Jakarta, CNBC Indonesia - Kawanan beruang yang baru saja bangun dari masa hibernasi dalam kondisi lapar di Jepang dilaporkan mulai masuk ke pemukiman dan terlibat kontak dengan manusia. Frekuensi penampakan hewan buas ini pada awal tahun 2026 tercatat telah melampaui data tahun 2025, yang sebelumnya merupakan tahun rekor tertinggi untuk serangan beruang di Negeri Sakura.
Mengutip The Guardian pada Senin (27/04/2026), laporan media setempat menyebutkan bahwa hewan-hewan tersebut terlihat dengan frekuensi yang mengejutkan di wilayah perkotaan di timur laut Jepang. Pihak berwenang kini mendesak warga dan wisatawan untuk ekstra waspada, terutama bagi mereka yang berencana menghabiskan libur umum Golden Week di kawasan pedesaan.
Pada tahun 2026 ini, serangan fatal telah dilaporkan terjadi setelah jenazah seorang wanita ditemukan pada pekan lalu di Prefektur Iwate. Penemuan tersebut terjadi tak lama setelah seorang petugas kepolisian terluka akibat serangan beruang di lokasi yang berdekatan.
Meskipun musim dingin baru saja berakhir, kepolisian setempat telah berulang kali dipanggil ke daerah padat penduduk. Beruang-beruang tersebut dilaporkan terlihat di dekat gedung apartemen, gudang, hingga stasiun kereta api.
Di Aomori, sebuah prefektur di ujung utara pulau utama Jepang, otoritas lokal pada 1 April telah mengeluarkan peringatan khusus mengenai keberadaan beruang hitam Asia. Peringatan ini muncul setelah lima ekor beruang terlihat dalam kurun waktu hanya 10 hari.
Dua prefektur di timur laut lainnya, yakni Iwate dan Fukushima, juga telah mengeluarkan peringatan serupa sebagaimana dilaporkan oleh Asahi Shimbun. Penampakan yang masif ini meningkatkan kekhawatiran dan kecemasan di kalangan penduduk Jepang timur laut serta Hokkaido, pulau utama paling utara di negara tersebut.
Dalam periode 12 bulan yang dimulai sejak April tahun lalu, Jepang mencatat rekor 238 serangan beruang yang mengakibatkan 13 orang tewas. Sebagian besar insiden mengerikan tersebut terjadi di enam prefektur yang membentuk wilayah Tohoku di timur laut Jepang.
Pada awal bulan ini, belasan petugas polisi di sebuah kota di Prefektur Fukushima mengejar seekor beruang di lingkungan yang menurut pengakuan warga sebelumnya tidak pernah menjadi masalah. Beruang dengan berat sekitar 100 hingga 120 kilogram tersebut terlibat ketegangan panjang dengan polisi sebelum akhirnya ditembak mati di bawah jalan tol oleh pemburu berlisensi.
"Saya tidak pernah membayangkan beruang akan muncul di sini. Dari mana asalnya?," ujar seorang wanita setempat kepada Asahi Shimbun.
Penduduk dan otoritas lokal sebenarnya berharap tahun ini akan membawa kelegaan karena para ahli memperkirakan hasil panen kacang beech yang merupakan makanan pokok beruang akan lebih baik. Panen tahun lalu yang sangat buruk memaksa beruang memberanikan diri masuk ke daerah berpenduduk demi mencari makan.
Fenomena gagal panen ini diyakini terjadi dalam siklus dua tahunan yang oleh sebagian ilmuwan dikaitkan dengan krisis iklim dan panas musim panas yang ekstrem. Jika pasokan makanan di hutan melimpah tahun ini, diharapkan jumlah beruang lapar yang berkeliaran di kota dan desa akan berkurang.
Namun, Shinsuke Koike yang merupakan profesor ekologi di Universitas Pertanian dan Teknologi Tokyo memberikan peringatan keras. Koike menyoroti fakta bahwa penampakan baru-baru ini terjadi pada musim semi, saat beruang yang baru keluar dari hibernasi biasanya memakan daun dan tanaman liar di pegunungan.
"Beruang yang sebelumnya berani masuk ke pemukiman manusia mungkin telah belajar bahwa makanan dapat ditemukan di tempat-tempat yang dekat dengan manusia," kata Koike kepada Mainichi Shimbun.
Koike menambahkan bahwa pertemuan sebelumnya dengan manusia, di mana hewan-hewan tersebut dapat kembali dengan selamat ke habitat alaminya, mungkin membuat mereka tidak lagi menganggap manusia sebagai ancaman potensial. Kondisi ini membuat risiko konflik antara manusia dan beruang menjadi semakin berbahaya.
(tps/tps)
Addsource on Google

5 hours ago
1
















































