Bukan Kiamat Crypto, Kejatuhan Harga Bitcoin Hanya Reset Struktural

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Februari tahun ini berpotensi menjadi bulan pesta pora bagi pasar aset digital. Mengingat, seluruh indikator sebenarnya tampak sempurna di atas kertas. Dalam hal ini, narasi "Trump Trade" mendominasi berita utama dan banyak analis Wall Street merasa percaya diri dapat memprediksi bahwa Bitcoin (BTC) akan segera mencetak rekor tertinggi baru (All-Time High), sehingga menarik seluruh ekosistem aset digital bersamanya.

Meski begitu, kenyataan di lapangan justru jauh berbeda. Pada 5 Februari 2026, pasar aset digital mengalami salah satu penurunan harga paling brutal dalam sejarah modern. Bitcoin yang digadang-gadang sebagai aset pelindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian politik justru anjlok ketika narasi politik sedang memuncak. Bahkan, harga Bitcoin sempat menyentuh US$ 60.000. Fenomena anomali ini pun membingungkan jutaan investor ritel di seluruh dunia.

Kepanikan melanda forum-forum komunitas dan media sosial. Pertanyaan yang muncul bukan lagi soal momentum Bitcoin to the moon, melainkan bernada eksistensial. Mereka mulai mempertanyakan terkait kekhawatiran narasi fundamental Bitcoin sudah gagal, "Mengapa harga turun saat berita bagus?" atau "Apakah ini awal dari Crypto Winter yang baru?"

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut jelas tidak sederhana. Namun, sebuah laporan riset pasar yang sangat mendalam dan berwawasan luas bertajuk "Bitcoin (BTC) Outlook 2026" yang baru saja dirilis oleh Tim Investment Research Pluang berhasil menyingkap isu ini.

Laporan tersebut mengungkap fakta yang jauh lebih kompleks. Ironisnya, fakta tersebut lebih menenangkan daripada sekadar kepanikan harga di permukaan.

Anatomi "The Great Decoupling": Ketika Politik Kalah Lawan Likuiditas

Para analis kuantitatif di Pluang menyebut fenomena Februari ini sebagai "The Great Decoupling" atau Pemisahan Besar. Ini adalah momen di mana harga aset terlepas dari narasi beritanya karena hukum gravitasi finansial yang paling dasar, yakni Likuiditas.

Laporan tersebut menjelaskan bahwa janji politik tidak dapat melawan realitas likuiditas global. Ketika imbal hasil (yield) obligasi AS tetap tinggi dan ketidakpastian kebijakan The Fed meningkat, struktur pasar yang rapuh akibat utang berlebihan akhirnya runtuh.

Salah satu temuan paling mengejutkan dalam laporan investigasi tersebut adalah mengenai siapa yang sebenarnya menjual. Narasi populer di media sosial sering kali menyalahkan "tangan lemah" (weak hands) atau investor ritel yang panik sebagai penyebab kejatuhan harga. Namun, laporan Pluang membongkar fakta forensik bahwa kejatuhan harga Bitcoin (BTC) kali ini dipicu oleh Likuidasi Paksa Institusional.

Data pasar menunjukkan bahwa pusat gempa crash ini tidak berasal dari New York atau London, melainkan dari Asia, khususnya Hong Kong.

Sejumlah dana lindung nilai (hedge funds) besar yang berbasis di Hong Kong diketahui telah mengambil posisi leverage (utang margin) yang sangat agresif. Mereka bertaruh besar pada persetujuan regulasi lanjutan. Akan tetapi, ketika harga bergerak sedikit melawan posisi mereka, algoritma manajemen risiko broker mereka menyala merah.

Dari situ, terjadilah apa yang disebut sebagai Margin Call Cascade. Posisi senilai ratusan juta dolar dilikuidasi secara otomatis oleh sistem komputer. Penjualan paksa ini membanjiri pasar spot dengan pasokan BTC yang tidak bisa diserap oleh permintaan yang ada, menyebabkan harga jatuh tegak lurus.

Selain itu, laporan tersebut menyoroti faktor ETF Outflows. Banyak investor institusional yang masuk melalui ETF Bitcoin Spot kini terbukti sebagai "Modal Tentara Bayaran" (Mercenary Capital). Mereka setia pada profit, bukan pada aset. Ketika volatilitas melonjak, mereka keluar, memperparah tekanan turun.

Perang Skala Tinggi

Poin paling menarik, dan membingungkan, yang diulas dalam laporan Bitcoin (BTC) Outlook ini adalah adanya perpecahan pandangan yang tajam di kalangan raksasa finansial dunia. Kita tidak lagi melihat konsensus tunggal di Wall Street.

1. Kubu Pesimis (The Bears)


Bank multinasional seperti Standard Chartered telah mengambil langkah konservatif dengan memangkas target harga BTC. Argumen mereka berakar pada makroekonomi: Lingkungan suku bunga tinggi (Higher for Longer) di AS membuat biaya modal menjadi mahal. Tanpa suntikan likuiditas baru dari bank sentral, kenaikan harga akan terbatas dan pasar mungkin akan mengalami konsolidasi yang menyakitkan.

