Orang Arab Ramai-Ramai ke Sumatra Buat Cari Pohon Ini

4 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia — Jauh sebelum Indonesia dikenal dunia seperti sekarang, wilayah Sumatra sudah lebih dulu ramai didatangi pedagang asing. Bukan tanpa alasan, mereka datang membawa kapal besar demi memburu satu komoditas langka yang nilainya sangat tinggi.

Komoditas ini bukan emas atau rempah biasa, melainkan zat wangi alami yang disebut dalam kitab suci. Permintaan tinggi dari dunia Arab membuat kawasan ini jadi tujuan penting perdagangan internasional sejak berabad-abad lalu.

Tanaman yang dicari itu dikenal sebagai kapur barus atau kamper, yang dalam tradisi Arab disebut kafur. Nama ini juga termuat dalam Al-Qur'an, tepatnya dalam Surat Al-Insan ayat 5, yang menggambarkan minuman surga dengan campuran air kafur.

Para ulama menafsirkan, kaafuur memiliki arti kapur atau kamper. Zat putih dan wangi, dikeluarkan dari dalam pohon kayu, yang biasa tumbuh di hutan-hutan pulau Sumatra. Lebih populer lagi dengan sebutan Kapur Barus, sebagaimana dijelaskan dalam Tafsir Al-Azhar karya ulama kondang Buya Hamka.

Kamper yang dimaksud berbeda dengan pewangi berbentuk bulat kecil berwarna putih hasil sintesis kimia dari Naphtalene (C10H8). Kamper atau kapur barus yang disebut di Al-Quran adalah tanaman populer di Arab bernama Latin Dryobalanops aromatica. Tanaman ini punya ciri khas sangat wangi dan memang bisa diminum sebab menyehatkan tubuh.

Hanya saja, masyarakat Arab tak mudah memperolehnya sebab bukan tanaman asli di sana. Alhasil, mereka harus mencari pusat tanaman kamper dan singkat cerita membawa para pedagang ke wilayah antah berantah di bumi bagian Timur. Kini, wilayah tak dikenal itu disebut sebagai Indonesia.

Sentra Tanaman Kamper

Arkeolog Edward McKinnon dalam Ancient Fansur, Aceh's Atlantis (2013) menyebut, adanya jalinan perdagangan membuat orang Arab lambat laun mengetahui bahwa pusat tanaman kamper berada di Indonesia, tepatnya di Pulau Sumatra. Secara spesifik, lokasinya berada di Fansur atau kini disebut Barus, di wilayah administrasi Sumatra Utara.

Para pedagang Arab berulang kali menyebut Barus sebagai pelabuhan penting yang mengangkut komoditas, salah satunya, adalah kamper.

Pedagang Arab, Ibn al-Faqih, misalnya, pada era 902 sudah menyebut Fansur sebagai wilayah penghasil kapur barus, cengkih, pala, dan kayu cendana. Lalu ahli geografi Ibn Sa'id al-Maghribi yang hidup di abad ke-13 juga merinci secara spesifik bahwa Fansur penghasil kamper berasal dari Pulau Sumatra. Bahkan, jika ditarik mundur lebih jauh, ahli Romawi Ptolemy sudah menyebut nama Barus pada abad ke-1 Masehi.

Atas dasar ini, banyak warga Arab, khususnya para pedagang, berbondong-bondong ke Sumatra. Mereka rela melakukan pelayaran jauh dari Arab untuk mendapatkan kamper.

Sejarawan Claude Guillot dalam Barus Seribu Tahun yang Lalu (2008) menyebut, orang Arab tiba di Barus melalui perjalanan langsung dari Teluk Persia, melewati Ceylon (Sri Lanka), lalu tiba di Pantai Barat Sumatra. Mereka biasa membawa kapal besar untuk mengangkut banyak kapur barus yang akan dijual tinggi di pasar internasional.

Perlahan, kedatangan orang Arab ke Sumatra makin tinggi usai kamper asal Barus jadi yang bermutu tinggi mengalahkan kamper asal Malaya dan Kalimantan. Pada titik inilah, Barus terbukti sebagai daerah penghasil kamper dan sudah berkembang jadi pelabuhan penting di Sumatra.

Muncul Agama Islam

Terungkapnya lokasi kapur barus di Indonesia membuat banyak pedagang Arab mengunjungi Barus untuk singgah hingga menetap. Jika mereka pergi ke China, maka pasti akan singgah dulu di Barus. Hanya saja, kedatangan mereka tak cuma bermotif perdagangan, tetapi juga turut menyebarkan agama Islam.

Alhasil, terjadi Islamisasi terhadap penduduk lokal di tempat-tempat kedatangan kapal Arab, yakni Barus (Fansur), Thobri (Lamri), dan Haru. Jejak awal Islam sudah masuk Barus diduga kuat tercatat pada abad ke-7 Masehi.

Hal ini dibuktikan dengan keberadaan kompleks makam kuno Mahligai di Barus. Di sana tertera nisan yang berasal dari abad ke-7 M.

Dari sini, muncul satu teori kedatangan Islam di Indonesia, yang tentu masih menimbulkan perdebatan. Namun, tak melupakan fakta bahwa lambat laun terjadi proses penyebaran Islam di sana.

Terlepas dari kebenaran teori tersebut, pedagang-pedagang Muslim di Barus berhasil membentuk jaringan perdagangan yang menghubungkan dunia Arab dengan Indonesia dan membuat Tanah Air sudah terkenal sejak dahulu kala.

Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini lewat relevansinya di masa lalu. Khusus terkait bencana, naskah ini diharapkan bisa membangun kesadaran dan kewaspadaan terhadap mitigasi bencana.

(mkh/mkh)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |