Kenapa Dolar Tembus Rp16.915? Ini Kata Purbaya, Bos Danantara dan BI

2 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mengalami tekanan setelah beberapa menit pembukaan perdagangan awal pekan ini, Senin (19/1/2026).

Di pasar spot, mengutip data Refinitiv, kurs rupiah telah diperdagangkan di level Rp 16.915/US$ per pukul 09.34 WIB, setelah pada saat pembukaan perdagangan mampu menguat ke level Rp 16.850/US$ dari penutupan perdagangan sebelumnya Rp 16.880/US$.

Meski terus mengalami tekanan, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pada akhir pekan lalu telah memastikan bahwa kurs rupiah akan mengalami penguatan dalam dua pekan mendatang.

Ia mendasari keyakinannya atas kembalinya aliran dana asing ke aset dalam negeri dalam waktu dekat. Sebab, jika ekonomi membaik, Purbaya yakin kepercayaan investor asing juga akan kembali bangkit. Alhasil, kondisi ini akan mendorong penguatan rupiah.

"Modal-modal asing akan masuk. Mereka masuk ke negara yang menjanjikan pertumbuhan yang lebih tinggi," kata Purbaya pekan lalu.

Dia memperkirakan pertumbuhan ekonomi RI pada kuartal IV-2025 akan mencapai 5,45%. Ini akan menjadi basis kuat untuk selanjutnya tumbuh di arah 6% pada tahun ini.

"Kita akan dorong ke arah sana. Jadi kalau itu mereka udah yakin. Jadi Anda gak usah takut. Fondasi kita kuat," paparnya.

"Rupiah akan kuat karena modal akan masuk ke sini. Dan orang Indonesia yang naro uangnya di sana, ke luar negeri juga akan balik," ujan Purbaya.

Dia yakin uang-uang warga Indonesia yang di luar negeri juga akan kembali ke dalam negeri karena mereka tidak bisa berbisnis di luar negeri. "Mereka gak biasa bersaing sehat di sana," ujar Purbaya.

Terkait dengan aliran modal asing ini, dia tidak mempermasalahkan perihal Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) selama aset keuangan ini diserap oleh investor asing, bukan lokal.

"Kalau SRBI betul-betul menyerap dana asing ya gak apa2, tapi kan banyak juga domestik masuk situ," ujarnya.

Sementara itu, Menteri Investasi dan Kepala BKPM Rosan Roeslani menyebut nilai tukar rupiah saat ini masih dalam rentang yang bisa diterima para investor.

"Ya, sebetulnya ini kan kalau kita lihat, ini karena kan USD itu kan bukan satu kenaikan yang meningkat terus, ini kan masih naik turun, dan saya melihatnya ini masih dalam range yang sangat acceptable oleh investor luar juga," ucap Rosan saat ditemui di Kantor Kementerian Investasi/BKPM, Jakarta pada Kamis (15/1/2026).

Rosan mengatakan investor asing memperhatikan pergerakan dari mata uang rupiah pada saat mereka berinvestasi ke Indonesia, alhasil ketika investasi terbukti masih kuat masuk, pergerakan saat ini juga masih bisa diterima mereka. "Jadi pergerakan itu sudah masih dalam range yang sangat acceptable," tegas Rosan.

Sementara itu, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin G. Hutapea mengatakan Bank Indonesia konsisten menjaga stabilitas nilai tukar sehingga dapat menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi.

Menurutnya, pergerakan mata uang global pada awal 2026 ini, termasuk Indonesia, banyak dipengaruhi oleh meningkatnya tekanan di pasar keuangan dunia.

"Tekanan tersebut bersumber dari eskalasi tensi geopolitik, kekhawatiran terhadap independensi bank sentral di sejumlah negara maju, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter The Fed ke depan, di tengah kebutuhan valuta asing domestik yang meningkat pada awal tahun," kata Erwin dalam pernyataan resmi.

Alhasil, kondisi ini mendorong rupiah melemah dan ditutup pada level Rp 16.860 per dolar AS pada 13 Januari 2026, atau terdepresiasi sebesar 1,04% secara year-to-date. Meskipun demikian, pelemahan rupiah tersebut masih sejalan dengan pergerakan nilai tukar regional yang juga terdampak sentimen global, antara lain won Korea yang melemah sebesar 2,46% dan peso Filipina sebesar 1,04%.

Erwin menegaskan stabilitas nilai tukar Rupiah tetap terjaga berkat konsistensi kebijakan stabilisasi Bank Indonesia yang terus dilakukan secara berkesinambungan melalui intervensi NDF di pasar off-shore di kawasan Asia, Eropa, dan Amerika, serta intervensi di pasar domestik melalui transaksi spot, DNDF, dan pembelian SBN di pasar sekunder.

Selain itu, berlanjutnya aliran masuk modal asing, terutama ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan pasar saham yang secara neto mencapai Rp11,11 triliun pada Januari 2026 juga mendukung terkendalinya stabilitas rupiah, sejalan dengan persepsi investor global terhadap Indonesia yg tetap positif, tercermin dari premi risiko CDS Indonesia tenor 5 tahun yang berada pada level rendah, sekitar 72 bps.

"Ketahanan eksternal juga tetap baik tecermin pada posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2025 yang tercatat sebesar USD156,5 miliar, setara dengan 6,4 bulan impor, memadai sebagai buffer dalam menghadapi tekanan pasar keuangan global," paparnya.

Erwin menegaskan BI akan terus berada di pasar untuk memastikan nilai tukar Rupiah bergerak sesuai dengan nilai fundamental dan mekanisme pasar yang sehat. Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan instrumen operasi moneter pro-market guna memperkuat efektivitas transmisi kebijakan moneter dan menjaga kecukupan likuiditas, sehingga dapat mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dengan tetap mencapai sasaran inflasi serta menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah.

(arj/haa)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |