Economic Outlook 2026
Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
11 February 2026 13:10
Jakarta, CNBC Indonesia - Dunia tengah diselimuti oleh ketidakpastian yang tinggi, akibat dari tensi geopolitik yang kian memanas hingga arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS) yang belum pasti dalam pemangkasan suku bunga lanjutan.
Hal ini disampaikan oleh Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti dalam acara CNBC Indonesia Economic Outlook 2026 di Hotel Kempinski, Jakarta, Selasa (10/2/2026).
Destry menilai ketidakpastian global tetap tinggi karena faktor geopolitik. Di saat yang sama, pasar juga belum melihat ruang pelonggaran moneter yang cepat karena The Federal Reserve (The Fed) diproyeksikan akan lebih berhati-hati dalam mengambil kebijakan.
Di tengah situasi tersebut, arus dana global cenderung bergerak defensif dengan memburu aset aman.
"Banyak investor saat ini yang lebih mencari safe haven," ujar Destry.
Dia menggambarkan investor yang sempat memegang obligasi dolar AS kemudian lari lagi ke emas. Perburuan aset lindung nilai itu ikut mendorong kenaikan harga emas global yang sangat signifikan dalam 12 bulan terakhir.
Kondisi ini menunjukkan risiko global tidak lagi sekadar daftar isu di atas kertas, tetapi sudah nyata mempengaruhi perilaku pasar, biaya pendanaan, hingga persepsi pelaku usaha terhadap prospek ekonomi.
Sejalan dengan itu, data yang diambil dari Bank Indonesia tentang pemetaan risiko global yang bersumber dari Global Risks Perception Survey untuk melihat sumber guncangan dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Dalam jangka pendek atau dua tahun ke depan, konfrontasi geoekonomi diperkirakan menjadi risiko utama, diikuti meningkatnya misinformasi dan disinformasi serta menguatnya polarisasi sosial.
Di saat yang sama, risiko cuaca ekstrem juga masuk dalam potensi risiko dunia ke depannya yang menandakan dampak perubahan iklim mulai terasa dan mengancam.
Bahkan,dalam jangka panjang atau 10 tahun, risiko terkait iklim diproyeksikan mendominasi daftar ancaman global, mulai dari cuaca ekstrem, hilangnya keanekaragaman hayati, hingga perubahan kritis pada sistem Bumi. Perubahan ini berpotensi mengganggu keseimbangan alami dan membuat kondisi Bumi semakin sulit diprediksi.
Dampak lanjutannya bukan hanya bencana dan kerusakan lingkungan, tetapi juga gangguan produksi pangan dan energi, kenaikan biaya ekonomi, serta meningkatnya tekanan inflasi dari sisi pasokan.
Dalam konteks ini, perubahan iklim berpotensi menjadi sumber risiko utama yang memengaruhi stabilitas dan sekaligus prospek pertumbuhan jangka menengah hingga panjang.
Karena itu, mitigasi dan adaptasi iklim perlu dipandang sebagai agenda ekonomi, bukan sekadar agenda lingkungan. Penguatan ketahanan sektor riil, transisi energi yang terukur, serta pembiayaan hijau yang makin dalam menjadi kunci untuk meredam risiko ke depan.
Namun demikian, risiko non-iklim seperti misinformasi, ketidakamanan siber, dan dampak buruk teknologi AI akan tetap menghantui sebagai risiko jangka panjang global. Oleh karena itu, hal ini tetap harus diantisipasi.
Dengan kata lain, strategi menjaga stabilitas dan pertumbuhan akan semakin bergantung pada kemampuan mengelola risiko iklim sekaligus memperkuat resiliensi terhadap risiko geopolitik, sosial, dan teknologi.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)

1 hour ago
2

















































