Jakarta, CNBC Indonesia - Penyaluran kredit perbankan tercatat hanya tumbuh sebesar 9,69% pada tahun 2025. Kendati masih berada dalam rentang target pertumbuhan di kisaran 9-11%, namun belum besarnya permintaan (demand) kredit perlu menjadi perhatian.
Terkait hal tersebut, Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Anggito Abimanyu melihat ada beberapa hal yang bisa dilakukan lembaganya untuk membantu demand kredit.
"Yang kita lakukan, kita minta Pak Purbaya (Menteri Keuangan) itu turunkan Pak, SAL (saldo anggaran lebih). Dan Pak Purbaya sudah tepati janji. Desember untuk simpanan baru sudah diturunkan sampai ke TBP," tukasnya dalam acara CNBC Indonesia Economic Outlook 2026 di Hotel Kempinski, Jakarta, Selasa (10/2/2026).
Hal tersebut terkait dengan catatan LPS, yang melihat dana simpanan milik pemerintah dan BUMN yang masih memperoleh bunga simpanan di atas Tingkat Bunga Penjaminan (TBP). Proporsinya sebesar 22,77% dari total simpanan di atas TBP yang jumlahnya ada sebesar Rp 3.336 triliun.
Sedangkan korporasi swasta masih menjadi pemilik simpanan di atas TBP dengan porsi terbesar mencapai 50,31%. Sementara 22,69% dimiliki oleh nasabah individu, dan lainnya sebesar 4,23%.
Sebagaimana diketahui, sejak awal tahun TBP bank umum dipatok LPS di level 3,5% untuk simpanan rupiah dan 2% untuk simpanan valuta asing. Sementara untuk simpanan Bank Perekonomian Rakyat (BPR) dipatok sebesar 6%.
Turunnya suku bunga simpanan memang tidak serta merta mampu mendongkrak demand terhadap kredit perbankan. Tapi tentunya bisa menjadi faktor penunjang kepada dunia usaha untuk mempertimbangkan pengajuan kredit.
"Kalau supply kita turunkan TBP. Saya rajin ke bank-bank, turunkan dong. Karena kalau enggak suku bunga kredit enggak bisa turun dan demand kredit itu enggak bisa naik," tandas Anggito.
(bul/bul)
[Gambas:Video CNBC]

2 hours ago
1
















































