Jakarta, CNBC Indonesia - Sistem taksi tanpa sopir atau otonom yang selama ini digadang-gadang sepenuhnya dikendalikan komputer ternyata masih mengandalkan bantuan manusia, bahkan dari luar negeri.
Hal ini terungkap dalam sidang Senat Amerika Serikat pada 4 Februari lalu, ketika pejabat Waymo mengakui bahwa sebagian dukungan manusia untuk armada mobil tanpa sopirnya berasal dari Filipina.
Kepala keselamatan Waymo, Mauricio Pena, mengatakan para pekerja tersebut berperan sebagai pemberi panduan ketika kendaraan menghadapi situasi yang tidak dapat diselesaikan secara mandiri.
"Mereka memberikan panduan. Mereka tidak mengemudikan kendaraan dari jarak jauh. Waymo selalu memegang kendali atas tugas mengemudi dinamis," ujarnya di hadapan Komite Senat AS, dikutip dari Straits Times, Rabu (11/2/2026).
Waymo saat ini mengoperasikan layanan robotaxi di sejumlah kota besar, seperti Phoenix, San Francisco, Los Angeles, dan Austin. Perusahaan juga berencana memperluas layanan ke Boston, Dallas, Washington DC, hingga London. Hingga awal 2026, armada kendaraan otonom Waymo diperkirakan mencapai sekitar 2.500 unit.
Dalam sidang tersebut, Senator Edward Markey mengungkap bahwa ketika kendaraan otonom menghadapi situasi sulit, Waymo akan menelepon 'teman manusia' untuk meminta bantuan.
Ia menyoroti sistem operator bantuan jarak jauh yang dinilai tidak transparan, padahal berperan dalam keselamatan kendaraan.
Saat ditanya lokasi para asisten manusia itu, Pena mengatakan sebagian berada di AS dan sebagian lagi di luar negeri, termasuk negara tetangga RI, Filipina. Namun ia mengaku tidak memiliki data terperinci terkait jumlahnya.
Markey menilai praktik tersebut menimbulkan kekhawatiran dari sisi keselamatan, keamanan siber, dan ketenagakerjaan.
"Memiliki orang di luar negeri yang memengaruhi kendaraan Amerika adalah isu keselamatan," kata Markey.
Pengakuan ini muncul dua minggu setelah robotaxi Waymo menabrak seorang anak di depan sekolah dasar di California pada 23 Januari, dan korbannya mengalami luka ringan.
Otoritas keselamatan transportasi AS kini tengah menyelidiki beberapa insiden lain, termasuk kasus kendaraan Waymo yang melaju melewati bus sekolah saat siswa naik atau turun.
Di sisi lain, Waymo menyebut penggunaan pekerja Filipina sebagai bagian dari strategi ekspansi global. Para pekerja yang disebut "fleet response agents" diwajibkan memiliki lisensi mengemudi serta menjalani pemeriksaan riwayat berkendara.
Mereka hanya memberikan informasi kontekstual, seperti kondisi jalan atau hambatan, tanpa mengendalikan kemudi, gas, atau rem kendaraan.
Ketergantungan pada tenaga kerja Filipina mencerminkan pola lama industri teknologi, yang selama puluhan tahun mengandalkan negara tersebut untuk pekerjaan alih daya, mulai dari moderasi konten, pelabelan data AI, hingga dukungan pelanggan.
Dalam beberapa tahun terakhir, pekerja Filipina juga makin banyak dilibatkan sebagai human-in-the-loop, yakni tenaga manusia di balik sistem AI yang bertugas memperbaiki kesalahan, menangani kasus khusus, dan memberikan penilaian ketika algoritma tidak mampu mengambil keputusan.
(dem/dem)
[Gambas:Video CNBC]

3 hours ago
1
















