2. Kubu Optimis (The Bulls)
Di sisi lain, laporan tersebut menyoroti pandangan kontras dari Goldman Sachs dan tokoh industri seperti Michael Saylor. Mereka tetap mempertahankan target harga agresif di kisaran US$170.000 - US$200.000. Tesis mereka sederhana yaitu volatilitas harga Bitcoin saat ini hanyalah "gangguan" jangka pendek. Adopsi negara (sovereign adoption) dan inovasi derivatif ETF akan menjadi katalis yang tidak terelakkan dalam jangka panjang.

Dislokasi antara Pesimisme Makro dan Optimisme Adopsiinilah yang menjadi inti perdebatan. Bagi investor cerdas, dislokasi ini adalah peluang emas. Namun, bagi investor yang gegabah, ini bisa menjadi "jebakan nilai".

Pandangan Ahli: "Ini Reset Struktural, Bukan Kiamat"

Guna memberikan konteks yang lebih dalam, laporan tersebut mengutip pandangan dari Head of Investment Research Pluang, Jason Gozali. Pandangannya memberikan perspektif yang sangat dibutuhkan di tengah kebisingan pasar.

Untuk itu, Jason menekankan bahwa kejatuhan Februari ini lebih merupakan cerminan dari "reset struktural" daripada kegagalan fundamental Bitcoin. Dia bilang, koreksi Februari ini bukanlah kerusakan fundamental pada tesis investasi Bitcoin jangka panjang, melainkan sebuah 'structural reset' akibat deleveraging institusional.

"Di saat pasar ritel bereaksi dengan kepanikan, investor profesional justru harus melihat volatilitas ini sebagai momentum emas untuk melakukan lindung nilai (hedging) taktis dan mengamankan likuiditas produktif. Jangan mencoba menangkap pisau jatuh; biarkan data institusional mengkonfirmasi lantai harga sebelum melakukan akumulasi agresif," ungkap Jason Gozali.

Nasihat ini menggarisbawahi pentingnya disiplin. Optimisme buta bisa menghancurkan portofolio, tetapi pesimisme berlebihan bisa membuat Anda kehilangan peluang generasi. Kuncinya adalah data.

Strategi Smart Money: Netral Aktif & Efisiensi Pajak

Lantas, apa yang harus dilakukan investor sekarang, apakah menjual dalam kerugian, atau membeli lagi?

Laporan Bitcoin (BTC) Outlook dari Pluang ini tidak hanya menyajikan masalah, tetapi juga menawarkan solusi taktis yang biasa digunakan oleh "Uang Pintar".

1. Strategi "Netral Aktif" dengan USD Yield


Salah satu kesalahan terbesar ritel adalah membiarkan uang tunai menganggur saat menunggu pasar pulih. Laporan ini menyarankan strategi manajemen likuiditas agresif.

Di tengah volatilitas tinggi dan bias neutral/bearish, investor disarankan memarkir likuiditas mereka di instrumen kas produktif seperti fitur USD Yield. Dengan imbal hasil hingga 3,38% p.a., investor dibayar untuk bersabar. Ini mengubah "waktu tunggu" menjadi keuntungan pasti, memberikan amunisi yang lebih besar saat nanti sinyal beli yang valid muncul.

2. Strategi Lindung Nilai (Hedging)
Para profesional tidak takut pasar turun; mereka mendapat untung darinya. Laporan ini mengulas penggunaan Crypto Futures untuk mengambil posisi Short (jual) atau penggunaan strategi Options (seperti Long Put pada saham proxy Bitcoin). Strategi ini memungkinkan investor untuk melindungi nilai portofolio fisik mereka tanpa harus menjual aset utama.

3. Diversifikasi HNWIs: Alpha Pajak
Bagi investor berkekayaan tinggi (HNWIs), laporan ini menyoroti rotasi aset ke instrumen defensif seperti Crypto Emas (PAXG/XAUT). Alasannya sangat pragmatis: Efisiensi Pajak. Di Indonesia, struktur pajak final untuk aset kripto sering kali jauh lebih menguntungkan bagi transaksi bernilai besar dibandingkan pajak penghasilan progresif atau biaya spreadfisik.

Baca Peta Sebelum Masuk 'Arena' Bitcoin

Pasar Bitcoin di tahun 2026 adalah hutan belantara yang penuh peluang sekaligus bahaya. Kejatuhan Februari bisa menjadi awal dari akhir, atau bisa menjadi peluang pembelian terbaik dalam dekade ini, tergantung pada data yang Anda pegang.

Apakah level saat ini sudah menjadi dasar? Indikator on-chain apa yang sedang dipantau oleh institusi sebelum mereka mulai mengakumulasi kembali? Dan bagaimana cara mengatur portofolio agar tahan banting terhadap crypto winter?

Jawaban lengkapnya, beserta data aliran dana ETF, analisis teknikal mendalam, dan panduan langkah demi langkah strategi lindung nilai, tersedia secara eksklusif dalam laporan lengkap Pluang.

Jadi, tunggu apa lagi? Jangan biarkan portofolio Anda di ambang ketidakpastian. Bekali diri Anda dengan wawasan institusional sebelum mengambil keputusan, simak laporan lengkapnya di sini.

(rah/rah)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |