Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, menegaskan peluang resesi ekonomi untuk Indonesia jauh lebih rendah dibanding Amerika Serikat (AS), China, dan Jepang.
Menurutnya, ini karena ekonomi Indonesia memiliki resiliensi di tengah ketidakpastian global. Hal ini pun didasari oleh publikasi oleh media asing, Bloomberg.
"Di tengah ketidakpastian global yang mencakup perlambatan ekonomi dan meningkatnya ketegangan geopolitik, perekonomian Indonesia tetap menunjukkan ketahanan yang kuat dengan probabilitas resesi yang rendah berdasarkan penilaian Bloomberg, dibandingkan dengan Amerika Serikat, China, dan Jepang," ujar Airlangga dalam acara Business Outlook Indonesia Business Council (IBC) di Hotel Mulia Senayan, Jakarta Selatan, minggu lalu (14/1/2026).
Terbukti, selama tujuh tahun terakhir, Indonesia secara konsisten mencatatkan pertumbuhan ekonomi sekitar 5%, yang mencerminkan akumulasi pertumbuhan ekonomi nasional hingga sekitar 35%. Stabilitas makroekonomi tetap terjaga dengan inflasi Desember 2025 berada pada level 2,92%.
Kinerja pasar keuangan menunjukkan tren positif dengan indeks saham yang terus mencetak rekor, nilai tukar rupiah yang relatif stabil, serta aktivitas sektor riil yang tetap ekspansif, tercermin dari PMI manufaktur sebesar 51,2 dan indeks kepercayaan konsumen yang meningkat ke level 123,5. Posisi eksternal Indonesia juga tetap solid, ditopang 67 bulan beruntun surplus neraca perdagangan serta cadangan devisa yang mencapai US$ 156,1 miliar.
Dari sisi pembiayaan dan investasi, pertumbuhan kredit perbankan tetap terjaga mendekati 8%, sementara realisasi penanaman modal asing (FDI) menunjukkan tren peningkatan. Kondisi tersebut mencerminkan kepercayaan global terhadap stabilitas ekonomi Indonesia dan prospek pertumbuhan jangka panjang.
Airlangga menegaskan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap menjadi instrumen kebijakan yang kredibel dan bertanggung jawab. Menurutnya, defisit APBN 2025 dijaga di bawah 3%, dengan rasio utang yang tetap terkendali.
Pemerintah juga telah menyiapkan paket stimulus ekonomi sepanjang 2025 dengan nilai total Rp110,7 triliun untuk menjaga daya beli masyarakat dan menopang pertumbuhan ekonomi nasional.
Memasuki tahun 2026, dia memastikan pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sekitar 5,4% yang didukung oleh penguatan sektor riil, paket kebijakan ekonomi, serta 8 program prioritas nasional.
"Fokus utama diarahkan pada penguatan ketahanan pangan, ketahanan energi, hingga pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), yang diharapkan mampu menciptakan jutaan lapangan kerja baru setiap tahunnya," ujarnya.
(haa/haa)
[Gambas:Video CNBC]

3 hours ago
2

















































