Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com
"Orang-orang di Mesir dan Jordan telah berbuka, sementara warga Palestina masih berpuasa." Kalimat ini dituturkan oleh seorang Ibu di Gaza, menggambarkan betapa sulitnya mendapatkan makanan untuk berbuka puasa di sana.
Tahun ini, warga Gaza menjalani Ramadan dalam kondisi yang memprihatinkan, bantuan kemanusiaan yang diizinkan masuk tak cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka. Penduduk Gaza tidak hanya meninggal akibat serangan Israel, tapi juga karena kelaparan berkepanjangan.
Per Agustus 2025, Integrated Food Security Phase Classification (IPC) menetapkan krisis pangan di Gaza telah mencapai tingkat "Bencana Pangan" (Fase 5 IPC), dengan lebih dari 500.000 jiwa berada dalam kondisi kelaparan ekstrem. Jika kondisi ini terus berlanjut, IPC memprediksi hingga April 2026, setengah lebih penduduk Gaza tetap berada dalam kondisi "Krisis Pangan" (Fase 3 IPC).
Terbatasnya pasokan pangan ini disebabkan oleh tiadanya sumber produksi pangan di Gaza akibat pengeboman, di samping akses bantuan kemanusiaan yang masuk masih sangat minim. Padahal, Gaza saat ini sedang berada dalam masa gencatan senjata, yang seharusnya memungkinkan bantuan kemanusiaan kembali masuk.
Bantuan kemanusiaan yang dibatasi
Gencatan senjata yang dimulai sejak 9 Oktober 2025 ini telah memasuki fase kedua sejak tanggal 16 Januari 2026. Menariknya, pembukaan gerbang Rafah-Mesir sebagai jalur bantuan kemanusiaan masuk seharusnya dilakukan di fase pertama setelah pertukaran tawanan Palestina dan Israel selesai. Fakta di lapangan menunjukkan, pada fase pertama ini bantuan kemanusiaan hanya bisa masuk melalui jalur Israel dan dalam jumlah terbatas.
Bersumber dari Kantor Media Pemerintah Gaza, sejak tanggal 10 Oktober 2025 hingga 9 Januari 2026, hanya 23.019 truk yang memasuki Gaza dari total 54.000 truk, dengan rata-rata 255 truk per hari. Jumlah tersebut hanya 43 persen dari jumlah truk yang seharusnya diizinkan masuk.
Dilansir dari Al Jazeera, Israel pun telah memblokir barang-barang makanan penting dan bergizi, termasuk daging, produk susu, dan sayuran. Sebagai gantinya, makanan yang diizinkan adalah makanan yang tidak bergizi, seperti camilan, cokelat, keripik, dan minuman ringan.
Selain itu, Israel telah melarang lebih dari 36 organisasi internasional, termasuk Doctors Without Borders, Oxfam, Norwegian Refugee Council, CARE International, International Rescue Committee dan beberapa lembaga kemanusiaan lainnya untuk beroperasi di Gaza. Hal ini jelas semakin memperburuk kondisi yang sudah mengerikan bagi warga Palestina.
Fase pertama gencatan senjata yang belum tuntas
Alih-alih merampungkan seluruh kesepakatan pada fase pertama, Trump justru mengumumkan fase kedua pada tanggal 16 Januari 2026 saat fase pertama bahkan belum tuntas. Fase kedua ini berfokus pada tata kelola Gaza jangka panjang serta pembentukan National Committee for the Administration of Gaza (NCAG) dan International Stabilization Force (ISF) yang secara struktur berada di bawah Board of Peace.
Ironis. Di saat fase pertama masih belum sempurna, Gerbang Rafah-Mesir belum dibuka dan akses bantuan masih sangat terbatas, Trump justru tidak peduli dan bersikeras menyatakan bahwa gencatan senjata ini harus dilanjutkan.
Ditambah secara regulasi Israel telah mengkhianati kesepakatan dengan dilancarkannya serangan ke Gaza pada masa gencatan senjata. Bahkan, per enam hari dalam rentang tanggal 10-16 Februari 2026 kemarin, jumlah korban jiwa di Gaza menembus angka 72.067 jiwa.
Seolah buta dan tuli, dunia pun turut bungkam. Isu Palestina semakin meredup, sementara warganya masih berjuang bertahan. Ancaman kelaparan dan kematian mengintai dari hari ke hari. Puasa di Gaza tak dimulai sejak Ramadan datang, mereka bahkan telah terbiasa tidak makan jauh sebelum itu.
Krisis pangan yang diprediksi IPC, atau bahkan yang lebih buruk dari itu, tampaknya akan terjadi jika gerbang Rafah-Mesir tak kunjung dibuka dan bantuan kemanusiaan tak bisa sepenuhnya masuk ke Gaza.
(miq/miq)
Addsource on Google

2 hours ago
1

















































