Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
07 February 2026 20:15
Jakarta, CNBC Indonesia - Industri film drama pendek makin ramai dengan hadirnya aplikasi dan platform digital khusus bagi para penggemarnya.
Platform bernama Sero resmi diluncurkan oleh Serobonneung pada Kamis (5/2/2026). Sero adalah platform asal Korea Selatan yang didedikasikan secara eksklusif untuk film, drama, dan variety show berdurasi pendek.
Yang membedakan, Sero tidak mengandalkan model rangkuman atau potongan adegan. Setiap judul dibongkar lalu disusun ulang agar tetap berdiri sebagai cerita utuh. Dengan begitu, penonton tetap mendapat alur lengkap meski formatnya berubah. Targetnya pun cukup spesifik, yakni penonton berusia 20 sampai 30-an yang cenderung menonton di sela sela aktivitas harian.
Dari sisi bisnis, arah Sero cukup agresif. Mereka menyiapkan produksi drama original tahun ini dan sejak awal menargetkan distribusi ke banyak negara. Strateginya lewat kerja sama dengan platform lokal di berbagai negara. Di pasar domestik Korea, kemitraan dengan KT Genie TV dan KT Studio Genie disebut akan membantu distribusi konten meluas melampaui aplikasi standalone.
Lonjakan minat terhadap konten pendek juga bukan sekadar sensasi sesaat.
Berdasarkan Research and Markets, pasar global konten short form diproyeksikan tumbuh 25,6% per tahun. Nilainya diperkirakan melonjak dari sekitar 60 triliun won atau setara US$40 miliar, atau sekitar Rp674,4 triliun (asumsi kurs Rp16.860/US$1) pada 2021, menjadi 187 triliun won pada 2026 setara US$125 miliar atau sekitar Rp2.107,5 triliun, naik sekitar tiga kali lipat.
Film atau drama pendek memang sedang ngetren belakangan ini. Drama pendek adalah drama berdurasi singkat yang ceritanya dibagi ke episode episode pendek dan umumnya dibuat untuk penonton yang ingin menonton cepat lewat ponsel.
Biasanya formatnya vertikal, konfliknya padat, serta penuh plot twist hingga cliffhanger di akhir episode agar penonton lanjut terus. Durasi bisa berkisar dari puluhan detik hingga beberapa menit per episode, meski ada juga yang dikemas lebih panjang seperti sekitar 30 menit per episode.
Banyak yang memakai model gratis di awal lalu berbayar bertahap lewat koin, iklan, atau paket langganan.
Perang Short Drama
China sejatinya sudah lebih dulu membangun industri drama film pendek yang bergerak cepat dan tumbuh sangat masif. Di China, format ini tumbuh pesat sejak pandemi ketika masyarakat lebih banyak mengonsumsi video vertikal lewat ponsel. Kini, format yang dulu dianggap receh justru menjadi industri global bernilai US$8 miliar atau sekitar Rp132 triliun pada 2024, menurut Media Partners Asia.
Dari Chengdu hingga Beijing, ribuan studio kecil berlomba memproduksi drama vertikal berdurasi 60 sampai 90 detik. Biaya produksinya relatif rendah, sekitar US$150.000 sampai US$300.000 per seri, dengan waktu pengerjaan hanya delapan hingga sepuluh hari. Namun efeknya luar biasa, jutaan penonton, miliaran tontonan harian, dan ratusan merek yang kini menjadikan dracin sebagai kanal pemasaran baru.
Menurut Media Partners Asia, dengan pertumbuhan tahunan majemuk di atas 16%, micro drama diprediksi menjadi industri hiburan digital paling cepat tumbuh di dunia. Nilai pasar China sendiri diperkirakan melonjak menjadi US$16,2 miliar atau sekitar Rp269 triliun pada 2030, sementara pasar luar negeri naik hampir sepuluh kali lipat menjadi US$9,5 miliar atau setara Rp151,7 triliun.
Platform Drama Pendek Makin Banyak
Demam drama pendek membuat banyak pelaku pasar mulai bikin platform sendiri. Tidak cuma China dan Korea Selatan, negara lain juga ikut masuk karena pasarnya sedang bertumbuh pesat dengan penontonnya yang terus bertambah.
Sekarang, aplikasi atau platform digital bertema drama pendek datang dari berbagai negara, mulai dari Singapura, Hong Kong, Finlandia, hingga Amerika Serikat. Ini menandakan drama pendek sudah jadi tren global dan tiap platform berlomba menawarkan katalog serta pengalaman menonton yang bikin penonton betah lanjut episode berikutnya.
Indonesia pun mulai ikut masuk dalam tren ini lewat kemunculan konten drama pendek di sejumlah layanan dan kanal digital.
Namun, Indonesia sejauh ini belum terlihat memiliki platform yang benar benar khusus dan fokus penuh hanya untuk short drama seperti yang banyak bermunculan di China atau Korea Selatan. Alhasil, tontonan drama pendek di pasar domestik masih lebih sering hadir sebagai bagian dari fitur atau kanal tambahan di dalam aplikasi yang lebih besar, bukan sebagai layanan yang berdiri sendiri.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)

2 hours ago
2

















































