Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
06 May 2026 17:05
Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah negara Asia masih mencatatkan surplus perdagangan yang besar. Namun, kondisi tersebut ternyata tidak selalu membuat mata uang mereka menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Fenomena ini menjadi perhatian karena secara teori, negara dengan surplus perdagangan besar biasanya memiliki mata uang yang lebih kuat.
Surplus berarti nilai ekspor lebih besar dibandingkan impor, sehingga permintaan terhadap mata uang negara tersebut seharusnya ikut meningkat.
Namun, kondisi yang terjadi di Asia saat ini tidak sesederhana itu.
Surplus Besar, Tapi Mata Uang Tetap Tertekan
Indonesia menjadi salah satu contoh paling jelas dari fenomena surplus perdagangan yang tidak otomatis membuat mata uang menguat.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia kembali surplus sebesar US$3,32 miliar pada Maret 2026. Dengan capaian tersebut, Indonesia telah membukukan surplus neraca perdagangan selama 71 bulan beruntun sejak Mei 2020.
Namun, surplus panjang tersebut tidak otomatis membuat rupiah perkasa. Sejak Mei 2020 hingga akhir April 2026, nilai tukar rupiah justru telah mengalami depresiasi sekitar 15% terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Fenomena serupa juga terlihat di sejumlah negara Asia lain, terutama Korea Selatan dan Vietnam. Keduanya sama-sama mencatatkan tren surplus perdagangan, tetapi mata uangnya tetap tidak lepas dari tekanan dolar AS.
Korea Selatan, misalnya, mencatat surplus perdagangan sebesar US$23,77 miliar pada April 2026.
Capaian ini sekaligus menandai surplus perdagangan selama 15 bulan beruntun, atau sejak sekitar Februari 2025. Surplus tersebut terutama ditopang oleh kuatnya ekspor semikonduktor, seiring tingginya permintaan global terkait kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Namun, tren surplus itu tidak serta-merta membuat won Korea Selatan menguat. Melansir Refinitiv, sepanjang periode surplus perdagangan tersebut, won masih terdepresiasi sekitar 1,03% terhadap dolar AS.
Vietnam juga menunjukkan pola yang sama. Negara ini berhasil mencatat surplus perdagangan selama 10 tahun berturut-turut sejak 2016. Pada 2025, surplus perdagangan Vietnam masih berada di kisaran US$20 miliar hingga US$21,2 miliar, menunjukkan bahwa kinerja ekspor negara tersebut tetap solid.
Meski begitu, dong Vietnam tetap bergerak melemah. Dalam lima tahun terakhir, dong Vietnam telah terdepresiasi sekitar 14,25% terhadap greenback.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa surplus neraca perdagangan memang penting, tetapi bukan satu-satunya penentu arah nilai tukar.
Mengutip analisis Commerzbank, hubungan antara surplus perdagangan dan penguatan mata uang kini semakin melemah. Pergerakan mata uang tidak lagi hanya ditentukan oleh neraca perdagangan, tetapi juga dipengaruhi oleh arus modal, kebijakan bank sentral, dan dominasi dolar AS dalam sistem keuangan global.
Peran Bank Sentral dan Intervensi Mata Uang
Salah satu faktor utama yang membuat mata uang Asia tidak otomatis menguat adalah kebijakan bank sentral.
Banyak bank sentral di Asia tidak sepenuhnya membiarkan nilai tukarnya bergerak bebas. Mereka tetap menjaga stabilitas mata uang dengan berbagai instrumen, termasuk intervensi di pasar valuta asing dan pengelolaan cadangan devisa.
Bank sentral juga harus menyeimbangkan banyak kepentingan. Di satu sisi, mata uang yang terlalu lemah bisa menambah tekanan inflasi karena harga impor menjadi lebih mahal. Namun di sisi lain, mata uang yang terlalu kuat juga bisa mengganggu daya saing ekspor.
Karena itu, sebagian otoritas moneter di Asia cenderung menjaga agar mata uangnya tetap stabil dan tidak menguat terlalu cepat, terutama bagi negara yang ekonominya sangat bergantung pada ekspor.
Dolar AS Masih Jadi Raja
Faktor lain yang tidak kalah penting adalah dominasi dolar AS.
