Jakarta, CNBC Indonesia - Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China makin meradang setelah Presiden AS, Donald Trump mengenakan tarif impor sampai 34% terhadap negara tersebut. Dengan tambahan tersebut maka total tarif yang harus ditanggung China setidaknya mencapai 54%. Pasalnya, AS sebelumnya sudah memberikan tarif tambahan 20%.
Sang Naga Asia itu pun bersumpah akan balas dendam terhadap tarif impor yang tinggi tersebut. Pemerintahan Xi Jinping mengatakan akan melindungi kepentingan negara-nya dana mngutuk AS sebagai tindakan intimidasi.
Kementerian Perdagangan China telah melakukan konferensi pers pada Rabu sore kemarin (3/4/2025) dan menunjukkan sikap Beijing dalam menanggapi pemberlakuan tarif AS.
"China dengan tegas menentang langkah tersebut dan akan mengambil tindakan balasan yang tegas untuk melindungi hak dan kepentingannya yang sah," ujar Kementerian Perdagangan China Beberapa jam setelah pengumuman Gedung Putih, dilansir dari SCMP, Kamis (3/4/2025).
Adapun, Trump menyebut hari pengumuman tarif resiprokal atau tarif timbal balik sebagai 'Liberation Day' atau 'Hari Pembebasan'.
Sebagai negara penguasa ekonomi terbesar dunia. Dua negara ini juga memiliki kekuatan militer yang mengesankan dan menarik dicermati di tengah ketegangan yang terjadi antara keduanya. Meski perang dagang sejauh ini belum merambah ke perang fisik, menarik dilihat seperti apa kekuatan China dan Amerika Serikat yang merupakan negara paling adi daya saat ini.
Laporan Global Firepower (GFP) 2025 menunjukkan bahwa secara keseluruhan, AS berada diperingkat pertama dengan skor power index 0,0744. Sementara China berada diperingkat tiga dengan skor power index 0,0788.
Global Firepower (GFP) adalah organisasi yang setiap tahun merilis peringkat kekuatan militer negara-negara di dunia berdasarkan berbagai faktor seperti jumlah personel, alutsista, anggaran pertahanan, dan kemampuan logistik.
Skor Power Index yang lebih rendah menunjukkan kekuatan militer yang lebih tinggi. Amerika Serikat tetap mempertahankan posisinya di peringkat pertama dengan skor 0,0699, diikuti oleh Rusia dan China.
Delapan indikator perbandingan dalam laman resmi GFP, China dan AS masing-masing unggul sebanyak empat indikator. China unggul dalam hal manpower, land power, naval power, dan financials. Sedangkan AS unggul dalam hal airpower, natural resources, logistics, dan geography.
China memiliki active personnel yang jauh lebih banyak dibandingkan AS yakni lebih dari 2 juta orang, sementara AS tak sampak 1,4 juta orang.
Lebih lanjut, jumlah destroyers (naval power) AS unggul 31 lebih banyak dibandingkan China dengan submarine yang juga lebih banyak 9 unit dibandingkan China.
Sementara dalam hal mobile rocket projectors (land power), China tampak unggul cukup jauh dengan jumlah 2.750 unit, berbeda halnya dengan AS yang hanya memiliki 641.
Begitu pula dengan tank strength (land power) China yang lebih banyak 2.160 unit dibandingkan AS.
Berikut ini beberapa perbandingan antara kekuatan China dan AS dari sisi finansial pertahanan hingga militernya.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(tsn/tsn)