HIPMI Kasih Rekomendasi Ini Buat Hadapi Ketidakpastian Ekonomi

18 hours ago 7

Jakarta, CNBC Indonesia - Sekretaris Jenderal Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Anggawira menyoroti meningkatnya tekanan ekonomi global yang berdampak signifikan terhadap dunia usaha di Indonesia. Sejumlah faktor kritis menjadi perhatian, mulai dari kejatuhan IHSG yang memicu trading halt, pelemahan nilai tukar rupiah, kebijakan tarif baru AS di bawah Donald Trump, hingga pengetatan anggaran dan realokasi budget kebeberapa program prioritas. 

"Kondisi ini membutuhkan kebijakan yang lebih berani, terukur, dan pro-pengusaha untuk menjaga stabilitas ekonomi serta memastikan pertumbuhan yang inklusif. Jika tidak ada langkah konkret dari pemerintah, tekanan terhadap dunia usaha akan semakin besar dan memperlambat pemulihan ekonomi nasional," ujar Anggawira dalam keterangan resmi, Kamis (3/4/2025). 

Dia merinci sejumlah tantangan global yang dihadapi Indonesia, antara lain:

Tekanan Ekonomi yang Kian Meningkat

Meningkatnya tekanan ekonomi terlihat dari kejatuhan IHSG hingga diberlakukannya trading halt. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan berat, dengan penurunan tajam yang memicu trading halt. Ketidakpastian global serta sentimen negatif akibat kebijakan ekonomi AS dan ketegangan geopolitik menyebabkan arus modal keluar dari Indonesia.

Selain itu juga terjadi pelemahan nilai tukar rupiah. Nilai tukar rupiah terus melemah hingga menyentuh level Rp16.700 per dolar AS. Tekanan ini diperparah oleh arus keluar dana asing akibat sentimen negatif di pasar modal dan dampak tarif baru AS.

Kemudian dengan adanya Tarif Baru Trump yang memberikan pukulan bagi Ekspor Indonesia. Pengumuman kebijakan US Reciprocal Tariffs Plan oleh Donald Trump menambah beban bagi industri dalam negeri. Dengan tarif 32% pada produk Indonesia, ekspor ke AS akan semakin terhambat, mengancam daya saing sektor manufaktur dan industri berbasis ekspor seperti tekstil, elektronik, dan otomotif.

Anggawira juga menyoroti pembentukan Danantara di mana kepercayaan investor menjadi ujian. Dirinya melihat Danantara, sebagai salah satu langkah terobosan untuk mengkonsolidasikan kekuatan BUMN untuk menjadi alat pertumbuhan, mendapat tantangan yang berat karena reaksi pasar yang masih cenderung negatif. 

Terkait hal tersebut, HIPMI mendorong agar Danantara dapat fokus pada investasi yang mampu mengairahkan kepercayaan investasi asing, pembiayaan dari Bank Bank BUMN harus tetap mengedepankan mekanisme dan aturan yang prudent. 

Tidak ketinggalan, adalah dampak fiskal dari Program Makan Siang Bergizi. HIPMI merekomendasikan pelaksanaan program makan siang bergizi dilakukan dengan berbagai opsi metodologi, bukan hanya dengan pembuatan dapur bisa sistem berbasis voucher dan juga pendekatan dengan umkm lokal. 

"Program Makan Siang bergizi yang direncanakan pemerintah berpotensi membebani anggaran negara secara signifikan jika tidak dirancang dengan baik. Dengan defisit fiskal yang sudah tinggi, HIPMI meminta pemerintah memastikan bahwa program ini dijalankan secara efisien tanpa mengorbankan sektor produktif," tukas Anggawira.

Oleh karena itu, dirinya mengatakan, HIPMI mendesak langkah konkret dari pemerintah.

Rekomendasi HIPMI

HIPMI merekomendasikan sejumlah kebijakan yang perlu segera diambil untuk menghadapi situasi ini:

Jangka Pendek (0-6 bulan): Stabilitas dan Kepercayaan Pasar

1. Intervensi BI untuk Stabilitas Rupiah
• Bank Indonesia perlu memperkuat intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga nilai tukar rupiah.
• Koordinasi erat antara kebijakan moneter dan fiskal untuk menekan dampak eksternal.

2. Stimulus Fiskal bagi Sektor Terdampak
• Insentif pajak dan kemudahan pembiayaan bagi industri yang paling terpukul oleh tarif AS, terutama manufaktur dan ekspor.
• Penguatan sektor UMKM agar lebih mandiri dan tahan terhadap guncangan global.

3. Investigasi Transparan terhadap sektor keuangan berbasis fintech
• Regulator pasar modal harus meningkatkan pengawasan dan menindak tegas kasus-kasus yang merugikan investor domestik.
• Meningkatkan transparansi dalam sektor fintech untuk menjaga kepercayaan masyarakat.

Jangka Menengah (6-18 bulan): Daya Saing Ekonomi

1. Diversifikasi Pasar Ekspor
• Mempercepat perjanjian dagang dengan Uni Eropa, Timur Tengah, dan Afrika agar ketergantungan pada AS berkurang.
• Mengoptimalkan pemanfaatan perjanjian RCEP untuk meningkatkan ekspor ke Asia-Pasifik.

2. Evaluasi Program Makan Siang Bergizi
• Pemerintah perlu memastikan bahwa program ini dibiayai dari sumber yang tidak mengganggu stabilitas fiskal.
• HIPMI menyarankan keterlibatan sektor swasta dalam penyediaan makanan untuk meningkatkan efisiensi dan dampak ekonomi.

3. Penguatan Investasi Domestik
• Menarik investasi dalam negeri dengan reformasi birokrasi dan kepastian hukum yang lebih baik.
• Memfasilitasi perusahaan-perusahaan lokal untuk lebih terlibat dalam rantai pasok global.

Jangka Panjang (>18 bulan): Transformasi Ekonomi

1. Hilirisasi Industri untuk Mengurangi Ketergantungan Ekspor Mentah
• Fokus pada pengembangan industri bernilai tambah seperti petrokimia, elektronik, dan kendaraan listrik.
• Meningkatkan kapasitas produksi dalam negeri agar lebih mandiri.

2. Penguatan Regulasi di Sektor Keuangan
• Peningkatan literasi keuangan bagi masyarakat agar lebih bijak dalam berinvestasi.

"HIPMI berharap pemerintah dapat merespon situasi ini dengan kebijakan yang cepat, tepat, dan berdampak nyata bagi dunia usaha. Jika tidak ada langkah konkret, ketidakpastian ekonomi bisa semakin dalam dan berdampak negatif bagi pengusaha serta masyarakat luas," pungkas Anggawira. 


(bul/bul)

Saksikan video di bawah ini:

Video: Era Digital, Kualitas Tenaga Kerja Bisa Penuhi Maunya Industri?

Next Article Rupiah Diramal Bakal Loyo Terus, Pengusaha Muda RI Saran 3 Jurus Ini

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |