Biaya Perang Amerika dari Masa ke Masa: Bakar Duit Rp135.000 Triliun

5 hours ago 2

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

14 March 2026 09:45

Jakarta, CNBC Indonesia - Perang selalu datang dengan biaya yang sangat besar. Di balik peluncuran rudal, pengerahan kapal induk, dan berbagai operasi militer, ada tagihan yang nilainya bisa mencapai miliaran hingga triliunan dolar Amerika Serikat (AS). Biaya itu pun tidak hanya muncul saat perang berlangsung, tetapi juga terus membebani negara bertahun-tahun setelah konflik selesai.

Amerika Serikat menjadi salah satu contoh paling jelas. Sebagai negara dengan kekuatan militer terbesar di dunia, AS telah menggelontorkan dana dalam jumlah sangat besar untuk membiayai perang dan operasi militer di berbagai kawasan.

Mulai dari perang pasca-serangan 11 September 2001 (9/11) atau dalam 25 tahun terakhir, bantuan militer ke Israel, hingga operasi terbaru di Timur Tengah, semuanya menunjukkan bahwa perang adalah keputusan yang sangat mahal.

Data ongkos perang AS tergambar dalam Proyek Costs of War melakukan dan mempublikasikan penelitian mengenai dampak berkelanjutan dari perang Amerika Serikat setelah serangan 11 September, termasuk perang di Afghanistan, Irak, dan wilayah lainnya; biaya dari operasi militer global Amerika Serikat; serta dampak domestik dari belanja militer AS.

Didirikan pada 2010 dan berpusat di Brown University's Watson Institute for International and Public Affairs, proyek Costs of War dibangun atas kontribusi lebih dari 70 akademisi, pakar, aktivis hak asasi manusia, dan dokter dari berbagai negara di dunia.

Warisan Mahal Perang Pasca-9/11

Biaya perang AS dalam dua dekade terakhir tercatat sangat besar. Berdasarkan temuan Costs of War Project dari Brown University, total ongkos perang-perang pasca-serangan 9/11, termasuk perang di Afghanistan dan Irak serta operasi militer di Pakistan, Suriah, dan sejumlah wilayah lain, mencapai sekitar US$8 triliun atau sekitar Rp135.200 triliun (US$1= Rp 16.900).

Operasi militer Amerika Serikat dalam perang melawan terorisme ternyata masih berlangsung luas di berbagai belahan dunia. Penelitian terbaru menunjukkan Washington menjalankan operasi kontra-terorisme di puluhan negara selama beberapa tahun terakhir.

Antropolog sekaligus Direktur proyek Costs of War, Stephanie Savell, yang juga Senior Fellow di Brown University, mencatat bahwa antara 2021 hingga 2023 pemerintah Amerika Serikat melakukan operasi kontra-terorisme di 78 negara.

Operasi tersebut mencakup pertempuran darat di sedikitnya sembilan negara serta serangan udara di setidaknya empat negara selama tiga tahun pertama pemerintahan Joe Biden.

Meski demikian, jumlah negara yang menjadi lokasi operasi tersebut sebenarnya sedikit menurun dibandingkan periode 2018-2020, ketika operasi kontra-terorisme AS tercatat berlangsung di 85 negara.

Angka tersebut bahkan belum memasukkan biaya bunga utang di masa depan. Artinya, beban perang yang sebenarnya berpotensi lebih besar lagi, karena sebagian pembiayaan dilakukan melalui utang yang pada akhirnya menambah kewajiban pemerintah dalam jangka panjang.

Biaya perang juga tidak berhenti saat pertempuran usai. Brown University memperkirakan ongkos perawatan veteran perang pasca-9/11 akan mencapai US$2,2 triliun hingga US$2,5 triliun pada 2050. Sebagian besar beban tersebut bahkan masih belum sepenuhnya dibayarkan hingga saat ini.

Bukan Hanya Perang, Rivalitas Juga Mahal

Pengeluaran militer AS tidak hanya melonjak saat perang terbuka pecah. Dalam laporan yang sama, AS disebut menghabiskan sekitar US$260 miliar per tahun sejak 2012 untuk menghadapi China secara militer, seiring strategi pivot to Asia yang dimulai pada era Presiden Barack Obama.

Hal ini menunjukkan bahwa biaya militer tidak selalu muncul dalam bentuk perang terbuka. Ketegangan geopolitik, perlombaan persenjataan, dan penempatan kekuatan militer di kawasan strategis juga sama-sama menelan anggaran  yang sangat besar.

Bantuan ke Israel Pasca Serangan Hamas 

Beban baru kembali muncul setelah serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023. Menurut Costs of War Project, dalam dua tahun setelah serangan tersebut, pemerintah AS telah menggelontorkan US$21,7 miliar untuk bantuan militer ke Israel.

Selain itu, AS juga disebut menghabiskan tambahan sekitar US$9,65 miliar hingga US$12,07 miliar untuk operasi militer di Yaman dan kawasan sekitarnya. Jika digabung, total pengeluaran AS untuk perang-perang pasca-7 Oktober 2023 mencapai sekitar US$31,35 miliar hingga US$33,77 miliar, dan angkanya masih terus bertambah.

Perang AS-Iran 2026: Enam Hari, Sudah Tembus US$11,3 Miliar

Besarnya biaya perang juga terlihat dari konflik terbaru AS dengan Iran. Dalam pengarahan tertutup kepada anggota parlemen AS, Pentagon menyebut biaya perang melawan Iran telah menembus lebih dari US$11,3 miliar hanya dalam enam hari pertama.

Namun, angka tersebut diyakini belum menggambarkan seluruh biaya perang yang sebenarnya. Estimasi awal itu disebut lebih banyak mencakup pengeluaran untuk amunisi, sementara sejumlah komponen lain kemungkinan belum sepenuhnya dihitung, seperti pengerahan pasukan ke kawasan, biaya medis, logistik, hingga penggantian pesawat militer yang hilang dalam perang.

Dengan kata lain, angka US$11,3 miliar itu kemungkinan baru sebagian dari total biaya yang pada akhirnya harus ditanggung.

Ada Ongkos Senjata yang Sangat Besar

Dalam perang terbaru antara Amerika Serikat (AS) dan Iran pada 2026, tingginya biaya operasi militer tidak lepas dari penggunaan amunisi presisi yang harganya sangat mahal. Pada awal serangan, AS disebut menggunakan senjata canggih seperti AGM-154 Joint Standoff Weapon, yakni bom luncur dengan harga sekitar US$578.000 hingga US$836.000 per unit.

Seiring berjalannya operasi, Pentagon disebut mulai beralih ke amunisi yang lebih murah, seperti Joint Direct Attack Munition (JDAM). Untuk jenis ini, hulu ledak terkecilnya berharga sekitar US$1.000, sedangkan kit pemandunya sekitar US$38.000.

Perubahan ini menunjukkan bahwa dalam perang AS-Iran terbaru, biaya militer tidak hanya dipengaruhi oleh banyaknya serangan, tetapi juga oleh jenis senjata yang digunakan.

Pada tahap awal, pemakaian amunisi presisi berbiaya tinggi membuat ongkos perang melonjak sangat cepat. Setelah itu, penggunaan senjata yang lebih murah menjadi salah satu cara untuk menekan laju pembengkakan biaya.

Meski demikian, penggunaan senjata canggih dalam tempo cepat tetap berisiko menguras persediaan. Jika konflik berlangsung lebih lama, kondisi ini bisa mendorong kebutuhan anggaran tambahan untuk mengisi kembali stok amunisi dan perlengkapan militer AS.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |