Jakarta, CNBC Indonesia - Washington Post, yang dimiliki oleh miliarder pendiri Amazon, Jeff Bezos, mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran Rabu waktu setempat. Manajemen mengatakan restrukturisasi yang menyakitkan diperlukan di surat kabar bersejarah tersebut.
Di AS, Washington Post, merupakan laman legendaris yang memberitakan skandal Watergate, mantan presiden Richard Nixon. Pengurangan substansial akan dilakukan di ruang redaksi.
"Ini akan membantu mengamankan masa depan kita... dan memberi kita stabilitas ke depan," kata Pemimpin Redaksi (Pemred) Matt Murray, dalam sebuah catatan kepada karyawan, dikutip AFP, Kamis (5/2/2026),
"Struktur perusahaan terlalu berakar pada era yang berbeda, ketika kita adalah produk cetak lokal yang dominan," katanya menyebut ada perubahan pada ekosistem berita, dari individu yang "menghasilkan dampak dengan biaya rendah" hingga "konten yang dihasilkan AI".
"Dan meskipun kita menghasilkan banyak karya yang sangat baik, kita terlalu sering menulis dari satu perspektif, untuk satu segmen audiens," singgungnya lagi.
Secara rinci, manajemen tidak mengungkapkan pasti jumlah karyawan yang akan di PHK. Namun New York Times melaporkan sekitar 300 dari 800 jurnalis akan diberhentikan.
Sebagian besar merupakan jurnalis surat kabar di luar negeri, termasuk tim Timur Tengah dan koresponden Ukraina yang berbasis di Kyiv. Departemen olahraga, grafis, dan berita lokal juga dikurangi secara drastis dan podcast harian surat kabar, Post Reports, ditangguhkan.
Murray mengatakan Washington Post sekarang akan fokus pada politik, keamanan nasional, teknologi, investigasi, dan bisnis. Namun, meski mempertahankan desk bisnis, seorang reporter yang meliput Amazon diberhentikan.
Tekanan Trump?
Nasib kurang baik Washington Post terjadi ketika media tradisional utama di Amerika itu menghadapi tekanan hebat dari Presiden Donald Trump. Ia secara rutin mencela jurnalis sebagai corong "berita palsu" dan telah meluncurkan beberapa tuntutan hukum atas liputan kepresidenan yang dilakukan.
Bezos sendiri, salah satu orang terkaya di dunia, sebenarnya dekat dengan Trump selama masa jabatan kedua ini. Bahkan perusahaan raksasa Amazon miliknya secara kontroversial membayar istri Trump, Ibu Negara Melania Trump, sebesar US$40 juta untuk sebuah film dokumenter tahun ini, dengan US$35 juta untuk pemasaran.
Seorang mantan editor eksekutif Washington Post, Marty Baron mengatakan Bezos menolak "tekanan brutal" dari Trump. Ia bahkan mengekang halaman editorial yang condong ke liberal dan memblokir dukungan untuk kandidat presiden dari Partai Demokrat, Kamala Harris, beberapa hari sebelum pemilihan umum 2024 lalu.
"Ini termasuk salah satu hari tergelap dalam sejarah salah satu organisasi berita terbesar di dunia," katanya.
"Sebagai tanggapan, pembaca setia meninggalkan Post. Sebenarnya, mereka diusir," tambah Baron.
Wall Street Journal juga melaporkan bulan lalu bahwa 250.000 pelanggan digital meninggalkan media tersebut setelah kebijakannya "menahan diri" untuk tidak mendukung Harris. Surat kabar tersebut kehilangan sekitar US$100 juta pada tahun 2024 karena pendapatan iklan dan langganan menurun.
Pada Mei 2024, penerbit Post, Will Lewis, mengatakan kepada staf bahwa surat kabar tersebut kehilangan US$77 juta selama tahun sebelumnya dan kehilangan setengah dari audiensnya sejak 2020. Ini berbeda dengan saingannya The New York Times yang mengumumkan memperoleh lebih dari satu juta pelanggan digital pada tahun 2025, sehingga totalnya menjadi hampir 13 juta dan mengukuhkan posisi dominannya di pasar media AS.
Komentar Gedung Putih
Sementara itu, Direktur Komunikasi Gedung Putih, Stephen Cheung, mengeluarkan pesan bernada sinis. Menurutnya kejadian ini "sekadar pengingat" bahwa "mencetak berita palsu bukanlah model bisnis yang menguntungkan".
(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]

2 hours ago
2

















































