Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Donald Trump menghadapi dilema besar dalam konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang kini telah berlangsung hampir dua pekan. Meski operasi militer AS dan Israel disebut berhasil secara taktis, sejumlah analis menilai Washington belum bisa mengklaim kemenangan.
Sejumlah perkembangan terbaru, termasuk penutupan jalur minyak vital Selat Hormuz oleh Iran, justru menunjukkan konflik semakin kompleks dan sulit dikendalikan. Seorang mantan perwira Angkatan Laut AS, Lawrence Brennan, menilai kemenangan tidak mungkin dicapai selama jalur perdagangan minyak tersebut masih tertutup.
"Anda tidak bisa menyebut ini kemenangan jika Selat Hormuz tidak dapat digunakan. Selat Hormuz harus dibuka kembali untuk perdagangan internasional, dan itu adalah hal yang sangat sulit-bahkan mungkin mustahil-dilakukan dalam kondisi saat ini," katanya dimuat CNN International, akhir pekan, dikutip Senin (16/3/2026).
Brennan, yang pernah bertugas di kapal induk USS Nimitz saat krisis sandera Iran 1979-1981, juga mengingatkan bahwa perang kemungkinan akan berlangsung lama.
"Seberapa pun saya menghargai optimisme presiden, menyatakan kemenangan setelah satu atau dua hari jelas bukan langkah yang tepat. Konflik ini kemungkinan akan berlangsung jauh lebih lama dari yang kita harapkan," tambahnya.
Ini mematahkan klaim-klaim Presiden AS Donald Trump, yang sempat mengatakan operasi militernya berhasil. Ia bahkan menyatakan kemenangan sudah diraih sejak awal konflik.
"Situasi dengan Iran berkembang sangat cepat. Semuanya berjalan sangat baik. Militer kami tidak tertandingi. Belum pernah ada yang seperti ini," kata Trump.
"Biar saya katakan, kita sudah menang. Anda tahu, biasanya orang tidak ingin mengatakan terlalu cepat bahwa mereka menang. Tapi kita menang. Kita menang. Dalam satu jam pertama semuanya sudah berakhir, tetapi kita menang," ujarnya.
Lalu, apa saja faktanya? Berikut tujuh alasan mengapa Trump disebut tak menang perang melawan Iran?
1.Krisis Selat Hormuz
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran menjadi salah satu tantangan terbesar bagi Amerika Serikat. Jalur ini merupakan rute utama bagi sekitar 20% perdagangan minyak dunia. Direktur analisis militer di lembaga riset Defense Priorities, Jennifer Kavanagh, mengatakan tidak ada solusi militer cepat untuk membuka jalur tersebut.
"Tidak ada cara yang benar-benar baik untuk membuka Selat Hormuz dengan kekuatan militer, karena Iran bisa terus menutupnya hanya dengan sejumlah kecil drone murah," katanya.
"Sejak sebelum perang dimulai, banyak dari kami sudah mengatakan bahwa tantangan yang ditimbulkan Iran adalah tantangan politik yang membutuhkan solusi politik. Program rudal balistik dan nuklir Iran juga membutuhkan solusi politik. Hal yang sama berlaku untuk persoalan ini," tambahnya.
2.Pemimpin Baru Iran
Konflik juga semakin rumit setelah terbunuhnya pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei dalam serangan awal perang, yang kemudian digantikan oleh putranya Mojtaba Khamenei.
Perubahan kepemimpinan ini memunculkan narasi baru bahwa operasi militer mungkin berhasil secara taktis, namun tidak mencapai tujuan politik yang lebih luas.
3.Sikap Israel
Sikap Israel juga menjadi tanda tanya. Jika suatu saatTrump memutuskan untuk mengakhiri perang karena alasan politik, belum tentu Israel akan menyetujui keputusan tersebut.
Negara itu dinilai lebih terbiasa dengan kemungkinan perang jangka panjang karena posisi geografisnya. Bahkan sudah ada tanda-tanda bahwa tujuan strategis AS dan Israel tidak sepenuhnya sejalan, terutama setelah Israel menyerang infrastruktur minyak milik Iran.
