Salma Laiqa, CNBC Indonesia
17 September 2026 16:20
Jakarta, CNBC Indonesia - Tidak semua tanaman yang indah aman untuk disentuh, dicium, apalagi dikonsumsi. Sebagian tumbuhan justru menghasilkan senyawa beracun sebagai mekanisme pertahanan alami.
Efeknya beragam, mulai dari iritasi, gangguan saraf, halusinasi, gangguan jantung, hingga kematian. Discover Wildlife dan Royal Horticultural Society (RHS) mencatat sejumlah tanaman yang tergolong paling berbahaya di dunia. Beberapa di antaranya ternyata juga tumbuh atau dibudidayakan di Indonesia.
Berikut beberapa tanaman beracun yang paling relevan dengan Indonesia.
1. Buah bintaro (Cerbera odollam)
Foto: Shutterstock
Tanaman ini dikenal dengan julukan suicide tree. Bagian bijinya mengandung cerberin, senyawa yang dapat mengganggu kerja jantung dan dalam kasus berat dapat menyebabkan henti jantung. Discover Wildlife memasukkannya sebagai salah satu tanaman paling mematikan di dunia.
Tanaman ini sangat relevan bagi Indonesia. Kew Science mencatat Cerbera odollam tumbuh secara alami di Jawa, Sumatra, Sulawesi, dan Kalimantan.
2. Saga rambat (Rosary pea)
Rosary Pea Wildflower (Abrus Precatorius). Photographed by acclaimed wildlife photographer and writer, Dr. William J. Weber. Foto: Getty Images/iStockphoto/Weber
Bentuknya justru cukup menarik. Tanaman ini menghasilkan biji merah dengan ujung hitam yang kerap digunakan sebagai ornamen.
Namun, bijinya mengandung abrin, racun yang sangat kuat. Jika biji rusak atau dikunyah dan racunnya masuk ke tubuh, keracunan dapat memicu mual, muntah, kejang, kerusakan organ hingga kematian.
3. Bunga mentega (Oleander)
Oleander, bunga cantik yang beracun Foto: IPB Digitani
Oleander dikenal sebagai tanaman hias dengan bunga berwarna merah muda mencolok. Namun, di balik tampilannya, tanaman ini mengandung cardiac glycosides yang dapat mengganggu irama dan fungsi jantung jika tertelan.
Oleander bukan tanaman asli Indonesia, tetapi telah diperkenalkan dan tumbuh di beberapa wilayah. Kew Science mencatat keberadaannya antara lain di Jawa dan Kepulauan Sunda Kecil.
4. Kecubung (Datura metel)
Buah kecubung adalah buah yang berasal dari tanaman kecubung. Nah, buah ini sering juga disebut sebagai “Jimsonweed” atau “Thornapple” Foto: Dinas Kesehatan Kabupaten Pulang Pisau
Kecubung (Datura sp.) merupakan tanaman semak dari keluarga terong-terongan dengan bunga berbentuk terompet berwarna putih atau ungu serta buah bulat berduri. Tanaman ini banyak ditemukan di daerah tropis, termasuk Indonesia, dan kerap dijadikan tanaman hias karena bentuk bunganya yang khas.
Kecubung juga dikenal dalam pengobatan tradisional untuk sejumlah keluhan seperti memar, sakit gigi, demam, rematik, asam urat, dan asma. Namun, tanaman ini mengandung senyawa beracun yang dapat memengaruhi sistem saraf dan memicu halusinasi, gangguan denyut jantung, kejang, hingga kondisi yang mengancam nyawa jika dikonsumsi atau disalahgunakan.
5. Tembakau (Nicotiana tabacum)
Tanaman kecubung dengan bunga berbentuk terompet. Kecubung merupakan tanaman hias yang juga mengandung senyawa beracun dan dapat menimbulkan efek berbahaya jika dikonsumsi atau disalahgunakan. Foto: Komunitas Kretek
Tembakau mungkin menjadi tanaman paling dikenal dalam daftar ini. Seluruh bagian tanaman mengandung alkaloid, terutama nikotin dan anabasine, dengan konsentrasi tinggi pada daun.
Discover Wildlife mencatat tembakau dapat bersifat racun apabila dikonsumsi secara langsung. RHS juga menyoroti dampak yang jauh lebih besar dari produk tembakau, yang secara global menyebabkan jutaan kematian setiap tahun akibat konsumsi rokok dan paparan asapnya.
Tanaman ini telah lama dibudidayakan secara komersial di Indonesia. Nicotiana tabacum telah diperkenalkan ke Jawa dan banyak wilayah tropis lain di dunia.
6. Jagung (Zea mays)
Produksi jagung. (dok. Bapanas) Foto: Produksi jagung. (dok. Bapanas)
Nama jagung dalam daftar tanaman berbahaya mungkin terdengar mengejutkan. Namun, jagung bukan tanaman beracun seperti kecubung atau oleander.
RHS memasukkan jagung karena konsumsi jagung sebagai makanan utama dalam jangka panjang tanpa pengolahan yang memungkinkan tubuh menyerap vitamin B3 atau niasin dapat menyebabkan pellagra. Kondisi ini dapat memicu dermatitis, diare, gangguan neurologis hingga kematian jika tidak ditangani.
Risiko tersebut terutama muncul jika jagung mendominasi pola makan dan asupan niasin dari sumber lain sangat rendah. Jadi, konsumsi jagung dalam pola makan normal dan seimbang bukan berarti berbahaya. Jagung sendiri telah tersebar luas, termasuk di Jawa, Sumatra, Maluku, dan Kepulauan Sunda Kecil.
Jagung yang disimpan dalam kondisi lembap juga dapat terkontaminasi jamur yang menghasilkan mikotoksin, seperti aflatoksin dan fumonisin, yang menjadi salah satu risiko paling serius karena toksinnya tidak selalu terlihat dari penampilan jagung.
Jika jagung sudah berjamur, berubah warna, berbau aneh, atau membusuk, sebaiknya jangan dimakan karena proses memasak tidak selalu menghilangkan seluruh mikotoksin. Sementara itu, jagung mentah bukan berarti beracun, tetapi lebih sulit dicerna dan berpotensi membawa kontaminasi mikroba jika tidak ditangani dengan baik.
Beracun, Tapi Tetap Punya Nilai Ekonomi
Menariknya, sifat beracun tidak berarti tanaman tersebut tidak memiliki nilai ekonomi. Bahkan beberapa tanaman dalam daftar ini menjadi komoditas penting.
Tembakau merupakan contoh paling jelas. Nicotiana tabacum merupakan spesies tembakau komersial utama yang dibudidayakan luas di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Jagung bahkan memiliki nilai ekonomi yang jauh lebih besar karena menjadi bahan pangan, pakan ternak, hingga bahan baku industri. Oleander juga memiliki nilai sebagai tanaman hias, sementara rosary pea pernah dimanfaatkan sebagai ornamen dan perhiasan karena bentuk bijinya yang menarik, meski penggunaannya membawa risiko karena toksisitasnya.
Artinya, status sebuah tanaman sebagai tanaman beracun tidak otomatis membuatnya tidak berguna.
Perbedaannya terletak pada bagaimana tanaman tersebut dimanfaatkan dan bagian mana yang dapat menimbulkan bahaya. Racun yang menjadi mekanisme pertahanan alami tanaman dapat hidup berdampingan dengan nilai ekonomi, pangan, maupun ornamentalnya.
(slm/slm)

1 hour ago
3

















































