Kepercayaan ke Dolar AS Retak, Investor Global Pilih Angkat Kaki!

2 hours ago 3

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

07 February 2026 17:15

Jakarta, CNBC Indonesia - Dalam setahun terakhir, dolar Amerika Serikat mulai melemah dan mulai terkikis statusnya sebagai aset safe haven.

Melansir data Refinitiv, sejak mencapai puncaknya pada Januari 2025, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia telah turun hampir 10%. Bagi investor global, pelemahan ini membuat kinerja aset Amerika ikut tergerus ketika dihitung dalam mata uang lain.

Penurunan tersebut tercermin dari pergerakan DXY dalam setahun terakhir. Pada periode yang sama tahun lalu, DXY masih berada di atas level 100, tepatnya 107,689. Namun pada penutupan perdagangan Jumat (6/2/2026), DXY melemah ke posisi 97,633.

Pasar AS Terlihat Kuat, Tapi Nyatanya Rapuh

Bila dilihat dari permukaan saja, pasar keuangan Amerika Serikat (AS) sekilas masih terlihat solid. Dalam 12 bulan terakhir, indeks S&P 500 menguat sekitar 14% seiring derasnya aliran dana ke saham-saham teknologi, terutama yang terkait tema artificial intelligence (AI).

Pada saat yang sama, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun berada di kisaran 4,3%, bahkan lebih rendah dibanding saat Donald Trump mengucap sumpah jabatan. Ini mengindikasikan permintaan terhadap obligasi pemerintah AS masih tinggi sehingga yield tertahan.

Namun pelemahan dolar mengubah cara membaca performa aset tersebut dari sudut pandang investor global. Dalam denominasi euro, misalnya, saham Amerika nyaris tidak naik dalam setahun terakhir karena depresiasi dolar menghapus sebagian besar kenaikan indeks sahamnya.

Suku Bunga dan Kebijakan Trump Menggerus Pamor Dolar

Tekanan terhadap dolar tidak datang dari satu faktor saja. Salah satu pemicunya adalah menyempitnya selisih suku bunga antara Amerika Serikat dan negara lain. Ketika gap imbal hasil mengecil, daya tarik memegang dolar ikut menurun karena kompensasi return yang diterima investor tidak lagi setinggi sebelumnya.

Di luar faktor suku bunga, pasar juga mulai memberi bobot lebih besar pada kekhawatiran terhadap arah kebijakan AS di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump.

Dalam beberapa momen, terjadi kepanikan di pasar ketika investor serempak menjauhi aset Amerika, sehingga obligasi, saham, dan dolar terkoreksi bersamaan.

Kejadian seperti ini lebih lazim terjadi di negara berkembang, tetapi kini tercatat muncul dalam tujuh dari 52 pekan terakhir atau sekitar tiga kali lebih sering dibanding dekade sebelumnya. Salah satu pemicunya terjadi pada April 2025 setelah pengumuman tarif Liberation Day.

Rangkaian kejadian tersebut memunculkan sinyal yang tidak biasa. Aset berbasis dolar tidak selalu menjadi tempat berlindung saat volatilitas meningkat, karena pada beberapa kesempatan justru terjadi arus keluar dari Amerika.

Isu ini menjadi penting untuk dicermati karena saaat ini dolar masih memegang peran sebagai mata uang cadangan dunia. Pada saat yang sama, kepemilikan asing atas aset AS lebih besar dibanding kepemilikan aset luar negeri oleh warga AS, dengan skala yang diperkirakan setara 89% dari PDB AS. Ketika investor global mengurangi eksposur ke Amerika, dampaknya berpotensi menjalar lebih luas ke pasar global.

Sinyal lain yang ikut menguat adalah lonjakan emas. Harga emas global sempat menyentuh level US$5.000 per troy ons atau mengalami kenaikan sekitar 75% dalam setahun. Kenaikan ini dapat dibaca sebagai langkah perlindungan terhadap risiko pelemahan nilai tukar dan berbagai risiko lainnya.

Meski tekanan meningkat, dolar belum mudah digantikan. Alternatif yang setara masih terbatas. Emas bukan substitusi sempurna bagi mata uang keras, sementara tidak ada pasar obligasi lain yang menandingi skala, likuiditas, dan perlindungan hukum US Treasury. Porsi dolar dalam perbankan lintas negara, penagihan perdagangan, utang global, dan transaksi valuta asing juga masih dominan.

Namun huru-hara akibat kebijakan pemerintah Trump dan tren pelemahan nilai tukar membuat memegang dolar menjadi lebih berisiko dibanding puluhan tahun terakhir.

Bahkan jika inflasi turun, suku bunga yang lebih rendah dapat memperlemah dolar lebih jauh. Selain itu, dolar masih disebut overvalued terhadap banyak mata uang.

Dolar Rebound Sebentar: Namun Inflasi dan Kondisi Fiskal Tetap Menghantui

Dolar AS sempat mengalami penguatan setelah Trump pada 30 Januari 2026, menyampaikan nominasi Kevin Warsh sebagai calon pimpinan The Fed untuk menggantikan Jerome Powell yang akan turun dari jabatannya pada Mei mendatang. Warsh dipandang berpengalaman dan memiliki rekam jejak kebijakan yang cenderung ketat, sehingga dolar sempat menguat dan emas melemah.

Namun respons itu tidak bertahan lama. Dalam sebulan terakhir, dolar turun 1,5% sementara emas naik 14%. Warsh memang dikenal hawkish, tetapi disebut mengalami pergeseran sikap ke arah pemangkasan suku bunga seiring proses pencarian kandidat oleh Trump.

Dorongan pelonggaran moneter membawa risiko besar jika terjadi saat inflasi masih tinggi. Inflasi AS disebut masih 2,8%, di atas target 2%.

Tahun ini juga ada pemotongan pajak dan pengembalian pajak yang memberi stimulus sekitar 0,3% dari PDB.

Jika Mahkamah Agung AS menyatakan banyak tarif Trump melanggar hukum, pengembalian dana setara 0,5% PDB bisa terjadi. Kombinasi stimulus moneter dan fiskal berpotensi menahan inflasi tetap tinggi, sehingga keraguan terhadap aset dolar ikut membesar.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |