Susi Setiawati, CNBC Indonesia
11 February 2026 09:35
Jakarta, CNBC Indonesia - Proyek sampah jadi energi dinilai bisa menjadi berkah bagi pemilik bisnis kontraktor alat berat.
Pemerintah kini tengah menggeber program Waste to Energy (WtE) yang bertujuan mengolah sampah menjadi sumber energi berkelanjutan, dan langkah ini dinilai membuka segmen pasar baru yang strategis bagi industri alat berat nasional.
Sejalan dengan itu, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) tengah menyiapkan implementasi program nasional Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) atau WtE.
Proyek ini direncanakan memasuki tahap groundbreaking pada Maret 2026, setelah sebelumnya melalui proses lelang pemilihan mitra bisnis.
Fokus awal pengembangan ditetapkan pada empat wilayah utama, yakni Bekasi, Bogor Raya, Yogyakarta, dan Bali, dengan pengumuman pemenang tender yang dijadwalkan pada pertengahan Februari ini.
Berkah bagi Bisnis Kontraktor Alat Berat
Masuknya proyek WtE ke fase penunjukan mitra dan persiapan konstruksi menandai pergeseran dari wacana kebijakan menuju tahap eksekusi.
Pada fase inilah kebutuhan terhadap alat berat mulai terbentuk secara nyata. Tidak hanya dibutuhkan pada tahap pembangunan awal fasilitas pengolahan, proyek WtE juga memerlukan dukungan alat berat secara berkelanjutan pada fase operasional.
Aktivitas seperti pengelolaan tempat pembuangan akhir, pemindahan material sampah, hingga proses pengolahan harian menjadikan alat berat sebagai komponen penting dalam rantai operasional proyek.
Jenis alat berat yang umum digunakan dalam proyek WtE mencakup excavator, wheel loader, material handler, hingga landfill compactor.
Karakteristik proyek yang berorientasi layanan publik membuat pola kebutuhannya relatif lebih stabil dibanding sektor yang sangat bergantung pada siklus komoditas.
Hal ini membuka peluang pendapatan berulang bagi pelaku usaha alat berat, terutama melalui skema penyewaan alat, layanan purna jual, serta kontrak operasional jangka panjang.
Bagi industri alat berat, pola permintaan seperti ini dinilai menarik karena mampu menopang utilisasi alat dan arus kas secara lebih konsisten. Berbeda dengan proyek konstruksi konvensional yang cenderung bersifat satu kali (one-off), proyek WtE memiliki umur operasional panjang yang membutuhkan dukungan peralatan secara berkesinambungan.
Prospek tersebut menjadi relevan bagi sejumlah emiten kontraktor dan penyewaan alat berat yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Meski sebagian besar pemain masih bertumpu pada sektor pertambangan dan infrastruktur, pengembangan proyek WtE berpotensi menjadi sumber diversifikasi pertumbuhan baru, khususnya jika implementasi proyek berjalan konsisten di berbagai daerah dan berlanjut ke fase operasional jangka panjang.
Adapun berikut deretan emiten di BEI yang memiliki fokus bisnis di alat berat:
Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(saw/saw)

2 hours ago
1
















































