Jakarta, CNBC Indonesia - Belum usai demam cokelat Dubai yang viral tahun lalu, kini Korea Selatan kembali dilanda tren kuliner baru yang tak kalah heboh. Dikenal secara lokal dengan sebutan Dujjonku (singkatan dari Dubai Jjondeuk-han Cookie), kue kenyal ala Dubai ini sukses memicu antrean panjang di berbagai kafe estetik Seoul hingga menyebabkan kelangkaan bahan baku secara nasional.
Mengutip Independent, kue ini terbuat dari kataifi (kue kering Timur Tengah yang tipis seperti benang) yang digoreng hingga renyah, dicampur dengan krim pistachio, dibentuk menjadi bola, dan dibungkus dengan lapisan marshmallow dan kakao yang mengkilap, yang setelah dingin berubah menjadi cangkang kenyal seperti kue beras.
Pencipta kue ini, koki pastry Kim Na Ra, mengatakan kepada serial dokumenter Little Big Masters bahwa awalnya ia membuat kue kenyal berlapis marshmallow sebelum seorang pelanggan menyarankan untuk menambahkan isian ala cokelat Dubai, yang kemudian melahirkan dujjonku.
Menurut Korea JoongAng Daily, Kim kini memproduksi lebih dari 30.000 kue kering per hari dengan sekitar 50 karyawan, dengan penjualan harian sekitar 130 juta won (Rp 1,5 miliar).
"Banyak toko roti sudah membuat versi mereka sendiri dengan gaya masing-masing. Saya pikir alasan mengapa kue ini menjadi sangat populer adalah karena kita menciptakan tren ini bersama-sama," kata Kim.
Karena kepopuleran kue tersebut, Korea mengalami krisis pistachio, yang menjadi bahan baku dujjonku.
Fallcent, aplikasi pelacak harga yang memantau daftar di raksasa e-commerce Coupang, menemukan bahwa harga pistachio telah meningkat lebih dari tiga kali lipat baru-baru ini. Sekantong pistachio tanpa kulit seberat satu kilogram yang harganya sekitar 20.000 won (Rp 230 ribu) pada awal Desember telah naik menjadi sekitar 80.000 won (Rp 950 ribu) pada akhir Januari, menurut The Korea Herald.
Karena lonjakan permintaan terus mengganggu rantai pasokan normal, beberapa pemasok dilaporkan mulai membatalkan transaksi yang telah dibuat sebelumnya untuk menjual kembali stok di tempat lain dengan harga lebih tinggi, sementara pembeli lain membeli bahan-bahan tersebut hanya untuk menjualnya kembali di platform barang bekas dengan harga yang lebih tinggi.
Dalam satu kasus, pembeli dilaporkan membayar premi lebih dari 100.000 won (Rp 1,2 juta) untuk mendapatkan satu kilogram pistachio dalam waktu singkat, dibandingkan dengan harga jual di Emart sekitar 32.450 won (Rp 380 ribu) per kilogram, menurut laporan.
Tren yang Mengubah Lanskap Kafe
Para pemilik kafe di Korea kini harus memutar otak. Beberapa mulai memberlakukan sistem pre-order atau membatasi pembelian maksimal dua buah per pelanggan demi memastikan semua orang bisa mencicipi kue viral ini.
Fenomena ini membuktikan betapa kuatnya pengaruh tren global yang diadaptasi dengan selera lokal. Jika tahun lalu cokelat Dubai adalah primadonanya, tahun 2026 ini sepertinya menjadi tahun kejayaan kue kenyal yang memadukan kemewahan Dubai dengan kreativitas baking Korea.
(hsy/hsy)
[Gambas:Video CNBC]

2 hours ago
3
















































