Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada hari Kamis (5/2/2026) menyerukan pembentukan perjanjian nuklir baru yang segar setelah kesepakatan terakhir dengan Rusia resmi berakhir. Langkah ini diambil di tengah kekhawatiran global akan munculnya perlombaan senjata baru karena hilangnya batasan hukum pada dua kekuatan nuklir terbesar dunia tersebut.
"Kita harus meminta para Ahli Nuklir kita mengerjakan Perjanjian baru, yang ditingkatkan, dan dimodernisasi yang dapat bertahan jauh ke masa depan," tulis Trump melalui platform Truth Social miliknya dikutip AFP.
Trump juga melontarkan kritik tajam terhadap pakta New START yang sebelumnya ditandatangani oleh Barack Obama dan diperpanjang oleh Joe Biden. Ia mengeklaim bahwa perjanjian lama tersebut merupakan hasil negosiasi yang lemah dan tidak lagi dipatuhi oleh pihak lawan.
"Perjanjian itu dinegosiasikan dengan buruk dan sedang dilanggar secara kasar," tegas Trump dalam unggahan yang sama.
Ketidakpastian mengenai keberlanjutan aturan lama juga dikonfirmasi oleh pihak Gedung Putih. Saat ini, belum ada kesepakatan antara Washington dan Moskow untuk tetap mematuhi batasan hulu ledak nuklir selama masa transisi negosiasi berlangsung.
"Bukan sepengetahuan saya," jawab juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt saat ditanya apakah kedua negara telah sepakat untuk tetap mematuhi ketentuan START yang telah kedaluwarsa.
Kandasnya perjanjian ini memicu peringatan serius dari para pakar kontrol senjata internasional. Mereka mendesak agar kedua negara tetap menahan diri guna menghindari ketidakstabilan keamanan yang dapat mengancam perdamaian dunia.
"Berakhirnya New START akan mengurangi stabilitas dan prediktabilitas nuklir, mengancam keamanan global, dan meningkatkan risiko era baru kompetisi nuklir yang tidak terkendali," tulis kelompok mantan pejabat senior pengendalian senjata dalam pernyataan bersama mereka.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres turut memberikan peringatan keras mengenai situasi ini. Ia menilai bahwa risiko penggunaan senjata nuklir saat ini telah mencapai level yang sangat membahayakan dalam sejarah modern.
"Pembubaran pencapaian selama puluhan tahun ini tidak mungkin datang pada waktu yang lebih buruk. Risiko penggunaan senjata nuklir adalah yang tertinggi dalam beberapa dekade," ujar Guterres.
Di sisi lain, NATO mengecam sikap Rusia yang dianggap tidak bertanggung jawab dalam mengelola aset nuklirnya. Aliansi militer pimpinan AS ini menyatakan akan bersiap mengambil segala tindakan yang diperlukan untuk menjaga pertahanan mereka.
"Aliansi akan terus mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan pertahanannya," kata seorang pejabat NATO yang meminta anonimitas, sembari mengecam "retorika nuklir Rusia yang tidak bertanggung jawab."
Terkait desakan AS agar China ikut masuk ke dalam perjanjian baru, Beijing secara tegas menyatakan penolakannya. China berdalih bahwa kekuatan nuklir mereka tidak berada dalam level yang sama dengan AS maupun Rusia sehingga tidak relevan untuk ikut dalam pembicaraan pelucutan senjata saat ini.
"China tidak akan berpartisipasi dalam negosiasi pelucutan senjata nuklir pada tahap ini. Kemampuan nuklir China berada pada skala yang sangat berbeda dengan kemampuan Amerika Serikat dan Rusia," tegas juru bicara kementerian luar negeri China, Lin Jian.
Kritik juga datang dari pengamat domestik yang menilai pemerintahan Trump belum melakukan langkah konkret untuk membujuk China ke meja perundingan sejak kembali ke Gedung Putih.
"Tidak ada indikasi bahwa Trump atau timnya telah meluangkan waktu untuk mengusulkan pengurangan risiko atau pembicaraan pengendalian senjata dengan China sejak kembali menjabat pada tahun 2025," kata Daryl Kimball, direktur eksekutif Arms Control Association.
(tps/tps)
[Gambas:Video CNBC]

2 hours ago
1

















































