Jakarta, CNBC Indonesia - Upaya pemerintah menarik investasi dari Rusia semakin serius setelah Presiden Prabowo menemui Presiden Rusia Vladimir Putin di Rusia April lalu. Tak lama berselang, Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza coba menarik investasi khususnya di sektor manufaktur.
"Banyak pembicaraan mengenai rencana-rencana investasi saat di Rusia kemarin, apalagi pertemuan itu dilaksanakan setelah Presiden Putin dan Presiden Prabowo bertemu satu dua minggu sebelumnya. Sehingga memberikan keyakinan pada pengusaha-pengusaha Rusia melakukan investasi ke Indonesia," katanya dalam Grand Opening Pabrik Kawat Besi Galvanis di Subang, Rabu (6/5/2026).
Pertemuan dua kepala negara itu menjadi faktor penting yang mendorong kepercayaan investor. Pemerintah mengklaim adanya pergeseran minat dari sekadar penjajakan menjadi potensi realisasi investasi melalui Forum Indonesia-Russia Business & Investment yang digelar menjelang INNOPROM 2026.
"Begitupun kita, perusahaan-perusahaan Indonesia berusaha membangun satu rantai pasok dengan perusahaan-perusahaan yang ada di Rusia dan Belarus. Karena kita baru juga menandatangani perjanjian dagang komprehensif antara Indonesia dan negara-negara Eurasia, di mana tergabung beberapa negara yang di dalamnya termasuk Rusia dan Belarus," sebut Faisol.
Kesepakatan dagang dengan kawasan Eurasia membuka ruang kolaborasi yang lebih luas, termasuk integrasi industri hulu hingga hilir. Hal ini menjadi penting bagi Indonesia untuk mengamankan pasokan bahan baku strategis di tengah ketidakpastian global.
"PT Pupuk Indonesia lagi menjajaki untuk bisa melakukan investasi di Belarus di perusahaan yang akan mensuplai bahan baku fosfat. Nah ini, menarik sekali karena kemarin mereka langsung ke Belarus dan membicarakan technical meeting bagaimana investasi PT Pupuk akan dilaksanakan di Belarus," ujar Faisol.
Selain sektor pupuk, juga membahas peluang investasi lain seperti pembangunan galangan kapal hingga kerja sama energi. Rusia bahkan menawarkan teknologi pembangkit listrik tenaga nuklir terapung melalui perusahaan Rosatom.
"Rosatom membuat presentasi mengenai pembangkit listrik yang floating. Jadi dia tidak landed di daratan, tetapi ditempatkan di sebuah fasilitas di laut yang berdekatan dengan daratan. Lalu pembangunannya dilaksanakan dan pembangkitnya dibangun di fasilitas itu untuk bisa luruskan ke daratan," ujar Faisol.
Di sisi lain, pemerintah juga melihat peluang besar di sektor industri halal. Dengan populasi Muslim Rusia yang mencapai puluhan juta orang, pasar ini dinilai sangat potensial untuk produk Indonesia.
"Apapun produk-produk industri halal saya yakin sekali akan menjadi produk yang bisa diterima oleh masyarakat Muslim Rusia," kata Faisol.
Tak hanya itu, kerja sama energi menjadi fokus lain yang tak kalah penting. Indonesia tengah menjajaki pasokan gas, baik dalam bentuk LNG maupun LPG, guna menopang kebutuhan industri yang terus meningkat.
"Tentu saja kita juga membutuhkan pasokan LPG karena kebutuhan industri yang makin besar, makin meningkat dan sebagai bahan baku tentu saja gas yang liquid ini bisa digunakan untuk bahan baku industri," kata Faisol.
Foto: (kiri ke kanan): Commercial Director Beka Wire Indonesia Sandy Suryadi dan Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza dalam Grand Opening Pabrik Kawat Besi Galvanis di Subang, Rabu (6/5/2026). (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)
(dce)
Addsource on Google

5 hours ago
6

















