Trump mengatakan pada Minggu bahwa keputusan untuk mengakhiri perang akan menjadi "keputusan bersama" antara dirinya dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Pernyataan ini kembali memunculkan kekhawatiran bahwa negara asing memiliki pengaruh terlalu besar terhadap keputusan militer seorang presiden Amerika.
Serangkaian perang dan operasi militer yang sering dilakukan Israel-di wilayah seperti Gaza, Lebanon, Iran, dan Suriah-menunjukkan bahwa negara tersebut memandang keamanan regional sebagai misi berkelanjutan. Bukan konflik dengan batas waktu kemenangan yang jelas seperti yang diharapkan Trump.
4.Narasi Perang yang Tak Jelas
Narasi perang yang dilakukan ASA juga tak jelas. Kebingungan dan kontradiksi dalam penjelasan pemerintah mengenai tujuan perang, apakah untuk menghancurkan program nuklir, Israel, minyak Iran.
Hal inidapat menyulitkan pembentukan narasi kemenangan, terutama jika perkembangan di Timur Tengah terus lepas dari kendali Trump. Saat ini negara Arab juga dilaporkan mulai kecewa dengan berlarut-larutnya perang ke AS.
5.Nuklir Iran
Trump mengklaim bahwa serangan militer telah semakin menghancurkan program nuklir Iran, yang sebelumnya ia sebut telah "dilumpuhkan sepenuhnya" melalui serangan udara tahun lalu. Namun jika Iran masih menyimpan cadangan uranium yang diperkaya tinggi, Teheran secara teoritis masih memiliki peluang untuk memulai kembali program nuklirnya di masa depan.
Minggu ini muncul spekulasi bahwa Trump mungkin akan memerintahkan operasi pasukan khusus untuk mengamankan material radioaktif tersebut. Namun langkah ini akan membutuhkan pasukan darat dalam jumlah besar dan membawa risiko yang sangat tinggi.
Badan pengawas nuklir PBB memperkirakan masih terdapat sekitar 200 kilogram uranium yang diperkaya tinggi di fasilitas nuklir Isfahan. Tanpa menghilangkan cadangan tersebut, Washington tidak dapat sepenuhnya memastikan ambisi nuklir Iran telah berakhir.
6.Situasi Politik Iran yang Stagnan
Trump memulai perang dengan menyatakan kepada rakyat Iran bahwa "waktu kebebasan Anda telah tiba", serta bahwa mereka memiliki kesempatan langka untuk bangkit melawan pemerintahan teokratis mereka. Namun sejauh ini tidak ada tanda-tanda pemberontakan publik seperti yang diharapkan.
Banyak analis justru memperkirakan kemungkinan yang lebih realistis adalah tindakan represif baru dari pemerintah setelah serangan Amerika dan Israel berakhir. Meski Trump masih dapat mengklaim kemenangan strategis jika ancaman Iran terhadap Timur Tengah berhasil dilemahkan, hasil tersebut tetap jauh dari retorika awal perang yang disampaikan secara publik.
7.Ketidakpastian Politik di AS
Selain tantangan militer, Trump juga menghadapi tekanan politik domestik. Kenaikan harga minyak akibat konflik mulai berdampak pada harga bahan bakar di Amerika. Jika perang berlangsung lebih lama, tekanan ekonomi dan meningkatnya korban jiwa berpotensi memengaruhi dukungan publik terhadap kebijakan militer tersebut.
Sejumlah analis juga menilai kemenangan dalam perang modern jarang bersifat jelas dan cepat seperti kemenangan Sekutu dalam Perang Dunia II. Konflik yang berlarut-larut justru berisiko mengubah keunggulan militer awal menjadi perang ketahanan jangka panjang, di mana lawan yang lebih lemah bisa memanfaatkan waktu untuk menyeimbangkan keadaan.
(sef/sef)
Addsource on Google

1 hour ago
2

















































