Jakarta, CNBC Indonesia - Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengungkapkan, penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada hari ini disebabkan mulai terbentuknya kepercayaan pelaku pasar keuangan terhadap fundamental ekonomi Indonesia yang memang kuat.
Melansir data Refinitiv rupiah pada hari ini, Selasa (10/2/2026), memang dibuka menguat di posisi Rp16.770/US$ atau mengalami apresiasi sebesar 0,15%. Dibanding perdagangan sebelumnya rupiah berhasil mematahkan tren pelemahannya dengan ditutup menguat 0,39% di level Rp16.795/US$.
"Ini posisi kita year to date, setelah rupiah melemah dalam 3 hari kini mulai menguat. Hari ini Rp 16.700-an," kata Destry dalam acara CNBC Indonesia Economic Outlook 2026 di Hotel Kempinski, Jakarta, Selasa.
Destry menegaskan, dalam meningkatkan kepercayaan pelaku pasar keuangan, pemerintah dan BI terus konsisten membangun komunikasi yang jelas beberapa hari terakhir. Komunikasi terkait kondisi fundamental ekonomi yang kuat inilah kata dia yang sudah diterima pelaku pasar keuangan.
"Dua hari lalu saat MSCI ada laporan dan gejolak, ada apa ini? Tapi ada bold communication dari pemerintah dan regulator yang membuat market confidence lagi dan BI selalu sampaikan bahwa BI tetap di pasar menjaga stabilitas rupiah dan BI lakukan smart intervention," paparnya.
Destry pun memastikan, BI akan terus berada di pasar keuangan untuk memastikan stabilitas pergerakan nilai tukar rupiah terjaga ke arah penguatan, sesuai dengan fundamental ekonomi, yang ditunjukkan oleh pertumbuhan ekonomi makin cepat hingga tekanan inflasi yang terkendali di kisaran target 2,5% plus minus 1%.
"Kami di BI berusaha mempertahankan aset rupiah, memberikan return menarik dengan fundamental yang bagus, ditambah policy pemerintah dengan informasi yang clear dan itu semua berikan confidence di pasar," ungkap Destry.
(arj/haa)
[Gambas:Video CNBC]

2 hours ago
1

















































