Jakarta, CNBC Indonesia - Ancaman banjir besar akibat hujan ekstrem membuat pemerintah Maroko mengeluarkan peringatan darurat kepada warga di wilayah dataran rendah barat laut negara itu untuk segera meninggalkan tempat tinggal mereka, seiring meningkatnya debit sungai dan pelepasan air dari bendungan yang sudah penuh.
Dilansir Reuters, Kamis (5/2/2026), Kementerian Dalam Negeri Maroko menyatakan jumlah warga yang telah dievakuasi mencapai 108.432 orang. Evakuasi dilakukan menyusul hujan lebat berkepanjangan yang menyebabkan lahan pertanian dan permukiman di sejumlah daerah tergenang.
Helikopter dikerahkan dalam operasi penyelamatan ketika air terus naik dan menutup sawah serta desa-desa di wilayah barat laut. Militer Maroko sendiri telah berada di lapangan sejak Jumat untuk membantu proses evakuasi, di tengah status siaga merah yang masih diberlakukan akibat potensi hujan deras lanjutan dalam beberapa hari ke depan.
Wilayah yang terdampak paling parah adalah kawasan Gharb, daerah dataran rendah yang menjadi lumbung gandum utama Maroko. Secara geografis, kawasan ini dikenal memiliki sistem drainase buruk dan kontur tanah yang relatif datar, sehingga air hujan sulit mengalir keluar setelah curah hujan tinggi selama berminggu-minggu.
Data resmi pemerintah menunjukkan curah hujan di Maroko saat ini melonjak 215% dibandingkan tahun lalu dan 54% di atas rata-rata historis.
Kementerian Dalam Negeri menyebutkan evakuasi diperintahkan di sejumlah wilayah Provinsi Larache, termasuk kota Ksar El Kebir, Souaken, Ouled Ouchih, kawasan industri Larache, serta daerah-daerah di sekitar bantaran Sungai Loukous. Langkah ini diambil sebagai tindakan pencegahan terhadap potensi banjir susulan.
Sebagian besar evakuasi terjadi di Ksar El Kebir. Otoritas setempat mengatakan sekitar 85% penduduk kota itu telah meninggalkan rumah mereka. Televisi pemerintah menayangkan para warga yang dipindahkan ke kamp-kamp darurat dan menerima bantuan tempat tinggal serta makanan.
Ksar El Kebir kini nyaris kosong. Banyak lingkungan permukiman terendam setelah Sungai Loukous meluap pekan lalu. Sejumlah warga mengatakan aliran listrik di beberapa bagian kota juga terputus akibat genangan air.
Perhatian khusus tertuju pada Bendungan Oued Makhazine yang berada dekat Ksar El Kebir. Menurut pernyataan Kementerian Air, bendungan tersebut kini beroperasi pada kapasitas 146% setelah diguyur hujan deras selama beberapa pekan, sehingga meningkatkan tekanan bagi otoritas untuk melepaskan lebih banyak air ke wilayah hilir.
Di tengah situasi ini, kelompok-kelompok pembela hak warga mendesak pemerintah Maroko untuk menetapkan wilayah terdampak sebagai daerah "bencana". Status tersebut dinilai penting agar para korban banjir dapat mengakses perlindungan asuransi atas kerusakan properti dan lahan.
Di sisi lain, hujan luar biasa ini juga membawa dampak jangka panjang bagi sektor sumber daya air. Curah hujan ekstrem telah mengakhiri kekeringan selama tujuh tahun yang sebelumnya memaksa Maroko mempercepat investasi besar-besaran dalam proyek desalinasi air laut.
Tingkat keterisian bendungan nasional kini naik menjadi hampir 62%, dari hanya 27% pada periode yang sama tahun lalu. Beberapa bendungan besar bahkan mulai dikosongkan sebagian untuk menampung limpahan air baru dari hujan yang terus turun.
(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]

2 hours ago
2















