Dalam perdagangan dan pembiayaan global, dolar AS masih menjadi mata uang utama. Banyak transaksi ekspor-impor, pembayaran komoditas, dan pembiayaan internasional masih menggunakan dolar AS. Akibatnya, permintaan terhadap dolar tetap tinggi, meskipun banyak negara Asia mencatatkan surplus perdagangan.
Selain itu, kebijakan suku bunga The Federal Reserve atau The Fed juga memberi tekanan besar terhadap mata uang Asia. Ketika suku bunga AS tinggi, aset berbasis dolar menjadi lebih menarik. Investor global pun cenderung menempatkan dananya ke instrumen dolar AS.
Arus modal yang masuk ke aset dolar ini pada akhirnya menciptakan tekanan terhadap mata uang Asia, meskipun fundamental perdagangan kawasan tersebut sebenarnya kuat.
Arus Modal Bisa Mengalahkan Surplus Dagang
Di era keuangan global yang semakin terintegrasi, arus modal kini memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap nilai tukar.
Investasi asing langsung masih mengalir ke pusat-pusat manufaktur seperti Vietnam dan Thailand. Namun, arus investasi portofolio bisa bergerak sangat cepat mengikuti sentimen global.
Ketika investor global cenderung menghindari risiko, dana bisa keluar dari pasar negara berkembang dan kembali masuk ke aset-aset aman seperti dolar AS dan surat utang pemerintah AS.
Di saat yang sama, investor institusional Asia juga semakin banyak menempatkan dana ke luar negeri. Arus keluar modal ini bisa mengimbangi dampak positif dari surplus perdagangan terhadap mata uang domestik.
Dengan kata lain, surplus perdagangan memang memberi dukungan, tetapi tekanan dari arus modal bisa membuat mata uang tetap sulit menguat.
Setiap Negara Asia Punya Cerita Berbeda
Commerzbank juga menyoroti bahwa dinamika mata uang di Asia tidak bisa dijelaskan dengan satu pola yang sama.
Negara manufaktur seperti Korea Selatan dan Taiwan memiliki karakter berbeda dengan negara eksportir komoditas seperti Indonesia dan Malaysia. Sementara itu, pusat keuangan seperti Singapura dan Hong Kong punya dinamika yang lebih dipengaruhi oleh mobilitas modal internasional.
Negara manufaktur biasanya berupaya menjaga nilai tukar agar tetap kompetitif bagi ekspor. Negara komoditas lebih sensitif terhadap perubahan harga barang mentah global. Adapun pusat keuangan sangat dipengaruhi oleh keluar-masuknya dana internasional.
Karena itu, meski sama-sama berada di Asia, respons mata uang masing-masing negara terhadap surplus perdagangan bisa sangat berbeda.
Model Lama Tak Lagi Cukup
Fenomena ini menunjukkan bahwa teori lama soal hubungan surplus perdagangan dan penguatan mata uang tidak lagi sepenuhnya berlaku.
Pada masa krisis keuangan Asia 1997-1998, defisit transaksi berjalan menjadi salah satu faktor yang memperburuk pelemahan mata uang. Setelah krisis, surplus perdagangan umumnya dianggap sebagai penopang nilai tukar.
Namun kini, hubungan tersebut semakin melemah. Perubahan pola perdagangan global, meningkatnya peran China, meluasnya rantai pasok internasional, serta makin besarnya pengaruh sektor jasa dan ekonomi digital membuat pergerakan mata uang menjadi jauh lebih kompleks.
Ke depan, surplus perdagangan Asia diperkirakan masih akan bertahan dalam jangka menengah. Namun, belum tentu hal itu langsung membuat mata uang Asia menguat tajam.
Beberapa analis menilai tekanan apresiasi tetap bisa muncul secara bertahap. Namun, sebagian lainnya melihat bank sentral di kawasan akan tetap aktif mengelola mata uangnya demi menjaga stabilitas ekonomi dan daya saing ekspor.
Selain itu, faktor geopolitik, perubahan teknologi, transisi energi, hingga perkembangan mata uang digital bank sentral juga bisa ikut mengubah arah pasar valuta asing Asia.
CNCB INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Addsource on Google

1 hour ago
6

















































