Meski begitu, penurunan suku bunga jangka pendek sedikit menahan laju kenaikan pembayaran bunga secara keseluruhan.

Defisit Sedikit Membaik, Tapi Belum Menenangkan Pasar

Meski angkanya masih sangat besar, defisit fiskal AS saat ini sebenarnya sedikit lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada lima bulan pertama tahun fiskal 2025 pemerintah AS harus menambah pinjaman US$142 miliar lebih banyak dibandingkan tahun ini.

Namun, perbaikan itu dinilai belum cukup untuk meredakan kekhawatiran terhadap kesehatan fiskal AS. Presiden Committee for a Responsible Federal Budget, Maya MacGuineas, menilai kondisi ini tidak bisa dibiarkan terus berlangsung.

Ia memperingatkan bahwa pembayaran bunga utang pemerintah AS diperkirakan akan menembus US$1 triliun tahun ini atau Rp 16.865 triliun, dan bahkan bisa melampaui US$2 triliun pada 2036.

Menurutnya, pemerintah AS perlu segera menata kembali kondisi fiskalnya. Salah satu langkah awal yang dinilai penting adalah menurunkan defisit hingga setara 3% terhadap produk domestik bruto (PDB).

Yang Dikhawatirkan Bukan Sekadar Besar Utangnya

Dalam pandangan banyak ekonom, persoalan utama bukan semata-mata besarnya total utang pemerintah. Utang negara justru menjadi salah satu fondasi penting bagi sistem keuangan global.

Namun, yang menjadi perhatian adalah rasio utang terhadap PDB, yaitu ukuran yang membandingkan besarnya utang dengan kapasitas ekonomi suatu negara.

Jika utang tumbuh terlalu besar dibandingkan kemampuan ekonomi, pemerintah akan semakin terbebani oleh pembayaran bunga. Kondisi ini pada akhirnya bisa menekan ruang belanja produktif dan menghambat pertumbuhan.

Selain itu, target defisit terhadap PDB juga menjadi ukuran penting untuk melihat kesehatan fiskal. Dalam beberapa tahun terakhir, rasio defisit AS terhadap PDB berada di kisaran 5% hingga 6%, jauh di atas target 3% yang dinilai lebih sehat.

Penerimaan Negara Naik, Belanja Tetap Membengkak

Jika dilihat lebih dalam, defisit AS yang sedikit membaik dalam lima bulan pertama tahun fiskal 2026 bukan karena pemerintah mengurangi belanja. Justru sebaliknya, pengeluaran tetap naik. Perbaikan itu terjadi karena pendapatan pemerintah juga meningkat, sehingga kenaikan belanja bisa sedikit tertahan.

Penerimaan dari bea masuk, termasuk tarif, melonjak lebih dari empat kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu, atau naik US$109 miliar.

Meski sebagian pungutan pada 2025 harus dikembalikan kepada importir AS setelah putusan Mahkamah Agung AS pada Februari lalu, tambahan tarif baru yang diumumkan pemerintah membuat dampak kekurangan penerimaan tetap relatif terbatas.

Selain itu, penerimaan dari pajak penghasilan individu dan pajak gaji atau iuran jaminan sosial juga naik signifikan. Secara gabungan, dua pos ini bertambah sekitar US$132 miliar.

Namun di sisi lain, belanja pemerintah AS juga tetap meningkat. Dalam lima bulan pertama tahun fiskal 2026, total pengeluaran mencapai US$3,1 triliun, atau naik US$64 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Tiga program belanja terbesar pemerintah AS, yakni jaminan sosial, Medicare, dan Medicaid, menjadi penyumbang utama kenaikan tersebut. Belanja untuk ketiga program itu naik sebesar US$104 miliar.

Melihat kondisi ini, tekanan terhadap fiskal AS tampaknya belum akan cepat mereda. Selama belanja tetap tinggi dan bunga utang terus membesar, pemerintah AS masih akan menghadapi tantangan besar untuk menjaga keseimbangan anggaran di tengah perlambatan ruang fiskal.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |