Pengusaha Plastik RI Nyalakan Tombol Survival Mode, Apa Maksudnya?

3 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan geopolitik yang kembali memanas di kawasan Timur Tengah mulai menimbulkan efek berantai terhadap industri global. Bagi Indonesia, dampaknya terasa hingga ke sektor petrokimia yang kini harus menghadapi lonjakan biaya sekaligus ketidakpastian pasokan bahan baku.

Situasi ini tidak berdiri sendiri. Kebutuhan dalam negeri yang terus meningkat justru memperbesar tekanan, terutama di tengah ekspansi kapasitas produksi yang sedang berlangsung di industri petrokimia.

"Kalau dari industri petrokimia, tahun 2024 catatannya memang sekitar 2,7 juta ton per tahun. Tapi di tahun 2025, karena ada pabrik baru, kebutuhan nafta kita itu sebenarnya sudah 4,5 juta ton," kata Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (INAPLAS), Fajar Budiono dalam keterangannya, Selasa (21/4/2026).

Lonjakan kebutuhan tersebut membuat pelaku industri harus berpikir cepat untuk menjaga keberlanjutan operasional. Salah satu langkah yang ditempuh adalah mencari sumber pasokan baru di luar kawasan Timur Tengah.

Namun, pergeseran sumber pasokan ini membawa konsekuensi yang tidak kecil. Selain biaya logistik yang meningkat, waktu pengiriman juga menjadi jauh lebih lama dibandingkan sebelumnya.

"Kalau kiriman nafta dari Middle East ke Indonesia itu kan hanya 10 sampai 15 hari. Kemudian kalau dari luar itu paling cepat 50 hari," ujar Fajar.

Tekanan yang datang dari berbagai arah membuat industri kini berada dalam posisi yang tidak mudah. Pelaku usaha harus mengelola risiko secara lebih ketat agar tetap bisa bertahan.

"Jadi kita nyebutnya sekarang adalah survival mode," tambahnya.

Di tengah kondisi tersebut, industri tidak tinggal diam. Upaya diversifikasi bahan baku mulai dijalankan sebagai strategi untuk mengurangi ketergantungan terhadap nafta.

Langkah ini dianggap penting untuk menjaga fleksibilitas produksi, terutama ketika pasokan utama terganggu oleh dinamika global yang sulit diprediksi.

"Sekarang kita sudah bisa mencari alternatif bahan baku pengganti nafta, yaitu yang pertama adalah kondensat. Kemudian yang kedua adalah LPG," ujar Fajar.

Meski demikian, penggunaan alternatif seperti LPG belum sepenuhnya optimal. Hambatan regulasi masih menjadi tantangan yang perlu diselesaikan agar opsi tersebut bisa benar-benar kompetitif.

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda menilai tekanan global juga diperkirakan akan berdampak lebih luas terhadap ekonomi. Kenaikan harga energi menjadi salah satu faktor yang dapat memicu efek domino ke berbagai sektor.

"Salah satu dampak dari gagalnya negosiasi antara Iran-US ini adalah ketidakpastian ekonomi global terutama terkait dengan perdagangan. Harga minyak dipastikan akan tetap tinggi, dan biaya perdagangan internasional akan meningkat juga," ujarnya.

Ketergantungan terhadap impor bahan baku menjadi titik lemah yang semakin terlihat dalam situasi seperti ini. Industri petrokimia nasional masih sangat bergantung pada pasokan luar negeri, khususnya dari kawasan Timur Tengah.

Kondisi ini membuat upaya menjaga pasokan dalam negeri menjadi semakin krusial. Tanpa langkah tersebut, dampak kenaikan biaya bisa langsung dirasakan oleh sektor hilir dan masyarakat luas.

"Dalam jangka pendek, memenuhi pasokan dalam negeri menjadi sangat penting agar harga plastik menurun. Jika tidak, ada kenaikan harga layanan di dalam negeri mencapai 30 persen. Mulai dari industri laundry dan UMKM lainnya sangat rentan sekali terhadap kenaikan harga plastik. Di satu sisi, harus ada pengembangan plastik berbahan baku yang tersedia masal di dalam negeri dan harganya terjangkau," ujar Nailul.

(dce)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |