Mata Dunia-Jepang ke Selat Malaka, Jalur yang Lebih Sibuk dari Hormuz

4 hours ago 2

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

25 April 2026 13:00

Jakarta, CNBC Indonesia - Selat Malaka kini sedang ramai menjadi pembahasan, baik di dalam negeri maupun internasional. Jalur laut yang berhadapan langsung dengan Indonesia itu disorot setelah dunia melihat betapa rentannya perdagangan energi global ketika salah satu chokepoint utama terganggu.

Sorotan tersebut muncul di tengah konflik Timur Tengah antara Amerika Serikat dan Iran. Ketegangan itu membuat Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia, ikut menjadi perhatian karena posisinya strategis bagi Iran dan negara-negara produsen minyak di kawasan Teluk.

Kondisi ini membuat dunia mulai melihat kembali rute laut lain yang juga punya peran besar dalam perdagangan energi global, termasuk Selat Malaka.

Di dalam negeri, perhatian terhadap Selat Malaka menguat setelah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyinggung kemungkinan kapal yang melintasi jalur tersebut dikenakan biaya.

Namun, pernyataan tersebut kemudian diluruskan oleh Menteri Luar Negeri Sugiono. Ia menegaskan Indonesia tidak akan mengenakan pajak atau tarif terhadap kapal yang melintasi Selat Malaka.

Pemerintah juga menekankan bahwa Indonesia tetap menghormati hukum laut internasional, termasuk prinsip kebebasan navigasi di jalur pelayaran internasional.

Di saat yang sama, perhatian juga datang dari Jepang.

Charge de Affaris Kedutaan Besar Jepang di Jakarta, Mitsuru Myochin, menilai Indonesia memegang peran penting karena secara geografis berhadapan langsung dengan bagian terbesar Selat Malaka.

Menurut Myochin, ada dua chokepoint besar yang sangat penting bagi dunia, yakni Selat Hormuz dan Selat Malaka. Karena Indonesia berhadapan dengan bagian terbesar Selat Malaka, posisi Indonesia dinilai semakin strategis dalam menjaga stabilitas kawasan.

Pernyataan Jepang tersebut bukan tanpa alasan. Dua selat ini sama-sama menghubungkan produsen energi dengan negara-negara konsumen utama di Asia.

Karena itu, menarik untuk melihat lebih jauh perbandingan antara Selat Hormuz dan Selat Malaka, dua jalur yang sama-sama menjadi kunci bagi perdagangan dan pasokan energi dunia.

Perbandingan Selat Hormuz dan Selat Malaka

Dalam perdagangan minyak global, jalur laut seperti Selat Hormuz dan Selat Malaka dikenal sebagai oil chokepoints. Istilah ini merujuk pada jalur penting yang menjadi titik transit utama bagi distribusi minyak dunia.

Karena bentuknya sempit dan sulit digantikan oleh rute alternatif, gangguan di kawasan ini bisa langsung memicu kekhawatiran pasar. Penyebabnya bisa beragam, mulai dari konflik geopolitik, ketegangan militer, kecelakaan kapal, hingga hambatan operasional.

Berdasarkan data U.S. Energy Information Administration atau EIA, sekitar 73 juta barel minyak per hari melewati berbagai chokepoint utama dunia. Dari jumlah tersebut, Selat Malaka dan Selat Hormuz menjadi dua jalur paling penting.

Selat Malaka terletak di antara Indonesia dan Malaysia. Jalur ini menjadi koridor utama pengiriman minyak dari Timur Tengah menuju negara-negara Asia seperti China, Jepang, dan Korea Selatan.

Pada paruh pertama 2025, sekitar 23,2 juta barel minyak per hari melewati Selat Malaka. Volume ini setara dengan sekitar 29,1% perdagangan minyak dunia melalui jalur laut. Dengan angka tersebut, Selat Malaka menjadi salah satu jalur minyak tersibuk di dunia.

Sementara itu, Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab. Jalur ini menjadi pintu keluar utama bagi ekspor minyak dari negara-negara produsen di kawasan Teluk.

Sekitar 20,9 juta barel minyak per hari melewati Selat Hormuz, atau sekitar 20% konsumsi minyak dunia dan sekitar seperempat perdagangan minyak global melalui jalur laut. . Sebagian besar minyak yang melewati jalur ini dikirim ke pasar Asia, termasuk China, India, Jepang, dan Korea Selatan.

Secara volume, Selat Malaka menampung aliran minyak harian yang lebih besar dibandingkan Selat Hormuz. Namun dari sisi risiko geopolitik, Hormuz sering dipandang lebih sensitif karena berada di kawasan Timur Tengah yang rawan konflik.

Perbandingan kedua selat ini juga tidak hanya bisa dilihat dari volume minyak.

Dari sisi lalu lintas kapal, Selat Malaka jauh lebih padat dibandingkan Selat Hormuz.

Data Marine Department Malaysia yang dikutip dari Reuters menunjukkan lebih dari 102.500 kapal melintasi Selat Malaka sepanjang 2025. Jumlah ini naik dari sekitar 94.300 kapal pada 2024. Jika dirata-ratakan, ada sekitar 280 kapal per hari yang melewati jalur tersebut.

Sebagai pembanding, lalu lintas kapal di Selat Hormuz lebih rendah. Sebelum perang AS-Iran pecah pada 28 Februari 2026, sekitar 140 kapal per hari melintasi Selat Hormuz. Namun, setelah konflik memanas, arus kapal di jalur ini merosot tajam. Pada 23-24 April 2026, hanya lima kapal yang melewati Selat Hormuz dalam 24 jam.

Kepadatan ini membuat Selat Malaka menjadi salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia. Jalur sepanjang sekitar 900 kilometer ini menjadi rute laut terpendek yang menghubungkan Asia Timur dengan Timur Tengah dan Eropa.

Dari perbandingan tersebut, terlihat bahwa kedua selat ini punya peran berbeda dalam rantai pasok energi global. Selat Hormuz menjadi pintu keluar minyak dari kawasan Teluk, sementara Selat Malaka menjadi jalur masuk penting bagi pasokan energi menuju Asia Timur.

Perbedaan fungsi ini membuat keduanya sama-sama krusial. Gangguan di Hormuz dapat menahan pasokan dari kawasan produsen utama, sedangkan gangguan di Malaka dapat menghambat distribusi energi ke negara Asia dengan konsumsi besar seperti China, Jepang, dan Korea Selatan.

Karena itu, perhatian Jepang terhadap posisi Selat Malaka sangat penting karena jalur ini menjadi bagian dari keamanan energi nasional mereka.

Jepang juga memberikan bantuan hibah berupa kapal patroli berkecepatan tinggi kepada Angkatan Laut RI melalui skema Official Security Assistance atau OSA. Skema ini memungkinkan Jepang memberikan bantuan peralatan pertahanan langsung kepada militer negara mitra.

Sebelumnya, bantuan Jepang lebih banyak diberikan melalui skema ODA yang berfokus pada kerja sama sipil dan penjaga pantai. Selain kepada TNI AL, Jepang juga mendukung peningkatan kemampuan Bakamla melalui penyediaan kapal patroli besar dan pengembangan infrastruktur pelabuhan di pulau-pulau terluar.

Langkah ini menunjukkan bahwa keamanan Selat Malaka tidak hanya penting bagi Indonesia, tetapi juga bagi negara-negara yang menggantungkan perdagangan dan pasokan energinya pada jalur tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |